Informasi
ADVERTISEMENT

Blora, daerah biasa saja yang berhasil bikin saya kangen tiap merantau

Blora, daerah biasa saja yang berhasil bikin saya kangen tiap merantau Mojok.co

Blora adalah tanah kelahiran saya. Setidaknya fakta itu sudah terkunci rapat di kolom KTP dan tak bisa diganggu gugat. Fakta itu pula yang melekat pada saya selama kurang lebih 10 tahun merantau dari Blora. 

Keputusan merantau berawal dari niat berkuliah sampai akhirnya ketagihan mencari sesuap nasi di kota orang. Dari perjalanan panjang itu, saya baru sadar, merantau ternyata bukan cuma urusan bertahan hidup. Merantau juga proses menyadari bahwa ada banyak hal di kampung halaman yang tak pernah bisa digantikan oleh tempat mana pun.

Harus diakui, Blora bukan daerah yang sering masuk radar obrolan pop. Tanpa pabrik-pabrik raksasa, absen dari jalur Pantura maupun tol, dan sejak awal memang bukan destinasi utama orang-orang untuk menggantungkan nasib.

Akan tetapi, makin lama merantau, makin saya paham kalau rasa rindu itu tak ada hubungannya dengan seberapa megah atau terkemukanya sebuah daerah. Rindu kerap kali menyusup lewat hal-hal kecil yang dulu kita anggap remeh, tapi mendadak bernilai tinggi saat jarak memisahkannya.

Blora yang sunyi justru jadi kemewahan tersendiri

Blora adalah kabupaten yang tak pernah tampak ngotot untuk jadi kabupaten ala metropolitan yang bising dan penuh sesak.

Catatan BPS soal kepadatan penduduknya juga hanya menunjukan sekitar 461 jiwa per kilometer persegi, terendah di Jawa Tengah. Di banyak ruas jalan, terutama begitu malam merayap, suasananya bisa langsung senyap. Kendaraan yang lewat bisa dihitung jari, pusat keramaian tidak menjamur, dan tempo kehidupan warga mereda dengan sangat cepat.

Dulu, saya sering mengutuk sepi ini sebagai sesuatu yang membosankan. Tapi, pandangan itu runtuh setelah bertahun-tahun dihajar kehidupan kota. Saat tiap hari harus berteman dengan kemacetan, deru mesin, dan bisingnya proyek yang tak kenal waktu, kesunyian Blora yang dulu saya benci justru bermutasi jadi kemewahan tersendiri.

Sepiring pecel Blora yang sulit ditandingi

Setiap daerah tentu punya cara sendiri untuk menyapa paginya. Di Blora, pecel adalah salam pembuka yang sulit untuk ditolak.

Formulasinya sederhana, nasi hangat, sayuran, siraman sambal kacang, rempeyek, plus deretan lauk pendamping seperti tempe goreng, ote-ote, hingga telur. Makanan yang jujur, mengenyangkan, dan ramah di kantong.

Karena sudah jadi bagian dari rutinitas harian sebelum berangkat sekolah atau kerja, dulu saya tidak pernah menganggap pecel ini spesial. Sampai akhirnya saya mencoba membeli pecel di perantauan.

Secara komposisi mungkin sama saja, ada sayur, ada bumbu kacang. Namun, soal rasa, ternyata tidak bisa dibohongi. Ada jejak rasa khas dan racikan karakter lokal yang tak bakal bisa ditiru oleh resep mana pun di luar Blora.

Langganan dapat ambeng hampir tiap malam

Suasana bertetangga di kampung menyimpan kehangatan yang makin langka ditemui di kota. Salah satunya adalah tradisi saling berbagi makanan lewat ambeng atau berkatan.

Acara seperti syukuran, tahlilan, hingga hajatan adalah urat nadi kehidupan sosial warga Blora. Seusai acara, berkat berupa nasi dan lauk pauk akan dibagikan ke rumah-rumah tetangga.

Isinya tentu bukan hidangan mewah, melainkan masakan rumahan yang disesuaikan dengan kemampuan sang pemilik hajat. Namun, poin utamanya bukan pada apa yang ada di dalam bungkusannya, melainkan pada jalinan silaturahmi yang merawatnya.

Hiburan kesenian gratisan di tiap sudut desa

Blora punya cara yang terbilang unik dalam menghibur warganya. Hiburan tidak harus didapatkan dengan masuk ke gedung pertunjukan komersial, melainkan lahir langsung dari hajatan warga.

Selalu ada tetangga yang menanggap barongan saat syukuran, pertunjukan tayub, tradisi manganan, hingga berbagai pesta rakyat desa yang mengundang kesenian tradisional. Warga tinggal datang dan menonton tanpa perlu memikirkan tiket masuk.

Bahkan, pengumumannya pun tak perlu baliho atau unggahan media sosial. Cukup dengarkan gema suara gamelan dari kejauhan. Lalu, cari tahu siapa yang sedang punya hajat.

Seni di Blora tidak berjarak dari masyarakatnya. Ia melebur dalam perayaan dan menjadi ruang kumpul bersama. Kalau di kota kita harus aktif mencari hiburan, di Blora hiburan itu hadir sendiri sebagai bonus dari kehidupan bermasyarakat.

Menyusuri jalan yang dianugerahi hutan jati

Bagi warga Blora, naik sepeda motor untuk menuju satu lokasi tujuan sama artinya dengan aktivitas membelah kawasan hutan jati. Pemandangannya konsisten: deretan pohon tinggi di kiri-kanan, diselingi sedikit permukiman, lalu kembali disambut rindangnya hutan.

Dengan luas hutan produksi yang mencapai lebih dari 90 ribu hektare, keberadaan pohon-pohon jati ini bukan sekadar pemandangan, melainkan identitas visual yang melekat pada Blora.

Dulu, saya tidak begitu menghiraukan jalanan penuh deretan jati ini secara seksama. Hutan saya anggap cuma lintasan biasa yang harus dilewati untuk sampai ke tujuan. Namun, setelah terbiasa melihat lautan beton di kota, lintasan hijau yang sepi dan teduh itu mendadak jadi momen meditasi yang amat saya rindukan.

Pada akhirnya, rasa rindu pada Blora memang jarang dipicu oleh hal-hal yang megah. Rindu itu justru sering bersembunyi di jalanan yang lengang, racikan sepiring pecel, bungkusan berkat dari tetangga, alunan gamelan barongan dari kejauhan, atau ampo dan deretan pohon jati yang menyapa di sepanjang jalan.

 Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 3 Fakta Menarik tentang Blora yang Jarang Orang Bicarakan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 September 2026 oleh .

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.