Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Riko Prihandoyo oleh Riko Prihandoyo
7 Agustus 2026
A A
Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini, rasanya cukup sulit berkendara di Jogja tanpa bertemu spanduk perumahan baru. Dari Kalasan sampai Godean, dari dari jalan utama sampai jalan yang awalnya hanya cukup dilewati dua sepeda motor saja, selalu ada papan bertuliskan cluster terbaru, hunian modern, atau booking fee mulai sekian juta. Lahan yang beberapa tahun lalu masih berupa sawah perlahan berubah menjadi deretan rumah dengan pagar seragam dan nama perumahan yang terdengar mewah.

Sebagai orang yang bekerja di Jogja, saya seharusnya ikut senang. Artinya kota ini terus berkembang. Kebutuhan tempat tinggal meningkat, ekonomi bergerak, dan banyak orang melihat Jogja sebagai kota yang layak dijadikan tempat menetap.

Namun, setiap melihat spanduk-spanduk itu, selalu muncul satu pertanyaan sederhana di kepala saya. Perumahan di Jogja ini sebenarnya dibangun untuk siapa?

Pertanyaan itu muncul bukan karena saya anti pembangunan. Justru sebaliknya ya. Saya senang Jogja berkembang. Yang membuat saya penasaran adalah apakah orang-orang yang setiap hari bekerja di Jogja benar-benar menjadi calon pembeli rumah-rumah itu.

Gaji di Jogja tidak tinggi

Coba lihat kenyataannya. Banyak pekerja di Jogja menerima gaji yang tidak terlalu tinggi. Setelah kebutuhan sehari-hari, biaya kos, transportasi, listrik, dan kebutuhan lain dipenuhi, menyisihkan uang untuk uang muka rumah saja sudah menjadi pekerjaan yang tidak mudah terlalu nekat. Belum lagi ketika melihat harga rumah baru yang kini rata-rata sudah berada di kisaran ratusan juta rupiah, bahkan tidak sedikit yang menembus angka miliaran.

Di sisi lain, spanduk perumahan baru terus berdiri. Hampir semuanya menawarkan rumah impian. Ada yang menjual konsep smart home, ada yang mengusung nuansa tropis, ada pula yang menawarkan suasana tenang meski lokasinya tidak lagi benar-benar dekat dengan pusat kota.

Saya tidak sedang menyalahkan pengembang perumahan di Jogja. Mereka membangun karena ada pasar. Rumah tidak mungkin terus dibangun kalau tidak ada yang membeli. Artinya memang ada orang yang sanggup membayar dengan harga tersebut. Hanya saja, pembelinya belum tentu orang yang setiap pagi berangkat kerja di Jogja.

Ada orang yang membeli sebagai investasi. Juga, ada yang memang berasal dari luar daerah dan ingin menetap setelah pensiun. Ada pula yang menjadikan Jogja sebagai rumah kedua karena merasa kota ini lebih nyaman dibanding tempat asalnya. Semua itu sah-sah saja. Tidak ada yang salah dengan membeli rumah menggunakan uang sendiri.

Baca Juga:

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Yang membuat saya berpikir lagi justru posisi warga lokal di tengah kondisi seperti ini. Jangan-jangan orang yang setiap hari menghidupkan kota ini malah semakin sulit memiliki rumah di kota tempat mereka mencari nafkah dan rezeki.

Perumahan di Jogja dibangun di pinggiran

Buktinya mulai mudah ditemukan. Tidak sedikit pekerja yang akhirnya memilih tinggal di wilayah yang lebih jauh karena harga rumah masih lebih masuk akal. Ada yang membeli rumah di Kulon Progo, Purworejo, Klaten, Magelang dan yang lainnya lalu setiap hari menempuh perjalanan menuju Jogja untuk bekerja. Rumahnya berada di luar kota, tetapi penghasilannya tetap berasal dari Jogja.

Lama-kelamaan kondisi ini terasa janggal. Kota yang menjadi tempat bekerja semakin sulit menjadi tempat tinggal bagi sebagian pekerjanya sendiri.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menyalahkan pendatang. Bukan pula menuduh pengembang hanya mengejar keuntungan. Kota yang berkembang memang akan menarik banyak orang datang. Permintaan rumah ikut naik, harga tanah ikut bergerak, dan pasar berjalan sebagaimana mestinya.

Hanya saja, rasanya tidak berlebihan jika sesekali kita bertanya, apakah pembangunan perumahan di Jogja juga memikirkan orang-orang yang setiap hari menjaga roda kota ini tetap berputar? Guru, pegawai toko, buruh, karyawan kantor, tenaga kesehatan, pelayan restoran, hingga pekerja sektor informal yang penghasilannya jauh dari kata mewah. 

Saya berharap jawabannya masih “iya”. Sebab rumah bukan sekadar komoditas. Rumah adalah tempat seseorang pulang setelah seharian bekerja. Dan akan terasa menyedihkan kalau suatu hari nanti orang yang bekerja di Jogja hanya mampu memandang deretan perumahan baru dari kendaraan mereka sambil berkata dalam hati, “Bagus juga rumahnya, sayang saya tak sanggup membelinya.”

Ketika perumahan di Jogja terus bermunculan, sementara semakin banyak warga yang bekerja di Jogja merasa rumah di kotanya sendiri semakin sulit dijangkau, perumahan-perumahan itu sebenarnya sedang dibangun untuk siapa?

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Aku Si Rumah Kecil Seharga 150 Juta yang Selalu Diremehkan, Tapi Jadi Tempat Keluarga Muda Membangun Mimpi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2026 oleh

Tags: harga rumah di jogjaJogjaperumahan di jogjarumah di jogja
Riko Prihandoyo

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.

ArtikelTerkait

Buang Ekspektasi Jogja Kota Sejuk dan Asri. Cuacanya Lebih Panas daripada Surabaya dan Jakarta!

Buang Ekspektasi Jogja Kota Sejuk dan Asri. Cuacanya Lebih Panas daripada Surabaya dan Jakarta!

27 Februari 2024
Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul Mojok.co

Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul

11 Oktober 2025
3 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lumrah di Jogja

3 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lumrah di Jogja

17 September 2024
Kok Bisa Ada Warga Jogja Bangga sama Spot Foto ala Squid Game? Ra Isin?

Kok Bisa Ada Warga Jogja Bangga sama Spot Foto ala Squid Game? Ra Isin?

30 Oktober 2021
Suku Sunda Nggak Kuat Merantau Itu Anggapan Sesat (Unsplash)

Benarkah Orang Suku Sunda Nggak Punya Nyali untuk Merantau seperti Suku Lain?

28 Oktober 2023
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

Jogja Kota Pelajar Bukan Cuma Soal UGM, tapi Soal Standar Pendidikan dari SD yang Sudah Kompetitif

17 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.