Ada satu pelajaran yang baru saya pahami setelah mencabut gigi bungsu lewat dokter gigi koas: sesuatu yang gratis sering kali tetap punya harga. Pelajaran ini saya dapat saat mendapat kesempatan cabut gigi gratis, yang sering diadakan oleh dokter koas. Waktu itu saya merasa sudah menemukan jalan pintas. Operasi gratis, dilakukan di rumah sakit pendidikan, dan tetap diawasi dokter spesialis bedah mulut. Rasanya tidak ada alasan untuk menolak.
Belakangan saya sadar, yang benar-benar saya hemat memang hanya biaya operasinya. Selebihnya saya membayar dengan cuti kerja, jadwal yang berubah-ubah, dan kesabaran yang ternyata tidak murah.
Berawal dari sariawan
Semuanya bermula dari gusi yang sering sariawan. Saya kira penyebabnya makanan pedas atau kurang vitamin. Setelah diperiksa menggunakan BPJS, ternyata biang keroknya adalah dua gigi bungsu impaksi yang tumbuh miring. Posisi keduanya menyisakan celah yang menjadi tempat persembunyian sisa makanan. Mau sesabar apa pun menyikat gigi, selalu ada saja yang berhasil lolos.
Dokter menyarankan agar keduanya dicabut. Saya sempat menjalani rontgen, tetapi setelah melihat sendiri posisi giginya, nyali saya langsung ciut. Selama belum terlalu sakit, saya memilih menunda. Rasanya masih lebih sanggup membersihkan sela-sela gigi setiap habis makan daripada membayangkan gigi dibelah dan dijahit.
Keputusan itu bertahan hampir setahun. Yang berubah bukan rasa sakitnya, melainkan rasa repotnya. Hampir setiap makan selalu ada makanan yang tersangkut. Lama-kelamaan saya lebih sering sibuk membersihkan gigi daripada menikmati makanannya.
Awalnya saya berniat menjalani operasi lewat BPJS. Namun setelah mendengar antreannya bisa memakan waktu berminggu-minggu, saya mulai mencari alternatif. Seperti banyak keputusan hidup belakangan ini, jawabannya saya temukan di TikTok. Ada dokter koas yang sedang mencari pasien gigi bungsu impaksi.
Saat itulah saya tahu bahwa dokter koas memang harus menangani pasien sebagai bagian dari pendidikan mereka, tentu dengan pendampingan dokter spesialis. Saya mengirim hasil rontgen, lalu tidak lama kemudian mendapat kabar bahwa kasus saya bisa ditangani.
Di pikiran saya, semuanya sederhana. Tinggal datang, operasi, selesai. Tapi ya namanya angan-angan, ia kerap dikhianati kenyataan.
Rasanya menjadi pasien dokter koas
Setelah resmi menjadi pasien dokter koas saya memahami bahwa saya bukan hanya mengikuti jadwal rumah sakit, tetapi juga ikut masuk ke kalender akademik. Jadwal tindakan tidak hanya bergantung pada dokter koas, tetapi juga dokter spesialis yang membimbing mereka. Bagi saya yang bekerja kantoran, itu berarti beberapa kali harus mengambil cuti.
Operasi pertama sudah dijadwalkan. H-1 semuanya dipastikan berjalan sesuai rencana. Saya mengajukan cuti, bersiap, lalu datang ke rumah sakit. Pagi itu operasi dibatalkan karena dokter pembimbing berhalangan hadir. Saya masih memakluminya.
Seminggu kemudian jadwal baru diberikan. Saya kembali mengambil cuti. Kali ini operasi kembali batal karena dokter pembimbing harus menghadiri rapat.
Di situlah saya baru sadar, sebagai pasien dokter koas, saya ikut menjadi bagian dari sistem akademik. Kalau dosennya rapat, jadwal operasi saya ikut rapat. Kalau beliau mengajar, pasien pun ikut belajar bersabar.
Saya kira semua sudah selesai
Setelah dua kali batal, hari yang ditunggu akhirnya datang. Begitu masuk ruang operasi, perhatian saya langsung tertuju pada banyaknya alat yang tersusun di atas meja. Beberapa bentuknya lebih mengingatkan saya pada kotak perkakas daripada alat medis. Setelah wajah saya ditutup kain operasi, saya memutuskan berhenti menebak-nebak fungsinya. Ada pengetahuan yang memang lebih baik tidak dimiliki ketika sedang berbaring di meja operasi.
Yang melakukan tindakan adalah dokter koas, sementara dokter spesialis beberapa kali turun tangan ketika menemui bagian yang sulit. Operasi yang saya kira selesai dalam setengah jam ternyata berlangsung lebih dari dua jam. Mahkota gigi berhasil dibelah, tetapi salah satu akarnya tetap bertahan di dalam gusi.
Ketika dokter spesialis ikut membantu, saya sempat lega. Saya pikir perjuangan ini tinggal sebentar lagi. Ternyata beliau harus kembali mengajar, sementara akar gigi saya masih tertinggal. Luka operasi akhirnya dijahit kembali, bukan karena semuanya selesai, melainkan karena sisanya akan dilanjutkan minggu berikutnya. Saya pulang setelah operasi dua jam dengan akar gigi yang masih belum ikut pulang.
Seminggu kemudian saya kembali lagi. Jahitan dibuka, akar yang tertinggal akhirnya berhasil dikeluarkan, lalu gusi dijahit kembali. Barulah kali itu saya benar-benar selesai.
Tidak menyesal jadi pasien dokter koas
Apakah saya menyesal menjadi pasien dokter koas? Tidak. Selama proses berlangsung saya melihat mereka bekerja dengan teliti dan setiap tindakan tetap berada di bawah pengawasan dokter spesialis. Tanpa pasien, mereka juga tidak akan pernah belajar menghadapi kasus nyata.
Namun pengalaman itu membuat saya mengerti bahwa kata “gratis” hampir selalu memiliki catatan kaki. Saya memang tidak mengeluarkan biaya operasi, tetapi tetap harus membayarnya dengan cara lain: cuti kerja, jadwal yang berubah-ubah, dan kesabaran yang berkali-kali diuji. Memang, saat tindakan operasi saya bisa menggunakan surat keterangan dokter.
Masalahnya, proses menjadi pasien dokter koas tidak berhenti di hari operasi. Ada beberapa kali pemeriksaan sebelum dan sesudah tindakan yang tetap mengharuskan saya datang ke rumah sakit. Tidak mungkin setiap kali kontrol saya terus-menerus meminta izin meninggalkan pekerjaan. Pada akhirnya, beberapa hari cuti harus rela saya korbankan demi menyesuaikan diri dengan jadwal yang tidak selalu bisa dipastikan.
Kalau suatu hari nanti ada teman bertanya apakah saya merekomendasikan cabut gigi lewat dokter koas, saya akan menjawab, “Boleh saja kalau memang ingin menghemat biaya.” Hanya saja, jangan cuma siapkan mental untuk operasi. Siapkan juga jatah cutimu yang tidak seberapa itu ikut melayang. But hey, gratis kan?
Penulis: Ahmad Nasihin
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Tumbuh Gigi Bungsu akan Bikin Kamu Percaya kalau Soal Perbandingan Rasa Sakit, Meggi Z Itu Amatiran
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












