Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Jadi Petani Itu Blas Nggak Ada Slow Living-nya, Jangan Ketipu Konten Sosmed!

Arif Mashudi oleh Arif Mashudi
14 April 2026
A A
Jadi Petani Itu Blas Nggak Ada Slow Living-nya, Jangan Ketipu Konten Sosmed!

Jadi Petani Itu Blas Nggak Ada Slow Living-nya, Jangan Ketipu Konten Sosmed!

Share on FacebookShare on Twitter

Agaknya kita semua sudah sering melihat dan menikmati konten slow living hidup di desa dan menjadi seorang petani. Tiap hari berkebun, menikmati udara segar, dan semua kebutuhan sudah tercukupi dari sawah dan kebun.

Sekilas, terlihat damai, tapi semua itu omong kosong. Petani itu hidupnya selalu bekerja keras. Bahkan kalau yang kelas gurem yang lahan garapannya sedikit, bisa dipastikan hidupnya di ambang kesengsaraan.

Hal tersebut tidak datang dari omon-omon ya. Saya sendiri adalah petani gurem. Ya bener sih hidup saya slow living. Tapi bukan slow living yang itu, slow yang dimaksud adalah slow panennya, slow keuangannya, dan slow banget jalannya menuju financial freedom.

Sebagai gambaran, saya mengelola tanah sebanyak dua petak yang diberikan oleh orang tua. Ya saya adalah pewaris, bukan perintis. Itu terakhir saya tanami padi hanya bisa menghasilkan uang sebesar 5.5 juta rupiah.

Kalian pikir mungkin itu hasil yang cukup banyak, mengingat rerata gaji di Indonesia bahkan tidak sampai segitu. Tapi, masalahnya, itu bukan penghasilan sebulan, tapi 3 bulan. Dan yang harus Anda ketahui, para slow living wanna be, nominal tersebut bukan pendapat bersih. Itu belum dipotong biaya jasa tukang traktor untuk olah lahan, biaya buruh tani dan tentu saja pupuk yg harganya semakin melejit.

Pengeluaran petani slow living

Biar semakin jelas, sekalian saja saya spill nominal pengeluarannya. Biaya traktor itu 500 ribu rupiah, buruh tani untuk jasa tanam padi dan matun rumput ketika padi mulai tumbuh 600 ribu rupiah. Kemudian pupuk 2 sak atau 100 kg sekalian sama insektisida kurang lebih menghabiskan 900 ribu rupiah.

Jika Anda sekalian bertanya kenapa nggak pakai pupuk subsidi saja untuk menghemat pengeluaran? Jawabannya adalah, pupuk subsidi itu hampir pasti tidak tersedia. Kalau sedang ada ya bisa dipake, kalau tidak ada ya nggak jadi panen malahan.

Pengeluaran di atas itu masih belum termasuk biaya makanan yang diberikan kepada buruh traktor dan buruh tani. Aduh, ternyata banyak juga ya biaya yang dihabiskan. Gini kok mau slow living.

Baca Juga:

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

Nah, pendapatan 5.5 juta tadi, dipotong biaya operasional di atas sebanyak 2 juta tinggal sekitar 3.5 juta rupiah. Lalu, 3.5 juta itu dibagi menjadi tiga bulan yang hanya menjadi sekitar 1.1 jutaan saja perbulannya. Emang bisa slow living dengan uang segitu? Ya jelas nggak wqwqwq.

BACA JUGA: Alasan Petani di Desa Saya Tak Kunjung Kaya

Sebenarnya bisa sih slow living dengan bertani

Lalu seperti apa kehidupan influencer yang sering bikin konten slow living dengan bertani itu? Jawabannya adalah harus punya uang dulu. Ekonomi harus benar-benar mapan dulu. Harus punya cadangan kapital yang buanyak.

Jika masih bekerja dengan gaji UMR dan tabungan yang mungil, mimpi untuk hidup slow living dengan bertani sebaiknya ditunda saja. Daripada nanti menyesal karena masalah ekonomi dan tidak bisa kembali ke pekerjaan awal.

Lain cerita, jika bekerja sudah menjadi hal sepele dan tabungan yang sudah menggunung. Pulang ke desa hidup slow living dengan bertani sampai terompet sangkakala ditiup pun juga bukan masalah.

Lalu, bisa juga hidup slow living sebagai petani meskipun tidak punya banyak tabungan. Tapi Anda harus menjadi anak tuan tanah yang asetnya maha luas. Kira-kira, sekali panen bisa buat biaya hidup satu tahun dan masih sisa banyak buat beli Pajero Sport terbaru.

Jadi teman-teman, jangan tergoda sedikit pun akan kehidupan slow living sebagai petani. Sudah bisa dipastikan itu hanya gimmick dan jauh dari kenyataan yang ada. Sadarlah, kalian itu dibohongi hahaha.

Lagi pula, di Indonesia ini mayoritas petani kehidupannya ya berada di bawah garis kemiskinan. Data BPS pada tahun 2023 menunjukkan bahwa dari 25,9 juta orang miskin di Indonesia, 13,9 jutanya adalah petani.

Separuh orang miskin di negeri agraris ini petani. Emang kalian mau daftar jadi orang miskin?

Stop narasi tersebut

Oleh karena itu, stop sudah itu narasi jadi petani enak, slow living, mending kita tunjukkan saja kalau petani itu sengsara dan kehidupannya serba tidak menentu. Harga benih mahal, pupuk mahal, obat-obatan mahal, tidak ada jaminan harga saat panen, tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada sistem dan tata kelola niaga yang ramah. Dahlah, banyak banget itu masalahnya kalau jadi petani.

Jadi, daripada gimmick slow living yang sudah jelas nggak realistisnya itu, mari tunjukkan bahwa nasib dan kehidupan petani tidak pernah diperhatikan secara serius oleh negara.

Penulis: Arif Mashudi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Susahnya Jadi Petani di Indonesia: Refleksi dari Seorang Sarjana Pertanian yang Kini Jadi Petani Muda

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 April 2026 oleh

Tags: kehidupan slow livingpemasukan petaniPetanislow living
Arif Mashudi

Arif Mashudi

Atlet scrolling media sosial.

ArtikelTerkait

mahasiswa pertanian vietnam bus sleeper mojok

5 Alasan Banyak Mahasiswa Pertanian Ogah Jadi Petani

6 Agustus 2021
6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo Mojok.co

6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo

12 Januari 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
dana desa dan petani

Dana Desa dan Kesejahteraan Masyarakat Petani

31 Mei 2019
Jika Saya Jadi Menteri Pertanian, Berikut Strategi Peningkatan Regenerasi Petani

Jika Saya Jadi Menteri Pertanian, Berikut Strategi Peningkatan Regenerasi Petani

29 September 2024
Kucing Tak Hanya Hewan Peliharaan, bagi Petani, Kucing Adalah Pahlawan

Kucing Tak Hanya Hewan Peliharaan, bagi Petani, Kucing Adalah Pahlawan

5 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

27 Juli 2026
Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

Membayangkan Indonesia masa kini tanpa QRIS, transaksi akan benar-benar ribet

29 Juli 2026
4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo Mojok 

4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo 

31 Juli 2026
Bodoh! Ngapain iuran 100 ribu demi mengundang sound horeg (Pexels)

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

29 Juli 2026
Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian Mojok.co

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

25 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.