Dibanding Semarang, nama Demak memang kalah populer. Semarang lebih sering muncul dalam berbagai pembahasan. Baik pembahasan soal kuliner, perjalanan, pendidikan, dan banyak hal lain. Wajar saja, Kota Atlas adalah daerah Ibu Kota Jawa Tengah.
Popularitas Kota Atlas menjadi bayang-bayang yang tidak ada habisnya bagi warga lokal (warlok) Demak. Terlebih banyak orang tahu Demak sebatas nama daerah, ketika ditanya soal lokasi pasti atau keunikannya, orang-orang masih belum tahu.
Itu mengapa, warlok kerap meminjam nama “Semarang” ketika menjelaskan daerah asal. Misal, ketika menjelaskan lokasi daerah ini, warga lebih senang menjelaskannya dengan kata “Semarang Timur”. Biasanya lawan bicara langsung paham.
Entah mengapa, daripada panjang lebar menjelaskan Demak berada di dekat Semarang di mana harus melewati jalan ini-itu untuk mencapainya, saya lebih senang menjawab singkat.
Ini bukan berarti Demak ingin menjadi Semarang ya. Saya mengatakan itu agar lebih cepat dan mudah saja.
Demak juga punya identitas
Menyebut Demak sebagai Semarang Timur ternyata memang memudahkan ketika berkenalan dengan orang baru. Sebab, setelah dijawab seperti itu, lawan bicara langsung punya gambaran. Mereka tidak lagi mengira-ngira lokasi daerahnya. Lucunya, bagi orang Demak, penggunaan sebutan ini bisa menjadi situasi yang cukup familiar.
Jujur, cara ini memang memudahkan. Namun, rasa-rasanya kurang tepat kalau terus menerus “nebeng” dengan popularitas daerah tetangga. Sebab, daerah ini sebenarnya punya identitas dan sejarah yang tidak kalah panjang dan unik dibanding Semarang.
Demak dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu pusat penting perkembangan Islam di Jawa. Kesultanan Demak juga menjadi bagian penting dalam sejarah Jawa, sehingga nama daerah ini sebenarnya memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar lokasi yang berada di sebelah Semarang.
Selain sejarah, Demak juga memiliki berbagai tradisi, kuliner, tempat wisata, serta kehidupan masyarakat yang menjadi ciri khasnya. Artinya, Demak tidak perlu menjadi bagian dari nama daerah lain untuk memiliki identitas.
Berharap tidak terjebak sebagai Semarang Timur
Kalau digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk membantu orang memahami lokasi, istilah “Semarang Timur” mungkin terasa praktis. Namun, secara administratif, Demak tetap merupakan daerah sendiri dan bukan bagian dari Kota Atlas.
Fenomena ini justru menarik karena menunjukkan bagaimana masyarakat menggunakan cara sederhana untuk memperkenalkan tempat tinggalnya. Ketika sebuah daerah belum terlalu dikenal, nama daerah yang lebih populer di sekitarnya sering dijadikan patokan.
Jadi, kalau suatu hari ada yang bertanya, “Demak itu di mana?” mungkin tidak perlu bingung menjawabnya. Bisa saja jawab dengan santai, “Dekat Semarang. Tapi bukan Semarang, ya.”
Karena pada akhirnya, Demak tidak harus menjadi “Semarang Timur” agar dikenal. Daerah ini punya nama sendiri, punya cerita sendiri, dan mungkin sudah waktunya lebih banyak orang mengenalnya.
Penulis: Meinar Nur Rahmawati
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 ide bisnis yang punya pasar di Semarang, tapi masih jarang dilirik orang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.