Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Sisi Gelap Fotografer Korporat yang Jarang Diketahui Orang Awam

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
10 Agustus 2024
A A
Sisi Gelap Fotografer Korporat yang Jarang Diketahui Orang Awam

Sisi Gelap Fotografer Korporat yang Jarang Diketahui Orang Awam (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi masyarakat awam, menjadi fotografer mungkin terdengar sebagai profesi yang glamor. Fotografer sendiri banyak jenisnya, ada fotografer pernikahan, fashion, makanan, olahraga, hingga fotografer korporat. Dari sekian banyak jenis tersebut, kali ini kita akan fokus membahas fotografer korporat.

Tak bisa dimungkiri, profesi satu ini membuka peluang untuk berinteraksi dengan berbagai perusahaan bergengsi. Belum lagi, akan menjadi suatu kebanggaan ketika foto hasil jepretan terpampang di papan reklame sepanjang jalan.

ADVERTISEMENT

Akan tetapi sebagaimana pekerjaan lain pada umumnya, terdapat sisi gelap menggelayuti kehidupan fotografer korporat yang tersembunyi di balik kilat kamera. Pilihan mata pencaharian ini bukan hanya tentang mengambil foto yang indah dan bernilai komersial. Sering kali, berbagai rintangan dan tekanan pekerjaan menjadi penguji mental yang tak kenal belas kasihan.

Bayaran besar tidak menjamin kestabilan keuangan fotografer korporat

Mayoritas fotografer korporat menjalani profesi mereka sebagai pekerja lepas. Artinya, mereka dikontrak sesuai proyek yang diajukan perusahaan. Dengan kata lain, mereka tidak memiliki jaminan pemasukan setiap bulan seperti karyawan tetap.

Sering kali, nilai proyek yang tampak besar di awal tidak setimpal dengan risiko yang ditanggung. Sebab, jika terjadi kerusakan alat seperti lensa dan kamera, pengeluaran yang digelontorkan guna memperbaiki atau membeli yang baru bisa jadi hampir menyamai bayaran kontrak. Satu lensa saja bisa mencapai harga belasan hingga puluhan juta rupiah.

Di sisi lain, fotografer korporat wajib memakai perlengkapan terkini sesuai kemajuan teknologi agar hasil yang didapat lebih akurat. Sebab, menangkap objek untuk keperluan suatu industri harus lebih mendetail supaya bisa merepresentasikan nilai organisasi. Menyewa alat pun bukan sebuah solusi mumpuni karena harga sewa per hari cukup tinggi.

Kesialan tidak berhenti sampai di sini. Soal sistem pembayaran, korporasi terbilang berbelit dan memakan waktu lama hingga hitungan bulan. Padahal, selain untuk menyambung hidup, fotografer tetap saja membutuhkan putaran uang untuk modal mengambil proyek berikutnya. Hal ini dikarenakan perusahaan cenderung menerapkan metode reimbursement biaya transportasi. Praktis, kewarasan fotografer korporat diuji di sini.

Ekspektasi klien tidak realistis bikin menangis

Klien korporat tidak jarang menaruh ekspektasi yang tidak realistis tentang apa yang bisa dicapai oleh seorang fotografer. Soal ini tidak melulu berkutat pada hasil akhir, melainkan juga harapan terkait waktu dan anggaran. Misalnya saja ketika hendak mengambil foto muka gedung secara outdoor, fotografer harus memastikan waktu dan cuaca yang mendukung. Jika mendung, jelas pengambilan gambar kudu dibatalkan yang berakibat pada molornya proyek.

Baca Juga:

Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman

Jangan Jadi Fotografer Pernikahan kalau Nggak Kuat Mental, Profesi Ini Bukan untuk Sembarang Orang

Di lain waktu, demi menghemat anggaran, perusahaan meminta pegawai biasa sebagai model foto alih-alih menyewa seorang profesional. Keputusan sepihak ini jelas merugikan fotografer karena harus memandu sedemikian rupa agar karyawan tersebut memahami arahan. Bagaimanapun, daya tangkap model sejati akan jauh berbeda dengan model dadakan.

Tuntutan tak masuk akal juga sering muncul ketika proses editing. Karena tidak berkecimpung di dunia yang sama, kerap kali klien seenak jidat meminta koreksi warna di setiap foto yang hendak dipakai. Bagi orang awam, perkara ini mungkin terlihat sepele. Namun, bagi yang mengerjakan, permintaan ini serasa siksa neraka.

Penderitaan tersebut masih akan terus berlanjut bila pihak klien menginginkan beberapa objek sulit untuk dihilangkan. Misalnya saja adalah bentangan kabel tiang listrik yang malang melintang. Bukan rahasia umum, revisi tak berkesudahan ini sebenarnya dimanfaatkan sederet perusahaan nakal demi menunda pembayaran.

Tumpang tindih kewajiban adalah hal yang biasa

Siapa bilang tugas fotografer hanya memotret dan mengedit? Faktanya, fotografer korporat juga mengalami timbunan pekerjaan yang seharusnya tidak ditanganinya. Salah satunya adalah tuntutan untuk mendalami video juga. Soalnya, banyak klien korporasi yang menginginkan paket lengkap foto dan video dengan harga bundling yang dirasa lebih murah.

Maka dari itu, beban pekerjaan fotografer akan bertambah untuk menyusun alur cerita. Berbeda dengan foto, sebuah video harus bisa menampilkan adegan yang runtut sehingga mudah dicerna siapa pun yang menyaksikannya. Belum lagi, pembuatan moodboard yang selayaknya dipikirkan oleh pihak perusahaan justru dilemparkan kepada fotografer.

Menjalani hidup sebagai fotografer sejatinya merupakan pilihan yang dipenuhi batu terjal. Di balik lensa yang menghasilkan jepretan memikat, sering terselip cobaan kesabaran yang bikin mengumpat. Passion sudah bukan lagi menjadi alasan karena pemenuhan isi perut jauh lebih menuntut.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Wisata Kota Lama Surabaya Sebenarnya Indah asal Oknum Fotografer Nggatheli Diberantas.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2024 oleh

Tags: Fotograferfotografer korporat
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Jangan Jadi Fotografer Pernikahan kalau Nggak Kuat Mental, Profesi Ini Bukan untuk Sembarang Orang

Jangan Jadi Fotografer Pernikahan kalau Nggak Kuat Mental, Profesi Ini Bukan untuk Sembarang Orang

14 September 2024
Fotografer Wisuda Pemalakan Berdalih Profesi yang Diloloskan Panitia Acara (Pixabay)

Fotografer Wisuda: Pemalakan Berdalih Profesi yang Diloloskan Panitia Acara

10 Maret 2023
Kalau Mau Liburan Murah di Jogja, Jangan Bawa Kamera Mahal ala Fotografer Pro! Terminal Mojok.co

Kalau Mau Liburan Murah di Jogja, Jangan Bawa Kamera Mahal ala Fotografer Pro!

15 Maret 2022
Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman Terminal

Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman

25 Mei 2026
Pesan Nonverbal Pak Bas Ketika Jadi Fotografer Dadakan di G20

Pesan Nonverbal Pak Bas Ketika Jadi Fotografer Dadakan di G20

17 November 2022
5 Self Photo Studio di Semarang, Bebas Pose Nggak Malu-malu Lagi Terminal Mojok

5 Self Photo Studio di Semarang, Bebas Pose Nggak Malu-malu Lagi

7 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

20 Juli 2026
Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer Mojok.co

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

20 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
Perpustakaan Kota Batu salah satu tempat terbaik di kota ini, sayang belum banyak orang yang tahu dan mengunjunginya Mojok.co

Perpustakaan Kota Batu salah satu tempat terbaik di kota ini, sayang belum banyak orang yang tahu dan mengunjunginya

19 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.