Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Jesi Arista Fikria oleh Jesi Arista Fikria
4 Agustus 2026
A A
Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, Media sosial dihebohkan oleh sebuah konten TikTok yang memperlihatkan seorang anak SD yang ditanya soal menu MBG yang ia inginkan. Alih-alih menjawab “ayam goreng” atau “susu kotak”, anak tersebut dengan mantap menjawab: “Mykonos Monaco Royal”.

Respon-respons yang tak sedap dipandang mendominasi kolom komentar. Anak tersebut jadi sasaran empuk cyberbullying. Para netizen menghujat habis-habisan, memperingatkan soal dosa konsumtif, hingga akhirnya video tersebut di takedown. Ironis sekali, niat hati ingin terlihat keren di depan kamera, konten tersebut malah salah sasaran dan berakhir menjadi jejak digital yang kejam untuk sang anak.

ADVERTISEMENT

Judgement netizen tidak berhenti di satu video itu saja. Hujatan-hujatan meluas ke video-video review parfum Mykonos lainnya.

Respons yang diberikan pada kolom komentarnya cukup beragam. Ada yang bikin plesetan nama parfum jadi kata-kata vulgar, ada yang mengkritik gaya bicara si bocah yang dianggap “sok dewasa” dan tidak tahan mendengarnya, hingga tuduhan FOMO.

Meskipun ada respons baik yang membela, mengatakan bahwa tren parfum tergolong positif sebagai bentuk awareness anak-anak terhadap bau matahari khas bocah habis main panas-panasan, hujatan-hujatan masih tetap dilayangkan. Banyak orang bersikap seolah-olah anak kecil yang menyukai parfum mahal adalah ancaman nyata bagi peradaban.

Akui saja kita dulu pernah FOMO, meski bukan barang kayak parfum Mykonos

Coba kita refleksi diri. Apa yang anak-anak Gen Alpha lakukan ini sebenarnya adalah pola klasik manusia: survival mode di pergaulan. Anak-anak mau dari zaman batu sampai zaman AI selalu punya kebutuhan mendasar untuk diterima di kelompok sebayanya (peer acceptance). Bedanya cuma ada di komoditas atau instrumennya saja. 

Kita yang tumbuh di era 90-an atau 2000-an pasti ingat betapa superiornya anak yang membawa album isi kartu Pokemon, binder isi kertas diary bergambar, Tamiya balap, atau sepatu yang tumitnya bisa menyala kalau diinjak. Yang nggak punya? Ya siap-siap aja jadi penonton di pojokan.

Prinsipnya sama persis dengan hype nya parfum Mykonos. Anak-anak itu cuma ingin bilang ke temannya, “Hei! Aku juga gaul! Aku paham/punya barang yang lagi ngetren!”

Baca Juga:

Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

Anak SD Zaman Sekarang Sudah Punya Skincare Routine Lengkap dan Tampilan Layak Selebgram: Padahal Saya Pas Bocah Bangga Punya Kaos Sablon dari Pasar Malam

Parfum Mykonos: dulu seluas lapangan basket, sekarang seluas algoritma 

Sebenarnya, apa masalahnya sampai fenomena ini saya menganggap ini “salah sasaran”?

Berbeda dengan sekarang, generasi kita dulu melakukan aksi “pamer kelayakan gaul” ini di ruang terbatas: di kelas, koridor sekolah, hingga kantin. Kalau kita bertingkah konyol, yang mengetahuinya paling banyak ya satu sekolah.

Sementara anak-anak zaman sekarang dapat melakukan survival mode sosial mereka di media sosial. Lingkup pergaulan mereka yang dulunya hanya seluas lapangan basket, kini menjadi tak terbatas tergantung bagaimana algoritma membawanya. Keinginan sederhana untuk diakui teman sekelas menjadi bergeser. Mereka beradaptasi dengan cara yang terlalu cepat. Lalu jutaan orang yang merasa lebih dewasa yang lupa bahwa mereka dulu juga pernah konyol pada usianya menonton dan menghakimi mereka.

Bocah cari teman, netizen cari mangsa  

Kalau kita membedahnya dari sisi psikologi sosial, tindakan anak-anak ini sangatlah wajar. Berdasarkan Social Identity Theory (SIT), mereka cuma sedang berjuang masuk ke dalam in-group (kelompok anak hits nan gaul) dan menghindari ketakutan terbesar anak sekolah: menjadi out-group (anak kuper yang dijauhi). Parfum Mykonos itu bukan hanya aroma, tapi instrumen yang dapat menyelamatkan mereka dari perundungan teman sebaya.

Yang justru aneh adalah respons orang yang merasa lebih dewasa. Di balik perlindungan anonimitas internet, orang-orang “dewasa” ini mendadak merasa punya hak untuk menghakimi anak kecil. Mereka melempar hujatan ke bocah yang belum pubertas seolah-olah sedang mengkritik kebijakan pejabat yang merugikan. Mengapa demikian? Karena menghujat anak kecil di internet itu mudah, murah, dan memberi kepuasan instan bahwa “saya adalah orang lebih tua/dewasa yang lebih bijak”.

Menuntut bocah dewasa, tapi orang dewasanya kek bocah

Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah bilang bahwa “Orang lain adalah neraka” (L’enfer, c’est les autres). Ketika kita berada di bawah tatapan orang lain, kita kehilangan kebebasan dan direduksi menjadi sekadar objek.

Anak-anak yang niat awalnya cuma ingin berekspresi secara bebas, netizen malah menyerangnya dengan hinaan. Hanya karena menyenangi jenis parfum yang mereka anggap tidak sesuai dengan umurnya, orang dewasa langsung memberi label: bocah FOMO, korban konsumerisme, atau produk gagal pengasuhan. Publik menghakimi identitas mereka tanpa memberi ruang untuk tumbuh dan belajar.

Masyarakat kita menuntut anak-anak tersebut untuk berpikiran matang dan bijaksana. Sementara orang dewasanya sendiri masih sering bertingkah kekanak-kanakan di kolom komentar. Ini adalah bentuk hipokrisi atau Sartre menyebutnya Bad Faith. Pura-pura tidak tahu padahal kita sendiri adalah bagian dari sistem sosial yang haus validasi.

Bocah berjuang eksis, netizen krisis empati  

Kontroversi tren parfum Mykonos ini adalah gambaran bagi kita semua bahwa fenomena ini bukan lagi soal parfum mahal atau anak yang salah menafsirkan pertanyaan terkait menu makanan, melainkan soal respons kita di dunia digital yang makin krisis empati.

Anak-anak itu tidak salah. Mereka hanya bocah yang lahir di zaman ketika berjuang mempertahankan eksistensinya di pergaulan. Sayangnya, mereka terbawa ke algoritma yang salah dan berakhir terkena penghakiman oleh netizen yang judgemental. 

Kalau ada yang perlu dibenahi, itu bukanlah cara anak-anak tersebut memilih hobi maupun tren. Melainkan jempol orang dewasa yang makin hari makin bersumbu pendek.

Penulis: Jesi Arista Fikria
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Rekomendasi Parfum Aroma Melati, Bikin Kunti Core-mu Makin Kentara

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

Tags: anak SDparfum mykonosrekomendasi parfumreview parfum mykonos
Jesi Arista Fikria

Jesi Arista Fikria

Saya adalah seorang akademisi yang sekarang tengah menempuh pendidikan sarjana Psikologi di Bandung. Saya menyenangi narasi analisis fenomena sosial dan sering mengaitkannya ke sudut pandang Psikologi. Senang menggunakan waktu luang untuk bermain game story dengan genre fantasy.

ArtikelTerkait

Video Klip Munajat Cinta The Rock Indonesia Bikin Baper dan Iri Anak SD pada Masanya terminal mojok.co

Video Klip ‘Munajat Cinta’ The Rock Indonesia Bikin Baper dan Iri Anak SD pada Masanya

18 Juli 2021
Menangis Saat Mengerjakan Tugas Sudah Jadi Tradisi Anak Sekolah di Indonesia terminal mojok

Menangis Saat Mengerjakan Tugas Sudah Jadi Tradisi Anak Sekolah di Indonesia

7 Agustus 2021
Rekomendasi 5 Parfum Aroma Kue yang Manis, Bikin Kamu Jadi Toko Kue Berjalan

Rekomendasi 5 Parfum Aroma Kue yang Manis, Bikin Kamu Jadi Toko Kue Berjalan

6 Maret 2023
Ada Apa dengan Anak SD Zaman Sekarang?

Ada Apa dengan Anak SD Zaman Sekarang?

17 Desember 2019
Biaya Masuk SD di Semarang Semakin Melejit: Jangan Lupa, selain Uang Pangkal dan SPP Bulanan Ada Biaya Penunjang Lainnya

Biaya Masuk SD di Semarang Semakin Melejit: Jangan Lupa, selain Uang Pangkal dan SPP Bulanan Ada Biaya Penunjang Lainnya

10 Desember 2023
Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama di Bawah 100 Ribu yang Cocok untuk Akhir Bulan di Tokopedia

Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama di Bawah 100 Ribu yang Cocok untuk Akhir Bulan

17 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Jangan bebani mahasiswa KKN dengan tugas yang harusnya dikerjakan negara

30 Juli 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo Mojok 

4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo 

31 Juli 2026
Jaga ikhtiar Bupati Klaten beresin borok PD BKK Klaten (Pexels)

Yang paling penting adalah jagain ikhtiar Bupati Hamenang menyelesaikan luka lama yang dibikin PD BKK Klaten

29 Juli 2026
4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan Mojok.co

4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan

1 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.