Musim hujan di Indonesia selalu berhasil melahirkan dua hal: genangan air yang tingginya gak masuk akal, dan mendadak munculnya sekte pengendara baru di jalan raya. Sekte ini diisi oleh orang-orang yang merasa mendapatkan wahyu keselamatan universal begitu mereka menekan tombol segitiga merah di dasbor mobil atau stang motor mereka. Ya, apalagi kalau bukan sekte pemuja lampu hazard saat hujan deras.
Sebagai sesama pengguna jalan yang cuma modal motor matic sekon dan jas hujan plastik lima ribuan, saya sering kali dibuat elus dada—atau lebih tepatnya elus klakson—setiap kali berpapasan dengan golongan ini.
Niat mereka mungkin mulia: memberi tanda biar kendaraan di belakangnya waspada karena jarak pandang terbatas. Tapi, alih-alih menyelamatkan umat manusia, keputusan menyalakan lampu hazard saat kendaraan sedang melaju itu sebenarnya adalah sebuah kebodohan kolektif yang dipelihara dengan estetik.
Lampu hazard menghancurkan fungsi lampu sein
Mari kita bedah secara logika santai. Fungsi utama lampu hazard, menurut buku panduan kendaraan mana pun di dunia (kecuali buku panduan buatan imajinasi mereka sendiri), adalah sebagai tanda bahaya ketika kendaraan sedang berhenti darurat. Mogok di pinggir jalan, ban bocor, atau habis terlibat kecelakaan.
Saat menyalakan lampu hazard, kedua lampu sein kiri dan kanan akan berkedip bersamaan. Nah, sekarang bayangkan ada mobil di depan kamu melaju menembus hujan lebat dengan kedua lampu sein berkedip-kedip kegirangan. Lalu, tiba-tiba mobil itu mau belok kiri atau pindah lajur ke kanan.
Pertanyaannya: gimana cara dia ngasih tahu kendaraan di belakang kalau dia mau belok?
Nggak bisa, Malih! Hasilnya, pengendara di belakang cuma bisa pasrah main tebak-tebakan. “Ini mobil di depan mau belok kiri, mau kanan, atau mau terbang?” Kalau tebakannya salah, taruhannya bukan kehilangan poin, tapi kehilangan nyawa atau minimal penyok bumper. Menyalakan lampu hazard sambil jalan itu sukses membuat lampu sein tak berguna sama sekali.
BACA JUGA: Lampu Hazard di Motor Matic Besar: Fitur Keren yang Bikin Kesel
Hipnotis lampu kedip yang bikin pusing tujuh keliling
Alasan lain yang sering orang pakai adalah, “Biar kelihatan dari jauh, Mas, kan hujan lebat banget.”
Oke, saya terima poin Anda. Tapi tolong ketahuilah wahai para penguasa jalan, lampu hazard itu dayanya cukup terang. Ketika hujan deras, air yang menempel di kaca helm atau kaca depan mobil itu punya efek membiaskan cahaya.
Melihat lampu kuning berkedip-kedip konstan di tengah guyuran hujan lebat itu rasanya bukan bikin waspada, tapi bikin silau dan pusing. Pengendara di belakang Anda bisa kena efek hipnotis dadakan. Atau malah kehilangan fokus laju kendaraan karena memaksa matanya menatap kedipan lampu yang ritmenya mirip lampu disko pantura tersebut.
Padahal, pabrikan mobil dan motor itu sudah sangat pintar. Mereka sudah melengkapi kendaraan Anda dengan yang namanya lampu utama dan lampu senja (tail light) di bagian belakang. Ketika hujan deras, cukup nyalakan lampu itu. Jarak pandang sekira beberapa meter di belakang Anda sudah pasti bisa melihat warna merah lampu buritan Anda tanpa perlu dibikin juling oleh kelap-kelip hazard.
Sudahlah, berhenti merasa paling benar di jalan
Berhenti memodifikasi aturan lalu lintas berdasarkan asumsi pribadi. Jalan raya itu milik bersama, diatur oleh undang-undang. Bukan diatur oleh perasaan melankolis Anda yang mendadak panik karena air hujan turun dari langit.
Kalau memang hujan terlalu lebat sampai Anda merasa tidak aman untuk melaju, pilihan yang bijak adalah menepi di tempat yang aman. Nah, pas berhenti di pinggir jalan itulah baru silakan tekan tombol hazard sepuas Anda. Mau menambah lilin atau menyalakan kembang api juga silakan, karena kendaraan Anda memang sedang berhenti darurat.
Tapi kalau kendaraan Anda masih menggelinding dengan kecepatan 40 km/jam, tolong matikan hazard-nya. Kami, para pengendara di belakang Anda, cuma pengen pulang ke rumah dengan selamat. Tanpa harus ikutan ujian mental menebak arah belok kendaraan Anda.
Penulis: Syahrul
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.









