Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Menghisab Dosa Sosial Indonesia dari Petuah Mahatma Gandhi

Nuraini Dewi oleh Nuraini Dewi
28 Desember 2019
A A
Menghisab Dosa Sosial Indonesia dari Petuah Mahatma Gandhi
Share on FacebookShare on Twitter

Ada petuah dari Mahatma Gandhi yang cukup terkenal. Tujuh Dosa Sosial yang bisa menyebabkan kemerosotan kualitas kehidupan dalam bernegara. Ketujuh dosa sosial menurut Mahatma gandhi, di antaranya ialah, politik tanpa prinsip; kekayaan tanpa kerja keras; perniagaan tanpa moralitas; kenikmatan tanpa nurani; pendidikan tanpa karakter; ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan; dan peribadatan tanpa pengorbanan. Kalau ditelisik lebih jauh lagi, sepertinya Indonesia ini sudah melakukan semua dosa-dosa yang disebutkan oleh Mahatma Gandhi, coba kita bedah satu per satu.

 

Pertama, politik tanpa prinsip. Politik tanpa prinsip ini merupakan politik yang banyak berisi pelintiran kata-kata serta transaksional kekuasaan. Ini sih sudah jelas bagaimana para politisi di negeri ini tidak memiliki integritas, pun tidak ada batas yang jelas diantara ideologi partai politik. Kesimpangsiuran seakan dibiarkan oleh para politisi untuk mengaburkan persepsi masyarakat.

Bisa kita lihat dengan jelas bagaimana dua kubu yang tadinya saling menyerang seakan tanpa ampun menjadi bersatu dengan begitu mudahnya. Kalau salah satu prinsip Gandhi sih, ahimsa, yang berarti anti kekerasan. Tapi kalau kita lihat bagaimana politisi di negeri ini menghadapi masyarakatnya, tanpa perlu penjelasan panjang lebar kali tinggi, kita semua sudah mengetahui jawabannya bahwa ahimsa jelas bukan prinsip politik negara kita~

Dosa kedua adalah kekayaan tanpa kerja keras. Ingin mendapatkan sesuatu secara instan, itulah mental sebagian bangsa Indonesia. Akibatnya, demi memenuhi semua keinginan dengan cepat dan mudah, seseorang akan menghalalkan segala cara. Dapat kita saksikan bagaimana praktik korupsi terjadi di Indonesia. Tidak hanya korupsi yang dilakukan oleh para elit politik saja, tapi juga praktik korupsi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kasus yang mencerminkan mental ‘instan’ itu juga sering kita jumpai. Kalau masih ada yang ingat mengenai kasus penggandaan uang Dimas Kanjeng, nah itu salah satu bukti konkret mengenai mental ‘instan’ masyarakat Indonesia.

Ketiga adalah perniagaan tanpa moralitas. Banyaknya penggelapan pajak dan kasus suap kepada para elit negara untuk melancarkan bisnis merupakan salah satu contoh perniagaan tanpa moralitas yang akan berimbas pada banyak hal, terutama pada ekonomi negara. Padahal, aspek ekonomi merupakan salah satu hal utama untuk membangun negara dan mensejahterakan rakyatnya.

Selama ekonomi negara dikuasai oleh para elit tanpa moral, maka selama itu pula rakyat akan sengsara. Orang yang kaya akan semakin sejahtera dan yang miskin akan semakin melarat. Kesenjangan semakin melebar. Hak-hak pekerja pun sering kali tidak diperhatikan oleh para penguasa, baik penguasa perusahaan alias pemilik modal, maupun penguasa negara. Empati dan simpati para penguasa sudah kandas digilas kenyamanan serta kemapanan. Mereka sibuk memupuk kekayaan setiap saat tanpa memikirkan mereka yang melarat.

Perilaku yang menjadi dosa sosial keempat yakni kenikmatan tanpa nurani. Mental apatis, tidak mau tahu kesulitan orang lain, yang penting dirinya senang. Hal semacam itu yang disebut Gandhi sebagai kesenangan tanpa nurani. Tidak memikirkan orang lain, hanya memikirkan keuntungan dan kesenangannya sendiri meskipun yang dilakukannya jelas-jelas merugikan orang lain. Misalnya, para koruptor yang menikmati uang hasil korupsinya tanpa memikirkan rakyat miskin yang tertindas. Bagi mereka sih, nggak penting mikirin masyarakat miskin. Ngapain? mending juga rapat sambil bobo di gedung ber-AC, kantong tetap tebal pula~

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Lalu, dosa sosial kelima adalah pengetahuan tanpa karakter. Hal itu tentu saja berkaitan erat dengan pendidikan di Indonesia yang sangat sulit untuk merata. Pendidikan karakter paling berhasil di negeri ini adalah karakter menjadi pragmatis nan oportunis. Pendidikan di Indonesia juga lekat dengan perisakan dan kekerasan. Di sekolah, kita jarang sekali mendapat pengajaran mengenai berbagai hal yang bersifat kemanusiaan ataupun toleransi. Sebaliknya, sekolah justru menjadi ajang untuk para siswa melampiaskan ego mereka. Sekolah juga sering kali hanya mengajar target angka, tapi rincihan proses untuk mencapai angka itu sendiri kurang diperhatikan, apalagi dihargai.

Bukan sesuatu yang mengherankan jika berbagai praktik korup sudah terjadi sejak berada di bangku sekolah. Banyak yang mengatakan, di Indonesia ini tidak kekurangan orang pintar dan cerdas, hanya saja kekurangan orang yang jujur serta bermoral.

Walhasil, banyak dari mereka yang pandai dan menguasai sebuah ilmu pengetahuan, tapi menggadaikan ilmu pengetahuannya demi uang dan kekuasaan. Seperti ahli agama yang menjual pengetahuan agamanya demi pundi-pundi rupiah dan kekuasaan. Begitu pula dengan para ahli hukum yang ujung-ujungnya menipu keadilan. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira pendidikan karakter seburuk apa ya, yang ditanamkan kepada para politisi dan elit negeri sehingga bisa sekejam itu kepada rakyat sendiri? hmm~

Pengetahuan tanpa karakter berhubungan dengan dosa sosial keenam yakni ilmu tanpa kemanusiaan. Ketika ilmu pengetahuan telah meninggalkan jiwa kemanusiaannya, maka bencana yang akan menjadi gantinya. Banyak manusia yang mempelajari suatu ilmu pengetahuan tanpa memperdulikan aspek kemanusiaan. Mereka mengeruk keuntungan dari ilmu yang dimilikinya hanya demi diri sendiri, tanpa memperdulikan orang lain.

Seperti perusahaan tambang yang merusak lingkungan sekitarnya dan kemudian merugikan penduduk lokal. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia, juga tidak terlepas dari adanya praktik ilmu tanpa kemanusiaan yang disebutkan oleh Gandhi. Berbagai kasus kemanusiaan yang menimpa Indonesia seperti penculikan atau penghilangan aktivis dan kasus Novel Baswedan misalnya, yang sering kali disebut ada aktor intelektual di belakangnya, juga merupakan cerminan bagaimana jika kecerdasan dan ilmu pengetahuan berjalan tanpa didampingi oleh kemanusiaan.

Kemudian yang dosa sosial ketujuh adalah peribadatan tanpa pengorbanan. Indonesia terkenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya taat dalam beragama. Dapat dilihat dari bagaimana semua hal selalu dikaitkan dengan agama. Namun, pada realitasnya, kekejian yang mengatasnamakan agama kerap kali terjadi di negeri ini. Mulai dari terorisme, hingga diskriminasi oleh satu agama kepada agama lain sangat sering kita saksikan.

Bahkan, dari pihak negarapun seakan ikut memperkeruh keadaan ini, seperti dengan mempersulit izin untuk mendirikan rumah ibadah. Kekerasan terhadap kaum-kaum tertentu juga kerap kali terjadi dan selalu mengatasnamakan agama. Perselisihan atas nama agama seakan tiada habisnya. Padahal, agama manapun pasti mengajarkan perdamaian, bukan sebaliknya.

Nah, kan, lengkap sekali dosa sosial Indonesia ini. Tidak ada satu dosa pun yang terlewati. Apa yang disebutkan oleh Gandhi ada betulnya, tujuh dosa sosial itu menyebabkan kemerosotan kualitas kehidupan dalam bernegara. Namun, bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Indonesia bisa dibenahi dengan kerja sama dari semua lapisan negara, mulai dari rakyat biasa hingga para pejabat negara. Dari yang melarat, hingga konglomerat. Karena tanpa adanya keinginan dan upaya perubahan dari semua lapisan, segala dosa yang disebutkan oleh Gandhi akan terus terjadi dan semakin sulit untuk diampuni~

BACA JUGA Melihat Dunia dari Isi Kepala Mahatma Gandhi atau tulisan Nuraini Dewi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2022 oleh

Tags: dosa sosialmahatma gandhi
Nuraini Dewi

Nuraini Dewi

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Berinvestasi

Dilema Investasi Emas Bikin Maju Mundur: Kalau Beli, Takut Harganya Turun, kalau Nggak Beli, Nanti Makin Naik

30 Maret 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.