Informasi
ADVERTISEMENT

5 Akibat Seandainya Kabupaten Tulungagung Tidak Memiliki Marmer

5 Akibat Seandainya Kabupaten Tulungagung Tidak Memiliki Marmer

Marmer menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar sekaligus andalan bagi daerah Tulungagung. Kabupaten di Jawa Timur ini memang terkenal sebagai penghasil marmer dan onyx berkualitas tinggi di Indonesia. Fyi, marmer Tulungagung bahkan sudah diekspor ke mancanegara. Maka tak heran apabila Tulungagung saat ini dijuluki sebagai Kota Marmer. Daerah penghasil marmer terbanyak di kabupaten ini berada di Desa Besole, Kecamatan Besuki.

Melihat betapa pentingnya marmer bagi kabupaten seluas 1.055,65 km persegi ini, saya jadi kepikiran, bagaimana nasib Tulungagung seandainya nggak memiliki sumber daya alam berupa marmer ini. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Tulungagung nggak akan dikenal orang

Seandainya Tulungagung nggak punya marmer, kabupaten ini jelas nggak akan dikenal orang banyak. Ini terjadi karena marmer lah yang mengangkat nama kabupaten ini di mata masyarakat luas. Marmer menjadi ikon dari kabupaten ini dan usaha marmer turut berkembang pesat seiring pertumbuhan kabupaten ini.

Tanpa marmer, kabupaten ini nggak akan punya sesuatu yang bisa dibanggakan dan menjadi ikon. Hanya tercatat dalam peta, tanpa cerita.

Pertumbuhan ekonomi bakal rendah

Tulungagung tergolong daerah yang sedang-sedang saja perkembangan ekonominya. Sektor yang paling mengangkat perekonomian kabupaten ini tentu saja industri marmer. Jadi bisa dibayangkan seandainya nggak ada marmer, pertumbuhan ekonomi kabupaten ini bakal rendah. Kalau rendah, angka pendapatan masyarakat dan angka harapan hidup warganya juga rendah. Akibatnya, daerah ini berpotensi menjadi daerah sepi karena dianggap nggak bisa memberikan kepastian kehidupan.

Masyarakat Tulungagung berpotensi hidup dalam bayang-bayang kemiskinan. Investor juga nggak ada yang berani masuk ke sini karena geliat ekonomi di sini tipis dan berisiko tinggi merugi. Selama ini ada investor di Tulungagung karena ada industri marmer yang bisa memberikan kepastian serta jaminan kalau geliat perekonomian di sini menguntungkan.

Baca halaman selanjutnya: Pembangunan infrastruktur tersendat…

Terakhir diperbarui pada 10 April 2025 oleh .

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.