Mahasiswa kelas reguler yang ngeluh soal beratnya dunia kuliah perlu belajar dari mahasiswa kelas karyawan…
Saya sering tertawa geli (campur miris) melihat cuitan mahasiswa reguler di Twitter/X yang mengeluh soal beratnya dunia perkuliahan.
“Aduh, tugas numpuk banget nih, healing dulu ke Bali, yuk,” kata seorang maba yang uang jajannya masih ditransfer papa setiap tanggal satu. “Gila, dosennya killer banget, masa telat 15 menit nggak boleh masuk,” keluh mahasiswa semester 5 yang telat karena begadang maraton drakor.
Wahai adik-adik mahasiswa reguler yang lucu dan menggemaskan, simpan keluhan kalian. Kalian belum tahu apa itu neraka pendidikan yang sesungguhnya sampai kalian merasakan menjadi mahasiswa kelas karyawan.
Ya, kelas karyawan. Sebuah ekosistem pendidikan di mana mahasiswanya tidak punya privilege untuk mengeluh capek, tidak punya waktu untuk fashion show OOTD di koridor kampus, dan tidak punya energi untuk ikut drama BEM yang penuh intrik politik kampus yang nggak penting-penting amat itu.
Sebagai alumni jalur “Sabtu-Minggu” (atau kadang kelas malam), izinkan saya menceritakan betapa brutal sekaligus heroiknya kehidupan di jalur ini. Jalur yang sering dianggap “kampus ruko” atau “beli ijazah”, padahal perjuangannya berdarah-darah.
Aroma kelas karyawan yang harum… bau minyak angin
Jika kalian masuk ke kelas reguler di UI, UGM, atau Unpad, mungkin aromanya adalah campuran parfum Baccarat kw super, aroma kopi Starbucks, dan bau keringat hormon anak muda yang meledak-ledak.
Tapi cobalah masuk ke kelas karyawan di kampus swasta daerah Jakarta Timur atau Bekasi pada Sabtu pagi. Aromanya sangat khas dan spiritual. Bau Freshcare, minyak kayu putih, dan koyo Salonpas.
Ini bukan kelas, ini bangsal geriatri berkedok pendidikan.
Mahasiswa kelas karyawan itu rentang usianya acak adut. Ada fresh graduate SMK usia 19 tahun yang terpaksa kerja karena ortu nggak mampu biayain kuliah. Ada staf admin usia 30-an yang mengejar gelar demi naik golongan. Bahkan ada juga bapak-bapak manajer operasional usia 50 tahun yang rambutnya sudah memutih semua, yang kuliah cuma biar di undangan nikah anaknya ada gelar S.E. di belakang namanya.
Duduk berdampingan dengan mereka mengajarkan saya satu hal. Pendidikan itu bukan soal usia, tapi soal seberapa kuat punggungmu menahan beban hidup.
Minggu bukan hari libur, tetapi hari penghakiman
Bagi manusia normal, hari Minggu adalah hari untuk rebahan, car free day, atau sunmori. Bagi mahasiswa kelas karyawan, Minggu adalah hari penyiksaan.
Bayangkan siklus hidup kami. Senin sampai Jumat (kadang sampai Sabtu setengah hari) kami bekerja 8-9 jam. Dimaki atasan, dikejar target penjualan, ngurusin klien yang rewelnya ngalahin bayi, dan bertarung dengan kemacetan jalanan yang biadab.
Badan sudah remuk redam. Otak sudah overheat. Tapi Sabtu sore atau Minggu pagi, saat orang lain masih selimutan, kami harus mandi, pakai kemeja rapi, dan berangkat ke kampus.
Di saat kalian nongkrong di coffee shop estetik, kami sedang duduk di kursi kayu yang keras, mendengarkan dosen menjelaskan “Teori Manajemen Strategis” atau “Hukum Perdata”. Mata kami menatap papan tulis, tapi pikiran kami melayang ke: “Besok Senin meeting bulanan, laporan belum kelar, cicilan motor jatuh tempo lusa.”
Jangan tanya soal fokus. Bisa duduk tegak tanpa ketiduran dan ngeces di meja saja sudah prestasi luar biasa. Dosen-dosen kelas karyawan pun biasanya maklum. Mereka tahu, mahasiswa di depannya ini bukan anak kemarin sore yang takut nilai E. Ini adalah para pejuang nafkah yang datang ke kampus membawa sisa-sisa kewarasan.
Anti-ribet club: kuliah pragmatis, lulus realistis
Satu hal yang saya suka dari kultur kelas karyawan adalah pragmatismenya. Di kelas reguler, sering ada mahasiswa ambis yang bertanya hal-hal njelimet cuma buat pamer kepintaran. Misalnya, angkat tangan lalu bilang, “Izin bertanya, Prof, bagaimana korelasinya dengan post-strukturalisme bla bla bla…”. Teman-teman sekelasnya akan memutar bola mata.
Di kelas karyawan, kalau ada teman yang nanya kepanjang-panjangan saat jam kuliah sudah mau habis, dia bisa dimusuhi satu angkatan.
“Woy, diem napa! Udah jam 5 sore nih, gue mau jemput anak ngaji!” teriak bapak-bapak di pojok belakang.
Kami tidak butuh teori yang muluk-muluk. Kami butuh ilmu yang bisa dipakai besok Senin di kantor. Atau minimal, kami butuh absen aman dan tugas kelar.
Mahasiswa kelas karyawan tidak punya waktu untuk ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Boro-boro ikut paduan suara atau mapala (mahasiswa pecinta alam), hobi kami cuma satu: tidur berkualitas.
Kami juga tidak peduli dengan politik kampus. BEM mau demo menurunkan Rektor? Silakan. Kami sibuk menurunkan tensi darah dan kolesterol. Bagi mahasiswa kelas karyawan, demo paling nyata adalah demo menuntut kenaikan gaji UMR ke HRD masing-masing.
Baca juga: 4 Opsi Pekerjaan biar Dapat Pemasukan sambil Kuliah.
Tugas kelompok adalah bencana bagi mahasiswa kelas karyawan
Ini bagian paling tricky. Tugas kelompok di kelas reguler mungkin dramanya cuma soal siapa yang free rider (numpang nama). Di kelas karyawan, dramanya adalah sinkronisasi jadwal yang mustahil.
“Yuk kerjain tugas malam ini,” ajak si A. “Nggak bisa, gue lembur audit akhir tahun,” jawab si B. “Gue juga nggak bisa, anak gue lagi demam,” sahut si C (Bapak-bapak). “Gue shift malam di pabrik, Bro,” timpal si D.
Akhirnya tugas dikerjakan via WhatsApp Group dengan sistem “Sangkuriang” (dikebut semalam sebelum dikumpul) atau menggunakan jasa joki tugas (maaf, ini rahasia umum). Bukan karena malas, tapi karena waktu 24 jam sehari itu rasanya kurang bagi kami yang memikul beban ganda sebagai pekerja dan pelajar.
Gelar sarjana bukan sekadar kertas
Banyak orang meremehkan lulusan kelas karyawan. “Ah, kuliahnya cuma Sabtu-Minggu, ilmunya dapet apa?”
Hei, jangan salah. Justru mentalitas kami sudah teruji baja.
Mahasiswa reguler lulus sarjana masih bingung cara bikin CV, bingung cara interview kerja, dan kaget pas pertama kali dibentak bos. Mahasiswa kelas karyawan? Kami sudah khatam. Kami kuliah sambil mempraktikkan ilmunya di dunia nyata.
Ketika kami akhirnya wisuda, memakai toga di usia yang mungkin tak lagi muda, rasanya beda. Ijazah itu bukan cuma tanda lulus akademis. Itu adalah trofi kemenangan karena kami berhasil tidak gila membagi waktu antara kerja, kuliah, dan keluarga selama 4 tahun.
Ijazah adalah bukti bahwa kami rela kehilangan waktu nongkrong, rela kehilangan waktu istirahat, dan rela menyisihkan gaji UMR yang pas-pasan demi membayar uang semesteran (tanpa subsidi orang tua).
Hormatilah mas-mas kemeja kotak-kotak di Sabtu pagi
Jadi, tulisan ini saya persembahkan untuk kalian: mas-mas cleaning service yang kuliah Hukum demi jadi pengacara, mbak-mbak kasir minimarket yang ambil jurusan Akuntansi demi kerja di bank, dan bapak-bapak security yang ambil jurusan Manajemen demi jadi kepala regu.
Kalian adalah MVP (Most Valuable Player) yang sesungguhnya di dunia pendidikan tinggi Indonesia.
Dan buat adik-adik mahasiswa reguler yang masih suka ngeluh tugas kebanyakan: Malu dong sama bapak sebelah saya ini. Dia ngerjain makalah sambil nyusuin anaknya yang bayi, dan besoknya presentasi di depan direktur.
Kelas karyawan mengajarkan kami bahwa hidup itu keras, Bung. Dan satu-satunya cara melunakkannya adalah dengan terus belajar, meski mata sudah 5 watt dan punggung sudah ditempeli tiga lembar Koyo Cabe.
Salam hormat, dari kami yang kuliahnya disambi mencari cuan.
Penulis: Roh Widiono
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















