Informasi
ADVERTISEMENT

Piring terbang, istilah di hajatan Solo yang masih membingungkan bagi orang luar

Piring terbang, istilah di hajatan Jawa Tengah yang masih membingungkan bagi orang luar Mojok.co

Mendengar istilah piring terbang saat hajatan, apa yang terbayang di benak kalian? Piring yang dilempar di acara hajatan? Atau UFO mendarat di tengah acara? Asal tahu saja, piring terbang ternyata cuma istilah untuk cara menyajikan makanan di hajatan Solo dan beberapa daerah di Jawa Tengah.

Konsep hajatan piring terbang berarti tamu nggak perlu berdiri dan mengambil makanan sendiri. Mereka tinggal duduk di tempat, ngobrol dengan orang sebelah, tahu-tahu ada orang membawa baki berisi makanan yang datang ke meja. 

Cara seperti di atas berbeda dengan hajatan yang memakai sistem prasmanan yang populer di luar Jawa Tengah. Tidak heran, masih banyak orang yang asing dengan konsep hajatan piring terbang. 

Konsep hajatan piring terbang, makanan datang satu per satu

Piring terbang bukan berarti semua makanan langsung ditaruh di meja. Justru yang menarik adalah makanan datang secara bergantian, mulai dari minuman sampai hidangan penutup.

Biasanya ada pramusaji atau sinom yang membawa baki. Mereka akan berkeliling dari satu meja ke meja lain untuk membagikan makanan kepada para tamu. Jadi, tamu tinggal duduk sambil menunggu hidangan berikutnya datang.

Minuman biasanya datang lebih dulu. Setelah itu baru makanan lain menyusul. Cara makan seperti ini sudah cukup lama dikenal dalam hajatan di wilayah Solo dan sekitarnya, sekaligus menjadi salah satu cara untuk menjamu tamu yang sudah datang.

Ada urutan makanannya

Yang bikin piring terbang makin menarik, hidangannya ternyata nggak asal keluar. Ada urutan yang dikenal dengan istilah USDEK, yaitu Unjukan, Sup, Dhaharan, Es, dan Kondur.

Bagian pertama biasanya teh manis hangat. Teh ini bisa ditemani makanan kecil seperti bolu, risol, kroket, atau kacang goreng. Setelah itu baru ada sup, yang salah satunya sering berupa sop manten.

Kalau sup sudah selesai, giliran makanan utama alias dhaharan. Biasanya berupa nasi lengkap dengan lauk dan beberapa pelengkap. Setelah makanan utama selesai, masih ada hidangan penutup berupa es.

Nah, kalau es sudah datang, biasanya acara makan sudah mendekati akhir. Setelah itu tamu bisa bersiap untuk kondur alias pulang.

Itu mengapa, datang terlat ke hajatan dengan konsep piring terbang memungkinkan tamu tidak dapat makanan. Misalnya, baru datang ketika makanan utama sudah dibagikan, jangan heran kalau teh dan makanan kecil yang tadi sudah lewat nggak ikut diberikan lagi. Jadi, kalau dapat undangan hajatan dengan konsep piring terbang, datang sesuai waktu acara ternyata cukup penting.

Selain supaya nggak ketinggalan makanan, hidangan memang disajikan bertahap agar bisa disantap dalam keadaan masih hangat. Jadi bukan karena yang punya acara sengaja mengeluarkan makanan sedikit-sedikit.

Kok bisa disebut piring terbang?

Dipikir-pikir, nama piring terbang memang cukup unik. Coba bayangkan satu acara hajatan dengan banyak meja. Dari dapur, para sinom keluar membawa baki berisi makanan, lalu berkeliling membagikannya ke tamu. Setelah selesai, mereka kembali lagi untuk mengambil hidangan berikutnya.

Kalau dilihat dari jauh, orang-orang yang membawa makanan itu memang seperti terus bergerak ke sana kemari. Dari situlah istilah piring terbang terasa cocok untuk menggambarkan cara penyajian tersebut. Tradisi ini lekat dengan hajatan gaya Solo dan kemudian dikenal juga di daerah-daerah sekitarnya. 

Sekarang memang banyak hajatan yang memilih konsep prasmanan. Tamu bebas mengambil makanan sendiri, mau nasi banyak atau sedikit tinggal menyesuaikan. Konsep seperti ini memang terasa lebih praktis dan sudah biasa ditemui di berbagai acara.

Meski begitu, piring terbang belum benar-benar ditinggalkan. Di beberapa hajatan Jawa Tengah, terutama wilayah Solo dan sekitarnya, cara menjamu seperti ini masih bisa ditemukan dan bahkan masih menjadi pilihan untuk acara pernikahan.

Buat orang yang sudah terbiasa, mungkin piring terbang bukan sesuatu yang aneh. Tapi buat yang baru pertama kali melihatnya, tradisi ini lumayan menarik. Ada sensasi menunggu makanan datang satu per satu, dari teh, makanan utama, sampai akhirnya es yang jadi tanda kalau acara sudah hampir selesai.

Penulis: Clarisa Selen Salsa Fadila
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Clarisa Selen Salsa Fadila

Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surakarta.