Banyak tempat masuk kandidat tempat slow living sekaligus menua terbaik. Bagi saya pribadi, tempat itu adalah Slawi
Sebelum resmi menikah, saya dan istri sudah beberapa kali membicarakan hal-hal krusial yang kelak akan menentukan arah kehidupan kami. Salah satunya adalah soal tempat tinggal yang kami pilih ketika usia mulai menua.
Bagi sebagian orang, pembicaraan semacam ini mungkin terasa terlalu jauh. Toh, hidup masih berjalan, kebutuhan terus berubah, dan tidak semua yang direncanakan akan berakhir sesuai harapan.
Namun, bagi kami, membicarakan keputusan-keputusan kecil ini bukan berarti merasa mampu mengendalikan seluruh kehidupan. Setidaknya, kami sedang berusaha menyepakati seperti apa kehidupan yang ingin dibangun bersama. Termasuk tempat untuk pulang ketika pekerjaan tidak lagi menjadi pusat dari segala-galanya.
Tentu saja, keinginan tersebut masih perlu dipertimbangkan dengan kalkulasi yang masuk akal: antara keuntungan (profit) dan kerugian (loss), antara kenyamanan dan kemampuan finansial.
Adapun salah satu tempat yang beberapa kali muncul dalam percakapan kami adalah Slawi. Yah, kabupaten yang sering masuk rekomendasi istri saya adalah kabupaten produsen teh poci. Saya rasa pilihan istri saya ini bukan semata-mata karena ia merupakan pribumi di sana. Melainkan karena ada alasan lain yang membuatnya menganggap Slawi sebagai pilihan yang nyaris paripurna untuk menjalani slow living dengan paripurna.
Slawi tidak terlalu sepi, tetapi juga tidak bikin penat
Salah satu alasan istri saya begitu yakin dengan Slawi adalah karena daerah ini menurutnya berada di titik yang pas: tidak terlalu sepi, tetapi juga tidak bikin penat. Saya cukup memahami maksudnya karena saya lahir di Blora, daerah yang bagi saya punya ketenangan tersendiri, tetapi pilihan hiburannya memang tidak bisa dibilang melimpah.
Bukan berarti Blora membosankan. Justru saya punya banyak kenangan di sana. Hanya saja, ada kalanya kita ingin mencari suasana lain tanpa harus keluar kota terlalu jauh. Masalahnya jika tinggal di Blora, pilihan kadang bukan soal mau pergi ke mana, tetapi mau pergi ke tempat yang itu lagi atau yang itu lagi. Nah, istri saya rupanya tidak ingin kehidupan masa tua nanti berada dalam situasi semacam itu.
Slawi menurutnya menawarkan jalan tengah. Kehidupan tidak terlalu ramai seperti kota besar, tetapi juga tidak sampai membuat pilihan hiburan terasa seperti barang langka. Saya kira ini alasan pertama yang membuatnya nyaman membayangkan Slawi sebagai tempat slow living.
Pilihan wisata alam dan buatan yang bertebaran
Alasan kedua yang membuat Slawi semakin menarik bagi istri saya justru bukan sekadar soal ada atau tidaknya tempat hiburan. Tetapi jenis tempat yang bisa didatangi ketika ingin mengganti suasana.
Dari Slawi, kami bisa membayangkan pagi-pagi sesekali mencari udara pegunungan, sementara pada kesempatan lain tinggal mengarahkan kendaraan ke kawasan pantai. Jadi, kalau suatu hari bosan melihat pemandangan yang itu-itu saja, setidaknya ada pilihan untuk menggantinya tanpa harus merencanakan perjalanan antarkota yang melelahkan.
Menariknya, pilihan tersebut tidak hanya berasal dari alam. Ruang publik seperti Alun-Alun Slawi yang sudah diremajakan dan kerap ramai juga bisa menjadi tempat sederhana untuk menikmati sore.
Kalau pun sedang ingin suasana yang lebih “modern”, pusat perbelanjaan dan berbagai fasilitas komersial juga tersedia. Jadi, dari mencari udara pegunungan sampai sekadar keliling melihat-lihat barang dagangan yang sebenarnya belum tentu dibeli, semuanya masih bisa masuk dalam agenda rutinitas bulanan.
Buat saya, bagian ini cukup masuk akal dalam bayangan slow living istri saya. Bukan karena kami kelak bisa rajin berwisata. Melainkan karena kami punya keleluasaan untuk menentukan ingin menikmati hari dengan cara seperti apa.
Slawi punya kenangan indah yang ingin selalu diulang
Pada akhirnya saya sadar mengapa istri saya selalu memasukkan Slawi dalam daftar tempat tinggal impian. Tak lain karena ada kenangan yang membuatnya merasa dekat dengan daerah tersebut.
Saya mengetahuinya dari cerita-cerita kecil yang sesekali ia sampaikan: tempat yang pernah didatangi, makanan yang pernah dimakan, sampai kebiasaan sederhana yang rupanya masih ia ingat. Bagi saya mungkin hal-hal yang disampaikan terkesan biasa saja atau umume warlok lah ya. Tetapi bagi dia, Slawi tetap punya cerita yang tidak ditemukan di tempat lain.
Saya sendiri cukup memahami perasaan itu. Setelah lama meninggalkan Blora, saya pun jadi tahu bahwa sebuah daerah bisa terasa istimewa bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan karena apa yang pernah kita alami di dalamnya. Mungkin itu pula yang membuat istri saya ingin kembali ke Slawi. Bukan sekadar untuk tinggal, tetapi juga untuk mengulang beberapa hal sederhana yang pernah membuatnya bahagia.
Entah nanti benar-benar terwujud atau tidak, saya kira keinginan tersebut masih cukup masuk akal. Sebab, ketika usia mulai bertambah, mungkin yang kita cari bukan lagi sesuatu yang serba baru dan mewah. Tapi kadang kita hanya ingin kembali ke tempat yang pernah membuat hidup terasa menyenangkan—dengan orang yang sekarang kita cintai.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Slawi, Kota Teh yang Tidak Punya Kebun Teh
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.