Saat bepergian, saya lebih memilih salat di musala SPBU ketimbang masjid. Bagi sebagian orang, pernyataan ini mungkin terdengar aneh. Namun, bagi saya, itu pilihan paling aman.
Pilihan ini bukan karena saya tidak suka masjid ya. Bukan pula karena saya ogah untuk salat berjamaah. Saya hanya merasa musala SPBU sering kali lebih praktis untuk kebutuhan seorang musafir. Apalagi kalau perjalanan sudah jauh dan badan mulai tidak nyaman.
Di bawah ini empat alasan yang membuat salat di musala SPBU jadi pilihan masuk akal dibanding masjid.
#1 Toilet SPBU bersih dan tidak membuat waswas
Hal pertama yang saya cari ketika berhenti di perjalanan sebenarnya bukan hanya tempat salat, tapi juga toilet.
Maklum, setelah berjam-jam duduk di kendaraan, kebutuhan buang air kecil atau besar kadang lebih mendesak daripada kebutuhan mencari tempat ibadah. Dan, setelah dari toilet, tentu saya ingin berwudu dengan nyaman.
Masalahnya, toilet di masjid tidak selalu dalam kondisi yang menyenangkan.
Saya beberapa kali menjumpai toilet masjid yang bau, lantainya licin, krannya rusak, airnya macet, atau kondisinya kurang terawat. Ada pula toilet yang membuat saya harus berhati-hati agar pakaian tidak terkena cipratan air entah dari mana. Belum lagi kalau ternyata toiletnya malah dikunci, sengaja agar pengunjung tidak bisa menggunakannya.
Sebaliknya, toilet SPBU biasanya dirancang untuk orang yang memang sedang bepergian. Bersih, airnya tersedia, dan relatif terawat.
Jadi, kalau saya menemukan SPBU yang toiletnya bersih sekaligus memiliki musala, rasanya seperti menemukan paket lengkap: buang hajat bisa, wudu bisa, salat juga bisa.
#2 Salat tenang, sandal juga aman
Ada keuntungan lain yang mungkin terdengar remeh, sandal.
Saya beberapa kali kehilangan sandal ketika salat di masjid. Entah tertukar, entah benar-benar dibawa orang lain, saya tidak tahu. Yang jelas, ketika keluar dari masjid, sandal yang tadi saya taruh sudah tidak ada.
Mungkin karena masjid ramai. Sandal yang jumlahnya puluhan atau bahkan ratusan membuat semuanya tampak seperti keluarga besar yang sulit dibedakan.
Di musala SPBU, masalah seperti ini hampir tidak pernah saya alami.
Biasanya musalanya relatif sepi. Sandal saya masih berada di tempat semula setelah salat. Tidak ada drama mencari sandal sambil berjalan tanpa alas kaki ke tempat parkir.
#3 Saya tidak perlu disuruh-suruh salat berjamaah
Ada pengalaman lain yang membuat saya lebih nyaman salat di musala SPBU.
Pernah suatu kali saya hendak salat di masjid, lalu ada pengurus atau takmir yang menyuruh saya ikut berjamaah dengan jamaah lain yang kebetulan ada di sana.
Saya memahami maksudnya baik. Mungkin beliau ingin saya mendapatkan pahala salat berjamaah karena memang salat berjamaah memiliki keutamaan.
Masalahnya, beliau tidak tahu bahwa saya sedang salat jamak qashar, sementara jamaah lain sedang salat sebagaimana biasanya.
Akhirnya, sesuatu yang seharusnya sederhana menjadi sedikit rumit. Apalagi si pengurus masjid tadi memasang muka galak dan merasa benar dengan menyuruh orang untuk salat berjamaah.
Di musala SPBU, saya tidak mengalami hal seperti itu. Tidak ada yang bertanya saya mau salat apa, mengapa tidak ikut jamaah, atau mengapa gerakan salat saya berbeda.
Saya bisa beribadah sesuai kondisi perjalanan saya tanpa perlu menjelaskan keadaan kepada siapa pun.
#4 Musala SPBU tidak pernah menyuruh saya cepat pulang
Pengalaman yang paling membuat saya memilih musala SPBU adalah ketika suatu kali saya hendak salat di masjid, tetapi pintunya terkunci. Saya hanya bisa berdiri di depan masjid sambil bertanya-tanya, mengapa tempat ibadah justru tidak bisa digunakan ketika saya membutuhkannya.
Pernah juga setelah salat saya duduk sebentar untuk beristirahat karena perjalanan masih panjang. Tidak lama kemudian, saya diminta keluar karena masjid akan dikunci. Saya merasa mau diusir.
Iya, saya memahami bahwa masjid tentu memiliki aturan dan pengurus punya tanggung jawab menjaga keamanan. Saya juga tidak tahu alasan persis masjid tersebut dikunci. Namun, sebagai musafir, pengalaman itu tetap meninggalkan kesan.
Sementara itu, musala SPBU biasanya terbuka selama SPBU masih beroperasi. Saya bisa berhenti, membersihkan diri, salat, duduk sebentar, lalu melanjutkan perjalanan. Itu semua bisa saya lakukan tanpa diburu-buru.
Alasan kepraktisan
Sejatinya, saya tidak sedang mengatakan bahwa musala SPBU lebih mulia daripada masjid. Sama sekali bukan itu persoalannya. Saya hanya merasa bahwa ketika bepergian, saya membutuhkan tempat ibadah yang praktis, terbuka, bersih, dan membuat saya merasa diterima sebagai musafir.
Karena, bagi saya, tempat ibadah yang baik bukan hanya tempat yang memungkinkan seseorang menunaikan salat. Ia juga seharusnya membuat orang yang sedang dalam perjalanan merasa bahwa ia boleh berhenti sejenak, beribadah, beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan dengan tenang.
Dan, entah mengapa, untuk urusan sederhana seperti itu, saya justru lebih sering mendapatkannya di musala SPBU. Ya, tidak semua masjid seperti masjid-masjid yang viral itu, semacam Jogokariyan, Suciyati Saliman, dan sejenisnya.
Penulis: Supriyadi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













