Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jogja (Sudah Tidak) Istimewa, Gunungkidul (Tetap) Merana

Moddie Alvianto W. oleh Moddie Alvianto W.
24 Juli 2022
A A
Jogja (Sudah Tidak) Istimewa, Gunungkidul (Tetap) Merana. (Unsplash.com)

Jogja (Sudah Tidak) Istimewa, Gunungkidul (Tetap) Merana. (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan Mas Jevi Adhi di Terminal Mojok yang berjudul “Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana” sukses membuat memori lama soal kabupaten ini terpanggil lagi. Sebuah momen di mana ditinggal nikah membuat saya agak goyah. Selama lebih dari tiga bulan saya healing di Gunungkidul.

Yah, waktu itu, nggak ada istilah healing di momen seperti ini. Waktu itu, namanya “lari dari kenyataan” dan menghabiskan waktu dengan senang-senang. Waktu itu pula, saya diajak teman untuk menyingkir barang sejenak dari Kota Jogja. Dan yang sejenak itu berubah jadi tiga bulan dalam sekejap mata. 

ADVERTISEMENT

Teman saya ini memang baik banget. Dia tahu bahwa saya hanya akan makin tenggelam dalam alkohol jika tidak pergi sebentar dari Jogja. Dia menawarkan sejuk di puncak-puncak pegunungan dan kehangatan manusia di Gunungkidul. Dan begitulah, tidak terasa, tiga bulan berlalu begitu saja.

Selama tiga bulan itu, di antara senang-senang kulineran dan main ke pantai, saya menyaksikan beberapa hal kecil yang menyenangkan sekaligus terasa ironis. Izinkan saya menjelaskan beberapa di antaranya.

#1 Soal UMR yang “tak terasa tapi berbahaya”

Seperti yang dijelaskan Mas Jevi, Kabupaten Gunungkidul mencatatkan “dua prestasi” terkait UMK. Pertama, dengan Rp1,9 juta per bulan, jadi yang terendah di DIY. Kedua, berhasil masuk 15 terbawah UMK di Indonesia. Ini catatan sekarang, ya. Ketika saya minggat dari Jogja pada 2009, kalau tidak salah ingat, UMK-nya malah lebih rendah lagi.

Namun, saat itu, banyak anak muda di Gunungkidul yang belum sepenuhnya aware dengan bahaya kondisi ini. Jadi, selama tiga bulan di sana, saya cukup sering jajan di “Bakso Toilet” yang bernama asli Bakso Pak Wariyun. Warung bakso termasyhur yang berada di belakang toilet terminal. Dan si sana, obrolan soal UMK dan UMR pernah muncul ke permukaan.

Lantaran cukup lama berada di sana, saya jadi akrab dengan teman-teman dari teman yang menampung saya. Pada 2008, mereka masih sangat berharap dari sektor pariwisata sebagai pemasukan. Maklum, di tahun-tahun itu, Pantai Indrayanti lagi muncul ke permukaan sebagai salah satu destinasi terbaik. Sebuah kondisi yang membuat banyak anak muda percaya diri lantaran masih banyak pantai yang sebetulnya nggak kalah cantik.

Artinya, masih banyak lokasi yang bisa “dijual” oleh warga lokal dan menjadi andalan di sektor pariwisata. Yah, kalau ngomong Gunungkidul, top of mind-nya memang pantai. Oleh sebab itu, di akhir pekan, nggak heran kalau jalanan di sana didominasi pelancong berplat AB Kota Jogja dan Sleman.

Baca Juga:

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru

Saya mendengarkan obrolan ini dengan perasaan biasa saja. Saya ikut senang karena jadi bakal sering diajak ke pantai sama warga lokal, yang mana pasti nggak perlu bayar retribusi. Nah, soal “eksodus” anak muda untuk mencari pekerjaan di luar Gunungkidul itu sama sekali nggak terbayangkan.

Begitulah, lantaran tak pernah terbayangkan, jadi beberapa orang yang saya kenal waktu itu jadi nggak siap. Banyak dari mereka yang sudah bekerja di Kota Jogja. Lebih banyak lagi yang sudah sampai di Cikarang, Jakarta, sampai Malaysia. Kenapa begitu?

Karena, sekali lagi, sangat terang seperti yang dijelaskan Mas Jevi, banyak anak muda Gunungkidul yang tidak ikut menikmati “kue pariwisata”. Yah, minimal, dapat remah-remah saja. Porsi terbesar justru dinikmati oleh investor dan orang kaya dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Warga lokal sebatas jadi guide, buka warung kelapa muda, menyewakan tikar atau payung pantai, jualan oleh-oleh, jaga retribusi, sampai kuliner di tempat wisata. Eh, mereka yang kerja di hotel yang “agak lumayan” itu ada juga yang dari Kota Jogja, lho. 

ADVERTISEMENT

Pemasukan mereka ada yang terbilang lumayan. Tapi, tetap saja, untuk ukuran orang lokal. Pemilik dari hampir semua “sumber lapangan kerja” adalah orang luar. Kok saya yakin?

Gimana nggak yakin kalau paman salah satu teman saya hampir jadi pemilik sebuah resor di Gunungkidul. Dia sudah ikut bid untuk sebuah lokasi. Namun, akhirnya kalah sama taipan ibu kota.

Orang Gunungkidul seperti nggak jadi tuan rumah di ladang sendiri. Dan, jangan salah, kondisi ini sudah dimulai sejak lama. Ketika orang-orang kaya, baik dari Kota Jogja sampai ibu kota, lebih “punya ide” untuk mengeksploitasi sebuah kekayaan alam. Oleh sebab itu, banyak anak muda yang memilih untuk hengkang.

Mereka ingin jadi “tuan rumah”. Yah, setidaknya, tuan rumah di kontrakan sederhana, di sebuah daerah industri yang jauh dari sejuknya pegunungan di kampung halaman.

#2 Cap udik yang bertahan sampai sekarang

Kamu merasa nggak kalau kesejahteraan ekonomi berpengaruh secara langsung kepada derajat manusia?

Dulu, waktu saya masih bocah, salah satu makian yang terkenal di Kota Jogja itu bunyinya kayak gini: “Dasar cah Tepus. Ndeso banget!”

Di mana Tepus itu berada? Ya tentu saja di Gunungkidul. Sekarang, Tepus sudah menyandang status “Desa Wisata”. Masih gersang dan berbatu, tapi agak lebih dikenal secara positif ketimbang zaman dulu.

Dulu itu, Tepus adalah bayangan orang Jogja untuk sebuah lokasi yang teramat sangat jauh. Sangat terpencil. Gersang. Nggak menarik. Udik. Makanya, cocok untuk makian “Ndeso”. Artinya, kamu yang jadi sasaran makian adalah orang terbelakang secara pendidikan dan kesejahteraan. Sangat nggak menarik. Bikin malu saja untuk dijadikan kawan sepermainan.

Celakanya, gaung makian itu masih terdengar samar sampai sekarang. Nggak lagi pakai isitilah “Tepus”, tapi Gunungkidul secara keseluruhan. Dari Tepus, berubah menjadi “cah nggunung”. Makian yang sama yang dipakai untuk menyindir orang Menoreh, Kulon Progo.

Istilah “cah nggunung” atau “anak gunung” bukan merujuk seorang remaja yang mencintai alamnya. Namun, identik dengan makian bahwa kamu itu udik karena tinggal di gunung.

Kondisi ini seperti membenarkan sebuah pengertian yang dituliskan oleh Mas Jevi, yaitu “Adoh Ratu, cedhak watu.” Orang Gunungkidul itu lebih akrab sama “batu” ketimbang “Ratu” yang bersemayam di Kota Jogja. Ratu di sini merujuk kepada Raja ya, yang berarti Pak Sultan. Dan jauh di sini merujuk ke batin, bukan jarak.

Jogja itu apa masih istimewa?

Sebagai warga asli Jogja, saya sering mengulang pertanyaan itu di dalam hati. Apakah kampung halaman saya masih istimewa? Jujur saja, kok saya merasa sisi itu sudah nggak terlalu relevan.

Gimana ya, terminologi “istimewa” itu kan artinya ‘lain daripada yang lain’ atau ‘luar biasa’. Merujuk ke sesuatu yang sempurna di semua lini. Nah, sampai di sini, saya sebetulnya lelah menjelaskan banyaknya sisi negatif yang mengemuka di Jogja dan sekitarnya.

UMR? Sudah sering. Klitih yang namanya diubah hanya demi sebuah citra? Iya, sudah sering. Kekerasan rasial? Sering juga. Jalanan makin ruwet? Iya juga. Ya kalau hal-hal negatifnya sama kayak kota lain, bagian mana dari Jogja yang masih istimewa. Hanya karena status pimpinan daerah? Ya bisa juga, sih.

Namun, apakah status itu secara otomatis membuat warganya punya kehidupan yang istimewa? Silakan dirembug dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

Gimana ya, di tengah perubahan status dari “Berhati nyaman” ke “Istimewa”, Gunungkidul khususnya, masih tetap merana. Apalagi sekarang ini. Yah, ini semua hanya simbol. Hanya kata-kata hari ini yang terdengar merdu untuk diucapkan.

Semuanya bergantung kepada kualitas individu untuk memuliakan dan peduli kepada sesama. Kalau sisi itu nggak ada, ya anggap saja pemimpin daerah itu nggak ada. Yang ada cuma takhta itu untuk rakyat, demi kesejahteraan rakyat. Bukan untuk orang lain yang terlalu nyaman menyandang status “pemimpin rakyat”.

Penulis: Moddie Alvianto W.

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Warung Bakso Gunungkidul Paling Enak yang Sebaiknya Dicoba.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2022 oleh

Tags: GunungkidulJakartaJogjajogja istimewaPantai Indrayantipanti Gunungkidul
Moddie Alvianto W.

Moddie Alvianto W.

Analis di Rumah Kretek Indonesia. Tinggal di Yogyakarta.

ArtikelTerkait

memborong rumah perumahan banguntapan mojok

Seperti Angkringan di Jogja, Mari Romantisasi Perumahan di Banguntapan

19 Agustus 2020
Secangkir Jawa, Rekomendasi Tempat Nongkrong Orang Madura di Jogja yang Rindu Kampung Halaman

Secangkir Jawa, Rekomendasi Tempat Nongkrong Orang Madura di Jogja yang Rindu Kampung Halaman

17 November 2023
3 Alasan Ayam Geprek Bu Rum Harus Buka Cabang di Jakarta ayam geprek jogja oleh-oleh jogja

3 Alasan Ayam Geprek Bu Rum Harus Buka Cabang di Jakarta

8 Oktober 2024
Kasta Stasiun KRL “Neraka” yang Wajib Diketahui Orang Luar Jabodetabek Mojok.co

Kasta Stasiun KRL “Neraka” yang Wajib Diketahui Orang Luar Jabodetabek

10 Januari 2025
Wisata Palang Pintu Kereta Api, Bukti Warga Jogja Kekurangan Tempat Hiburan

Wisata Palang Pintu Kereta Api, Bukti Warga Jogja Kekurangan Tempat Hiburan

7 November 2023
6 Dosa Penjual Gudeg Jogja yang Sulit Dimaafkan Pembeli Mojok.co

6 Dosa Penjual Gudeg Jogja yang Sulit Dimaafkan Pembeli

25 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Gudeg Sagan adalah duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis

11 Agustus 2026
Es Teh Jumbo, Minuman Orang Miskin yang Kuat Bertahan (Wikimedia Commons) sempol ayam

Sempol ayam memang lebih menarik ketimbang es teh jumbo, tapi secara hitungan bisnis, es teh jumbo pasti lebih untung

14 Agustus 2026
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Kadang orang ikut rewang bukan karena ingin membantu, tapi takut dihujat dan digibahin

12 Agustus 2026
Waiter kerap disepelekan, padahal kerja mereka begitu berat

Waiter kerap disepelekan, padahal kerja mereka begitu berat

12 Agustus 2026
Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja Mojok.co

Pantai Alam Indah tempat wisata Tegal yang tidak spesial, cukup dikunjungi sekali saja

13 Agustus 2026
Kisah bapak saya cari kerja bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang Mojok.co

Kisah cari kerja di generasi bapak saya bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang

13 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.