Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kampus Islam Rasa Bebas: Fenomena UIN yang Bikin Bingung Malaikat Pencatat Amal

Assyifa Furqon Gaibinsani oleh Assyifa Furqon Gaibinsani
9 November 2025
A A
Wisuda UIN SATU Tulungagung yang Bener-bener Nggak Masuk Akal: Wisuda kok Sekali Sebulan. Itu Wisuda atau Jadwal Ganti Oli?

Wisuda UIN SATU Tulungagung yang Bener-bener Nggak Masuk Akal: Wisuda kok Sekali Sebulan. Itu Wisuda atau Jadwal Ganti Oli?

Share on FacebookShare on Twitter

Waktu pertama kali diterima di UIN, aku sempat mikir, “Wah, akhirnya aku bakal kuliah di lingkungan yang religius banget!” Dalam bayanganku, semua mahasiswanya rajin ke masjid, kajian di mana-mana, dosennya adem kayak ustaz di televisi, dan suasana kampusnya penuh keberkahan. Pokoknya, versi akademik dari surga kecil di bumi.

Tapi realitas, seperti biasa, nggak pernah seindah ekspektasi.

Baru semester satu aja, aku udah sering mikir: ini kampus Islam atau kampus bebas bersyarat? Kadang kalau lihat pemandangan di pelataran kampus, malaikat pencatat amal mungkin juga butuh cuti sejenak buat mikir: ini mau dicatat di kolom pahala atau dosa?

UIN: Islamnya nama, bukan suasana

Jujur, UIN (Universitas Islam Negeri) itu keren secara konsep. Ada kata Islam-nya, tapi tetap terbuka buat semua kalangan. Tapi yang menarik—dan kadang miris—adalah bagaimana sebagian mahasiswa justru menganggap kata “Islam” itu cuma hiasan di papan nama kampus.

Ada yang kuliah di jurusan Syariah tapi masih bingung membedakan aurat dengan gaya. Ada juga yang belajar tafsir, tapi story-nya kadang lebih sering berisi kegiatan nongkrong ketimbang ayat yang dipelajari. Belum lagi yang suka menulis kutipan Islami di bio, tapi isi unggahannya tetap tentang keseharian yang jauh dari nuansa dakwah.

Nggak salah, sih, mahasiswa UIN juga manusia biasa. Hanya saja, ironinya, semua itu terasa begitu biasa seolah kampus Islam memang sudah terbiasa hidup di antara dua dunia: idealisme dan realitas.

Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala, terutama di Fakultas Tarbiyah—tempat calon guru dibentuk—adalah gaya berpakaian yang kadang bikin lupa konsep “teladan.” Celana yang ketat, atasan yang menonjolkan bentuk tubuh, ditambah kerudung yang dibiarkan tanpa peniti sampai leher dan sebagian rambut terlihat ke mana-mana. Rasanya agak janggal, mengingat mereka sedang belajar jadi pendidik yang mestinya bisa memberi contoh.

Tapi ya, di sisi lain, mungkin begitulah potret generasi kita: masih mencari jati diri di tengah benturan antara nilai dan tren.

Baca Juga:

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita

Akui Saja, Lulusan UIN Memang Skill-nya di Bawah Rata-rata, dan Inilah Penyebabnya

Sholat yang kalah oleh rapat

Ada juga fenomena lain yang bikin miris sekaligus lucu: sholat yang sering kalah sama rapat organisasi. Entah kenapa, setiap kali adzan berkumandang, kalimat “nanti aja, habis rapat” terdengar jauh lebih populer daripada “ayo ke musala dulu”. Kadang malah ada yang bilang, “bentar lagi kok, lima menit lagi,” padahal lima menit itu berubah jadi setengah jam. Begitu rapat kelar, waktu sholatnya sudah lewat.

Ironisnya, agenda yang dibahas pun seringnya soal kegiatan dakwah atau acara keislaman. Tapi justru di situ kita sering lupa pada inti keislaman itu sendiri. Aku kadang bertanya dalam hati, “Kita ini sedang berjuang untuk Islam, atau justru terlalu sibuk sampai lupa pada Allah-nya?”

UIN dan label Islam nggak selalu sama dengan nilai Islam

Masalahnya mungkin ada di mindset. Banyak yang berpikir, “Ah, kan kuliah di kampus Islam, berarti udah aman.” Padahal kampus Islam itu bukan jaminan otomatis jadi Islami. Kayak beli baju gamis, tapi perilakunya belum tentu mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Pendidikan Islam mestinya membentuk karakter, bukan sekadar hafalan atau seragam. Tapi yang terjadi, kadang justru sebaliknya: banyak yang hafal teori akhlak tapi lupa praktiknya. Ada juga yang hafal hadis tentang menuntut ilmu, tapi absen kuliah terus.

Bahkan di kampus Islam, ada budaya “standar ganda” yang lucu: kalau orang lain melakukan hal yang dianggap nggak syar’i, langsung dikritik habis-habisan. Tapi kalau temen sendiri yang melakukannya? “Ya udah, namanya juga manusia.” Malaikat mungkin senyum getir di atas sana.

Antara tuntutan iman dan tuntutan eksistensi

Nggak bisa dimungkiri, pengaruh media sosial juga besar banget. Di satu sisi, mahasiswa dituntut beriman, tapi di sisi lain mereka juga ingin diakui eksistensinya. Kadang, status “anak UIN” jadi semacam beban sosial: harus tampak modern, tapi juga tetap Islami. Akhirnya, jadilah perpaduan unik—antara hijrah dan highlight story.

Kita bisa lihat sendiri, banyak yang lebih sibuk bikin konten dakwah bergaya estetik daripada ikut kegiatan masjid. Yang penting caption-nya bagus, walau realitas

nya masih jauh dari isi ceramahnya. Entah ini dakwah atau sekadar branding spiritual.

Mungkin kita semua sedang lupa esensi

Tapi jujur, aku nggak sedang menyalahkan siapa pun. Aku juga bagian dari sistem yang sama. Mungkin kita semua sedang lupa: kampus Islam bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tapi tempat untuk belajar mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.

Label “Islam” seharusnya bukan sekadar identitas, tapi tanggung jawab. Kalau kampus lain saja bisa menanamkan budaya disiplin dan etika, masa kampus Islam kalah dalam menanamkan nilai-nilai agamanya sendiri? Mungkin sudah saatnya kita berhenti bangga hanya karena kuliah di UIN, dan mulai bertanya: sudah seberapa “Islami” perilaku kita di dalamnya?

UIN tetap kampus yang hebat. Banyak dosen inspiratif, banyak mahasiswa cerdas, banyak kegiatan keislaman yang luar biasa. Tapi di balik semua itu, ada realitas yang nggak bisa diabaikan: Islam belum sepenuhnya hidup di keseharian mahasiswanya.

Jadi, kalau suatu saat malaikat pencatat amal terlihat menghela napas panjang di langit Purwokerto, Yogyakarta, atau Ciputat, mungkin mereka lagi bingung: mau nulis “mahasiswa kampus Islam”, atau cukup “mahasiswa yang sedang belajar menuju Islam”?

Penulis: Assyifa Furqon Gaibinsani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Keunikan UIN Jogja, Mahasiswanya seperti Nggak Kuliah di Kampus Islam

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 November 2025 oleh

Tags: apakah mahasiswa UIN alimkehidupan mahasiswa UINsisi gelap UINUIN
Assyifa Furqon Gaibinsani

Assyifa Furqon Gaibinsani

Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Pernah mengabdikan dua tahun hidupnya di pesantren sambil menuntaskan hafalan Al-Qur’an, Assyifa tumbuh sebagai sosok yang mencintai ilmu dan ketenangan. Baginya, menulis adalah cara merawat pikiran dan menata hati—sebuah perjalanan sunyi yang kadang getir, tapi selalu memberi arti. Pernah menapaki panggung lomba dari Musabaqah Hifdzil Qur’an hingga esai ilmiah, Assyifa percaya bahwa setiap langkah kecil bisa menjadi doa yang panjang. Kini, ia terus belajar menjadi perempuan yang tidak hanya berprestasi, tapi juga berdaya dan bermakna.

ArtikelTerkait

Rekomendasi Sarapan Pagi 6 Ribuan Dekat UIN Jogja (Unsplash)

3 Rekomendasi Tempat Sarapan Pagi di Dekat UIN Jogja yang Murah Cuma 6 Ribuan

12 Agustus 2024
Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta Mencetak “Mahasiswa Gila” (Unsplash)

Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta yang Sering Mencetak “Mahasiswa Gila”

7 Oktober 2023
hmi vs pmii uin ciputat kaderisasi kelemahan kelebihan senioritas uin syarif hidayatullah fakultas adab dan humaniora mojok

Balasan untuk Tulisan tentang HMI vs PMII yang Terbit di Terminal Mojok

22 April 2020
UIN Salatiga Menyimpan Salah Paham yang Menyesatkan (Unsplash)

UIN Salatiga: Kampus Sunyi, Tak Terkenal, dan Hanya Bisa Iri dengan Kampus Lain

28 Juni 2025
Honda Supra Fit Baru, Motor Impian Anak UIN

Honda Supra Fit Baru, Motor Impian Anak UIN

3 November 2022
Menjadi Alumni UIN Itu Juga Beban, Terutama Jika Hidup di Desa

Menjadi Alumni UIN Itu Juga Beban, Terutama Jika Hidup di Desa

19 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

Kebumen: Banyak Pantainya, tapi Belum Jadi Primadona Wisata Layaknya Yogyakarta

21 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

21 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

23 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang
  • Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat
  • Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.