Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

3 Dosa Pedagang Rawon di Surabaya yang Mengecewakan dan Merugikan Wisatawan

Ayu Lestari Sipayung oleh Ayu Lestari Sipayung
20 Juli 2025
A A
3 Dosa Pedagang Rawon di Surabaya yang Merugikan Wisatawan (Pexels)

3 Dosa Pedagang Rawon di Surabaya yang Merugikan Wisatawan (Pexels)

Share on FacebookShare on Twitter

Rawon di Surabaya adalah salah satu kuliner yang dicari wisatawan. Umumnya, mereka datang dengan ekspektasi selangit.

Makanan legendaris dengan kuah hitam pekat ini memang punya pesona tersendiri. Apalagi kalau sudah melihat fotonya yang lengkap dengan sambal, tauge pendek, dan telur asin.

ADVERTISEMENT

Tapi, ada satu isu yang jarang dibahas, yaitu dosa-dosa pedagang yang merugikan dan bikin kecewa wisatawan. Yang paling umum adalah tidak semua rawon di Surabaya itu enak. Bahkan, ada yang cuma bermodal nama doang, tapi rasa dan isiannya bikin kita merasa seperti ditipu harapan.

#1 Harapan tinggi sebelum makan rawon di Surabaya

Ketika mendengar kata “rawon”, yang langsung muncul di benak banyak orang adalah: potongan daging sapi yang empuk, kuah kluwek yang gurih khas, plus aroma daun jeruk yang menggoda. Harapannya sih begitu.

Apalagi kalau kamu datang dari luar kota. Setelah menempuh perjalanan panjang, lalu mampir ke warung rawon yang katanya viral, harapan kita pasti tinggi. Minimal mendapat sensasi makan yang bisa diceritain pas pulang kampung.

Tapi kenyataan? Saya cuma dapat seuprit daging. Sudah begitu rasanya hambar.

Saya punya satu pengalaman yang membekas ketika kali pertama mencoba rawon di Surabaya. Warung makan ini cukup terkenal.

Setelah memesan, yang datang adalah seporsi rawon, dengan potongan daging nyempil kayak malu-malu. Bahkan, lebih banyak lemaknya ketimbang dagingnya. 

Baca Juga:

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

Sudah begitu, kuahnya lebih mirip air rendaman kluwek sisa semalam. Warnanya sih oke, tapi rasanya? Nggak ada “klek”-nya sama sekali. Hambar, nyaris kayak air cucian piring tapi warnanya gelap.

Porsi daging yang pelit itu menjadi sumber kekecewaan paling hakiki. Kalau cuma 2 potong kecil dan keras, lebih baik tambah tahu atau tempe aja sekalian. Setidaknya nggak bikin gigi kerja lembur karena mengunyah daging keras.

#2 Faktor viral yang menyesatkan

Salah satu jebakan wisata kuliner zaman sekarang adalah tempat viral belum tentu enak. Banyak warung makan yang tiba-tiba ramai karena kunjungan food vlogger. Eh ternyata cuma gimmick doang.

Salah satunya adalah rawon di Surabaya. Ada satu tempat yang dulu enak banget. Sudah begitu, viral pula karena memang enak dan jadi konten food vlogger. Eh, setelah viral dan warung jadi ramai, kualitasnya menurun. Ada saja pedagang yang kejar volume pelanggan. Mungkin di pedagang ini merasa “Ya udah, orang bakal datang juga.”

Padahal, rawon itu makanan yang sangat bergantung pada keseimbangan rasa. Kalau asal masak demi cepat disajikan, ya hasilnya rawon instan. Warnanya gelap, tapi rasanya gagal.

#3 Harga rawon di Surabaya yang nggak sesuai rasa

Saat ini, harga seporsi rawon di beberapa warung di Surabaya udah mulai nggak main-main. Banyak yang ngasih harga di atas Rp25 ribu, bahkan ada yang sampai Rp40 ribuan untuk versi rawon campur empal.

Okelah, kita bisa terima kalau harganya naik. Tapi ya minimal rasa dan porsi dagingnya masuk akal. Masa sudah bayar mahal, dagingnya cuma 3 potong dan 2 di antaranya ngumpet di balik nasi?

Ingat, rawon adalah salah satu warisan kuliner Jawa Timur. Tapi kalau hanya jadi alat jualan karena viral, lalu lupa pada esensi rasa, yang tersisa cuma kekecewaan wisatawan.

Jadi, kalau kamu ke Surabaya dan makan rawon, siapkan ekspektasi yang wajar. Nggak semua warung itu menyediakan sajian yang nendang.

Tapi kalau kamu nemu yang enak? Nikmatin pelan-pelan, sambil bersyukur kamu nggak cuma dapet kluwek rebus dan air garam.

Penutup

Pengalaman makan rawon di Surabaya yang benar-benar memuaskan justru terjadi di warung kaki lima, bukan tempat viral. Tempat-tempat ini mungkin nggak punya nama besar, tapi mereka memasak dari hati.

Saya pernah makan rawon di warung kecil dekat Pasar Pabean. Nggak ada yang spesial dari tempatnya. Bahkan kursinya seadanya. 

Tapi rawon mereka? Dagingnya empuk, kuahnya nendang banget. Wangi kluweknya terasa, tapi nggak lebay. Sambalnya juga pedasnya pas. Dan yang paling penting: seporsi cuma Rp18 ribu, dengan potongan daging yang bikin kenyang tanpa harus minum air putih 3 gelas dulu.

Satu hal yang harus dicatat buat wisatawan adalah jangan 100% percaya sama ulasan food vlogger. Yang “bahaya” adalah selera orang itu beda-beda. Kadang yang kita kira enak, bagi yang lain cuma biasa aja. 

Jadi, kalau ke Surabaya dan mau cari rawon enak, lebih baik tanya langsung ke warga lokal. Supir ojek online, tukang parkir, atau ibu kos biasanya juga tahu.

Dan jangan gengsi masuk warung yang tampak sederhana. Justru di situlah kamu bisa menemukan rasa yang otentik. Ingat, makanan enak itu nggak harus tampil mewah. Rawon enak itu yang berani gelap tapi gurihnya nggak malu-maluin.

Penulis: Ayu Lestari Sipayung

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 4 Hal yang Membuat Saya Sangat Kecewa dengan Rawon Jogja karena Menyalahi Kodratnya Sebagai Kuliner Jawa Timur

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2025 oleh

Tags: kuliner surabayaPasar PabeanRawonrawon surabayarekomendasi rawon enakSurabaya
Ayu Lestari Sipayung

Ayu Lestari Sipayung

Sosok tenang yang memilih 'bersuara' lewat tulisan. Gadis muda yang percaya bahwa tinta dan papan ketik adalah teman terbaik untuk menceritakan apa yang tak sanggup diucapkan lisan.

ArtikelTerkait

KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang, Kereta yang Menyiksa Penumpang tapi Tetap Dibutuhkan

KA Dhoho-Penataran Surabaya-Malang, Kereta yang Menyiksa Penumpang tapi Tetap Dibutuhkan

1 Januari 2026
Pengalaman Berkunjung ke TPU Keputih Surabaya Tengah Malam Berujung Kena Mental dan Takut Beneran

Pengalaman Berkunjung ke TPU Keputih Surabaya Tengah Malam Berujung Kena Mental dan Takut Beneran

20 April 2024
4 Keistimewaan Royal Plaza Surabaya yang Bikin Pengunjungnya Membeludak Jelang Lebaran

4 Keistimewaan Royal Plaza Surabaya yang Bikin Pengunjung Membeludak Jelang Lebaran

20 April 2023
Kereta Api Airlangga, Pilihan Kereta Ekonomis dengan Fasilitas yang Mumpuni

Kereta Api Airlangga, Pilihan Kereta (Super) Ekonomis dengan Fasilitas yang (Amat) Mumpuni

2 Mei 2025
Nona Penjual Seblak Paling Dicintai Mahasiswa Unesa (Unsplash)

Nona Penjual Seblak Paling Dicintai Mahasiswa Unesa

30 Mei 2023
Kata Siapa Surabaya Romantis kalau Malam Hari? Lebih Ngeri sih, Iya!

Kata Siapa Surabaya Romantis kalau Malam Hari? Lebih Ngeri sih, Iya!

17 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026
Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering Mojok

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

2 Agustus 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Niat ikut organisasi mahasiswa di UIN cuma mau cari teman, malah jadi terpaksa ikut pengkaderan yang rumit

31 Juli 2026
Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.