Terima kasih BPJS Kesehatan, saya bisa operasi amandel gratis … tis …tis.
Di usia 26 tahun saya akhirnya menjalani operasi amandel. Riwayat amandel sebenarnya sudah saya miliki sejak kecil, tetapi beberapa waktu terakhir keluhannya semakin sering muncul. Demam berulang, sulit menelan, hingga tidur pun ikut terganggu. Rupanya, masalah masa kecil memang kadang tidak tahu diri dan tetap bertahan sampai kita dewasa.
Setelah cukup lama membiarkan keluhan itu datang dan pergi, saya akhirnya memeriksakan diri ke dokter. Dari pemeriksaan tersebut, saya mendapat rujukan untuk menjalani operasi. Singkat cerita, amandel yang selama puluhan tahun numpang hidup di tenggorokan saya itu akhirnya harus angkat kaki.
Seluruh prosesnya saya jalani menggunakan BPJS Kesehatan. Selama ini saya memang rutin membayar iurannya setiap bulan, tetapi sebatas menjalankan kewajiban sebagai peserta. Baru ketika harus menjalani tindakan medis, saya benar-benar merasakan sendiri bagaimana kepesertaan yang selama ini hanya terasa sebagai pengeluaran rutin itu digunakan.
Kalau operasi harus bayar sendiri, mungkin saya sudah pusing duluan
Menjelang operasi, saya sempat bertanya kepada petugas BPJS Kesehatan di rumah sakit mengenai biaya yang harus dikeluarkan jika tindakan tersebut dilakukan secara mandiri. Sekadar penasaran, sekaligus ingin tahu seberapa mahal sebenarnya urusan mengeluarkan dua benda kecil yang selama ini betah tinggal di tenggorokan saya.
Menurut informasi yang saya terima, biaya operasi amandel secara mandiri berkisar Rp7 juta sampai Rp10 juta. Angka itu tentu bukan tagihan yang saya terima, melainkan kisaran yang disampaikan petugas ketika saya menanyakan biaya operasi secara mandiri. Mendengarnya saja sudah cukup membuat saya membayangkan bagaimana kalau uang sebesar itu ujug-ujug harus keluar dari rekening sendiri.
Saya tentu merasa cukup beruntung tidak perlu memikirkan hitungan tersebut. Dalam kondisi sedang sakit, rasanya sudah cukup repot mengurus badan sendiri. Kalau harus ditambah memikirkan biaya operasi jutaan rupiah, mungkin proses pemulihannya bukan cuma tenggorokan yang perlu waktu. Dompet juga barangkali ikut masuk ruang pemulihan, hehehe.
Penyesalan turun kelas BPJS Kesehatan baru terasa saat harus operasi
Ada satu keputusan yang sempat saya sesali ketika menjalani operasi ini: saya sempat memutuskan untuk turun kelas BPJS Kesehatan. Saya kadung memilih kelas 3 dengan iuran bulanan yang tidak sampai Rp50.000. Ketika sehat, keputusan itu memang terasa masuk akal. Toh, memang jarang sakit dan merasa tidak ada gunanya membayar lebih untuk sesuatu yang hampir tidak pernah saya gunakan.
Akan tetapi, pemikiran itu berubah ketika saya harus menjalani rawat inap. Pilihan kelas yang selama ini hanya terlihat sebagai angka di kepesertaan tiba-tiba menjadi sesuatu yang saya rasakan sendiri. Sempat terlintas pikiran, “kenapa dulu saya turun kelas?” Barangkali memang manusia punya bakat untuk menyesali keputusan setelah tahu rasanya berada di pilihan yang lain.
Meski begitu, setelah melakoni operasi saya tidak merasa pilihan tersebut menjadi persoalan besar. Saya tetap bisa menjalani proses pengobatan dan operasi dengan baik.
Kesehatan bukan cuma urusan orang berduit
Berkat BPJS Kesehatan, sekarang amandel saya sudah hilang. Tinggal menjalani pemulihan dan menunggu tenggorokan kembali nyaman untuk menelan. Namun, dari pengalaman sederhana ini saya jadi melihat bahwa urusan kesehatan ternyata bukan semata-mata soal kemampuan seseorang membayar.
Bagi orang biasa seperti saya, biaya operasi jutaan rupiah tentu bukan angka yang ringan. Karena itu, keberadaan jaminan kesehatan menjadi salah satu jalan keluar agar masyarakat tetap bisa mengakses layanan medis tanpa harus menjadikan isi rekening sebagai penentu utama untuk berobat.
Tentu masih banyak yang perlu dibenahi dalam pelayanan kesehatan kita saat ini. Tetapi setidaknya, pengalaman saya menunjukkan satu hal, negara masih peduli untuk memastikan bahwa ketika rakyat jatuh sakit, mereka tidak ikut jatuh miskin hanya karena kewalahan menanggung biaya berobat.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.