Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Perdebatan Film Dua Garis Biru dan Haruskah Karya Seni Memiliki Pesan Moral?

FN Nuzula oleh FN Nuzula
15 Desember 2019
A A
Perdebatan Film Dua Garis Biru dan Haruskah Karya Seni Memiliki Pesan Moral?
Share on FacebookShare on Twitter

Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia, Reza Indragiri, dalam acara Rosi Kompas TV episode “Film, Prestasi dan Kontroversi”, saat diminta tanggapan mengenai film Dua Garis Biru sebagai pemerhati anak menyiratkan bahwa sebuah film harus mengkampayekan isi dari Undang-Undang. Dalam hal ini, pelarangan kontak seksual pada anak dan nikah usia dini yang itu digambarkan dalam film tersebut. Pernyataan ini memantik perdebatan dengan Garin Nugroho mengenai, apakah perlu sebuah film memiliki pesan moral?

Saya rasa munculnya pandangan sebuah film atau karya seni lainnya harus memiliki pesan moral. Hal ini sudah ditanamkan sejak dini di sekolah-sekolah. Saya misalnya, di buku pelajaran Bahasa Indonesia dulu diajarkan, langkah pertama dalam mengarang cerita adalah harus tahu dulu apa pesan yang ingin disampaikan, baru kemudian membuat cerita. Kaidah ini saya pakai untuk membuat cerita drama dalam salah satu tugas pelajaran tersebut.

Bahkan tanpa saya sadari sebelumnya, sepertinya kaidah itu masih saya pakai untuk membuat drama perpisahan waktu MA. Hasilnya tentu adalah karya dengan cerita yang monoton. Seorang suami yang selingkuh lalu dapat musibah sampai akhirnya insaf kembali pada istrinya, misalnya. Persis kayak cerita di sinetron-sinetron adzab.

Kaidah yang saya dapat dari buku pelajaran SD itu ditambah lagi dengan pernyataan guru Bahasa Indonesia saya waktu MA. Beliau mendefinisikan bahwa karya sastra adalah karya yang memiliki pesan kebaikan dan disampaikan dengan cara yang indah. Mungkin pandangan-pandangan inilah yang menciptakan semacam keharusan bahwa film atau karya seni lainnya harus memiliki pesan moral sebagaimana yang disampaikan Pak Reza di atas.

Nah, pandangan ini mendapat tanggapan dari pelaku kesenian yang punya reputasi internasional dan menghasilkan karya dengan tema sensitif seperti Garin Nugroho, sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku dan Eka Kurniawan, novelis Cantik Itu Luka.

Garin, misalnya, dalam acara yang sama langsung menanggapi pernyataan Pak Reza tadi. Bahwa pandangan yang semacam ini bermasalah dan menghambat produktifitas film berkualitas dengan tema yang beragam, sebab film lebih luas dari itu. Selain bisa dibuat untuk menyampaikan pesan, film juga bisa sebagai pemantik ruang diskusi baru, bahan perenungan, potret bagi realitas, dan sebagainya. Mendidik moral pada penonton itu bukan tugas pembuat film.

Senada dengan ini, Eka Kurniawan dalam blog esainya “Pesan Moral” juga menyatakan jengkel dengan anggapan karya seni harus punya pesan moral atau diberi penghargaan karena mengangkat tema tertentu. Ia menuliskan, “Jika ingin menulis karya bermoral, tulislah. Jika ingin menulis karya tak bermoral, tulislah. Yang akan membuat saya membaca novel itu pertama-tama bagaimana ia dituliskan. Menarik atau tidak? Mengasyikkan atau tidak? Kalau sekadar ingin bilang ‘para bayi butuh minum ASI hingga 6 bulan’ cukup tuliskan dalam satu baris kalimat, tak perlu satu novel.”

Intinya, mereka sepakat, boleh sebuah karya seni memiliki pesan, tapi itu tidak wajib. Yang wajib adalah bagaimana sebuah karya itu memiliki kualitas sebagai karya, bukan sebagai pembawa pesan.

Baca Juga:

Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Kangen Band untuk Indonesia

3 Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Film Makmum 2

Dalam konteksnya mengenai perdebatan di acara Rosi tersebut, Pak Reza, Om Garin, dan narasumber lainya bersepakat, klasifikasi umur penonton film dengan isi film juga harus disesuaikan. Lantaran yang dipermasalahkan, apa yang ditangkap oleh anak dapat berpengaruh pada perkembangan mereka. Inilah yang mendasari Pak Reza mengatakan film Dua Garis Biru kurang cocok ditonton oleh anak. Meskipun cara film tersebut menggambarkan penanganan dua masalah di atas oleh keluarga, diapresiasi oleh beliau.

Saya sendiri berpandangan, kalau sebuah karya sampai diwajibkan memiliki pesan moral, berarti ada semacam kekecewaan dan kekhawatiran masyarakat. Seperti kurang berhasilnya lembaga pendidikan formal, informal, dan keluarga dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pembentukan moral yang baik. Untuk kemudian menghasilkan generasi yang berintegritas dan teguh. Sehingga masyarakat perlu mencari opsi lain untuk menutupi kegagalan itu. Kalau lembaga pendidikan moralnya sudah beres, tentu kita akan tenang tenang saja menghadapi film atau novel dengan tema yang biadab sekalipun. Pasalnya, kita punya masyarakat dan generasi yang dapat berpikir secara dewasa.

BACA JUGA Santuy, Film “Dua Garis Biru” Nggak Otomatis Bikin Kita Hamil di Luar Nikah atau tulisan FN Nuzula lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2022 oleh

Tags: Dua Garis Birufilm kontroversialkucumbu tubuh indahkupesan moral
FN Nuzula

FN Nuzula

Dari Pati, Jawa Tengah. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mushonep Fathul Ketip.

ArtikelTerkait

Alasan Kita Bisa Hafal Lirik Lagu, Meski Jarang Mendengarkannya

Pesan Moral dari Lagu Anak, “Johny Johny Yes Papa”

11 Mei 2020
Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Kangen Band untuk Indonesia Terminal Mojok

Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Kangen Band untuk Indonesia

14 Maret 2022
trailer film

Baru Nonton Trailer Film-nya, Udah Ngegas Aja

19 September 2019
Kucumbu Tubuh Indahku

Kucumbu Tubuh Indahku: Sempat Ditolak Tetapi Laku di Pasar Internasional

20 September 2019
3 Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Film Makmum 2

3 Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Film Makmum 2

12 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Sulit Ditemukan Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota Mojok.co

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

20 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.