Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Gus Dur dan Radikalisme dalam Kacamata Kemanusiaan

Adib Khairil Musthafa oleh Adib Khairil Musthafa
25 Oktober 2019
A A
gus dur

gus dur

Share on FacebookShare on Twitter

Radikalisme, narasi menakutkan yang muncul dalam kamus politik kita akhir-akhir ini, terminologi lama yang sengaja kembali dimunculkan dalam kultur politik indonesia setidaknya lima tahun belakangan. Media, negara, politisi sampai netizen mengalamatkan segala bentuk kekerasan, terorisme sampai upaya sistematis mengubah pancasila sebagai ideologi bangsa, kepada satu sebab: “radikalisme”.

Namun, ketakutan itu tak jarang malah dijadikan sebagian kalangan sebagai bahan jualan, komoditas dan alat politisasi yang  seksi, imbasnya segala tindak tanduk masyarakat yang berbau radikal, harus rela dikucilkan atau bahkan diasingkan. Celakanya, phobia radikalisme tak jarang “malah” merampas hak-hak paling mendasar seseorang sebagai warga negara, ketika simbol-simbol ekspresi keagamaan seperti celana cingkrang, jenggot panjang, hingga cadar, dianggap sebagai simbol kaum radikalis.

Padahal, jika saja kita mau konsisten kepada konsep-konsep hak asasi manusia, bukankah hal itu termasuk  kebebasan  dalam berekspresi?

Presiden Jokowi dalam hal ini, telah menempatkan isu seputar radikalisme sebagai salah satu permasalahan penting dalam pemerintahannya, tindakan itu tercermin dengan dibubarkannya HTI (Hisbut Tahrir Indonesia) sebagai ormas yang dianggap sebagai organisasi berpaham radikal.

Sontak, kebijakan tersebut menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan, kritik tajam bahwa Pak Presiden sebagai kepala negara telah menjadi perusak sendi demokrasi, kebijakan berbau represif dan cenderung militeristik yang dilakukan oleh pemerintah dianggap sebagai solusi yang keliru dan bertentangan dengan asas demokrasi.

Akhir-akhir ini isu radikalisme masih menjadi terminologi yang tak habis-habisnya dibahas terutama dalam ranah publik, penusukan Pak Wiranto sebagai mantan Menko Polhukam misalnya, pada akhirnya  diklaim sebagai salah satu ulah dari paham radikalis. Namun, terlepas dari apa sebenarnya  motif sang penusuk saya kira semua paham dengan penjelasan yang telah saya uraikan, ujung sebabnya adalah: radikalisme.

Keseriusan Pak Presiden dalam misinya melawan paham radikalisme tercermin pula dalam pernyataannya di emperan istana ketika mengumumkan para kabinet-kabinet baru yang akan mendampinginya, pemilihan Fathur Rozi dari kalangan militer dianggap pantas dalam upaya memeberantas paham radikalisme.

Namun, jika dipikir-pikir pemilihan menteri agama dari kalangan militer ini,  kok malah menandakan bahwa solusi yang ditawarkan oleh pak presiden gitu-gitu saja: represif dan militeristik.

Baca Juga:

Seandainya Masih Hidup, Mungkin Begini Tanggapan Gus Dur terhadap Pengibaran Bendera One Piece

4 Pertanyaan yang Sebaiknya Jangan Ditanyakan ke Orang Jombang, Bikin Kesal!

Sekilas saya teringat adagium Plato yang ini: “Tidak ada yang lebih abadi dari sebuah ide”

Barangkali itu juga yang menyebabkan kenapa Soekarno menertawakan kebijakan TAP MPR yang ingin menghapus dan melarang komunisme.

“Karena itulah saya anjurkan lebih dulu kepada anggota-anggota MPRS, kalau engkau mengambil keputusan sekadar melarang Marxisme, Leninisme, komunisme, saya akan ketawa,” ujar Soekarno dalam salah satu pidatonya.

Bagi Soekarno, tindakan yang dilarang adalah yang merugikan rakyat dan negara. “Apa yang bisa engkau larang ialah kegiatan daripada Marxisme atau Komunisme atau Islamisme yang merugikan negara,”

Jika radikalisme memang adalah sebuah “paham” saya kira solusi pemerintah bukan solusi yang tepat, pasalnya jika benar yang ingin dihapus adalah radikalisme sebagai sebuah paham saya rasa benar sabda sang Plato bahwa tidak ada yang lebih abadi dari ide.

Argumentasi yang seharusnya dibangun oleh negara adalah argumentasi “mengapa?”, mengapa radikalisme ada, paham patutnya dilawan dengan paham, bukan dengan cara-cara represif.

Setidaknya itu yang saya tangkap jika saja Gus Dur masih hidup,

Sependek yang saya pahami, Gus Dur  adalah satu-satunya presiden yang secara serius menempatkan persoalan Hak Asasi Manusia sebagai prioritas dalam pemerintahannya. Kebijakan-kebijakan seputar kebebasan, kesetaraan dan diskriminasi banyak dikeluarkan di era Gu Dur, mulai dari isu etnis sampai ekspresi keagamaan, banyak dimulai di era Gu Dur.

Kekerasan tidak akan dilawan dengan kekerasan, lihatlah bagaimana cara Gus Dur menyelesaikan persoalan Papua,  bermodal musyawarah dan komunikasi yang baik, soal papua dapat diselesaikan dengan baik oleh Gus Dur, tentunya dengan cara-cara kemanusiaan dan menghormati hukum-hukum kultural masyarakat papua.

Mengakrabkan kembali kehidupan berwarganegara dari sentimen dan framing-framing politik, kemudian memaknai sikap toleransi sebagai sesuatu yang mutlak antar warga negara. Dua cara kultural ini yang barangkali akan dilakukan oleh Gus menagnani soal deradikalisasi.

Gerakan akar rumput ala Gus Dur, dengan misi-misi kemanusiaan dan perdamaian adalah satu bentuk gagasan “deradikalisasi” yang jauh melampaui konsep-konsep konvensional ala pemerintah yang lebih memilih pada cara-cara menghindari, melerai, merepresi hingga meng-counter pelbagai konflik, cara-cara yang saya anggap sama sekali tak menyentuh akar masalahnya.

Sepatutnya, negara banyak belajar dari cara Gus Dur, Mulai dari soal Papua, hingga soal radikalisme, ada banyak pelajaran berharga dari cara-cara Gus Dur dalam menyelesaikan masalah bangsa, tentunya dengan cara-cara kemanusiaan dan perdamaian dan jauh dari solusi-solusi kekerasan, apalagi melibatkan persenjataan.

Setidaknya itulah imajinasi saya, jika saja Gus Dur masih hidup. (*)

BACA JUGA Mahasiswa di Tengah Gempuran Terorisme dan Radikalisme atau tulisan Adib Khairil Musthafa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2019 oleh

Tags: Gus DurkemanusiaanRadikalisme
Adib Khairil Musthafa

Adib Khairil Musthafa

Saya adalah seorang yang suka tidur, menganggur, ngopi, dan bermimpi.

ArtikelTerkait

teologi

Tak Selamanya Teologi Menyebabkan Benturan Keras: Buktinya di Indonesia Teologi Malah Dijadikan Guyonan

12 September 2019
gus baha' mazhab humor mencintai gus dur, humor

Terlambat Mencintai Gus Dur

19 Juni 2020
gus baha' mazhab humor mencintai gus dur, humor

Gus Baha’, Gus Dur, dan Mazhab Humor Mereka

9 Juli 2020
Lah Kocak, Menumpas Radikalisme Kok Pakai Aturan Jangan Bercadar Dan Bercelana Cingkrang

Lah Kocak, Menumpas Radikalisme Kok Pakai Aturan Jangan Bercadar Dan Bercelana Cingkrang

2 November 2019
3 Persamaan Kozuki Oden dengan Gus Dur yang Bikin Mereka Layak Dikagumi terminal mojok.co

3 Persamaan Kozuki Oden dengan Gus Dur yang Bikin Mereka Layak Dikagumi

18 Februari 2021
Lupakan Sejenak Mas Bechi, Ini 6 Fakta tentang Kota Jombang yang Perlu Kalian Tahu

Lupakan Sejenak Mas Bechi, Ini 6 Fakta tentang Kota Jombang yang Perlu Kalian Tahu

16 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.