Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Papua Oh Papua

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
30 September 2019
A A
papua
Share on FacebookShare on Twitter

Bicara soal Papua hari ini sungguh harus hati-hati. Jika perlu berbisik selemah mungkin, agar hati kita saja yang mendengar.

Tragedi kemanusian terlanjur terjadi. Darah anak negeri tumpah sudah. Serangkaian kerusuhan yang mematikan seharusnya sudah lebih dari cukup menyadarkan kita untuk segera duduk bersama, gunakakan bahasa santun, tanggalkan emosi, dan hancurkan egoisme!

Sedikit mengenang masa lalu…

Saya pernah diberi kesempatan beberapa kali pergi ke Papua. Di satu kesempatan saya ngobrol panjang lebar dengan Erik Sarkol, kurator museum Asmat di Agats. Dari mulai hilangnya Michael Rockefeller saat ekspedisi di Papua hingga soal spirit dalam ukiran Asmat.

Sekali saya bertanya hal yang mengendap lama di pikiran soal perangai orang Papua.

“Pak Erik, saya sebenarnya takjub dengan kesantunan orang Papua. Maaf, hal yang sebelumnya justru saya ragukan dapat saya temui”

Beliau mengulum senyum dan sempat terhenti lama.

“Para misionaris yang membuat kami bisa demikian. Mereka yang mengajari kami dari mulai bahasa hingga soal yang remeh, menyapa jika berpapasan”

Baca Juga:

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

Memang betul demikian adanya. Di keremangan malam dan di antar derit papan kayu yang menghubungkan jalan-jalan di atas rawa tersebut saya kerap kaget.

“Selamat malam, Bapak”

Kalau anak kecil atau remaja, biasa mereka hanya mengucapkan selamat malam saja.

Saya pendatang baru. Kami tidak saling mengenal, tetapi mereka lebih dahulu menyapa, tanpa menyelidik siapa saya ini dan apa maksudnya “berkeliaran” di Asmat.

Sikap ‘seandap asor’, berusaha menyapa lebih dulu tersebut terus terang tidak banyak saya temui di wilayah lain di Endonesa. Ini bukan glorifikasi hanya menggambarkan bagaimana mereka sebenarnya terbuka dengan pendatang.

Beberapa bulan ini situasinya sudah lain. Di Papua, salah satu pulau terbesar di dunia, beberapa daeeah seperti menjadi ladang pembantaian. Darah sudah tumpah antara aparat dengan penduduk, penduduk dengan penduduk.

Narasinya akan menjadi lain kalo kita hanya mengabarkan penduduk yang tewas tapi tidak menyebut aparat yang tewas. Penduduk pun mulai coba dibedakan mana yang asli, mana yang pendatang.

Apakah yang akan kita narasikan sekarang setelah menyebut pendatang vs penduduk, konflik sektarian atau antar ras? Tidak bisakah kita menyebut mereka ini semua sebagai korban?

Tragedi ini menjadi semakin sulit diatasi kalau kita marah karena ada sekeluarga Minang yang terbunuh, rumit kalau kita menyebut ada seorang dokter yang rela meninggalkan keluarga di Jogja demi tugas kemanusian. Dalam situasi seperti ini, semua bisa terbunuh.

Belum orang yang marah berdasarkan kesamaan profesi. Marah karena Pak Soeko yang dari Jogja tersebut seorang dokter, marah karena ada aparat yang menjalankan tugas negara terbunuh.

Kalau ada yang melaporkan kejadian rusuh bagaimana? Tergantung dari sisi apa kita memandang. Seringkali orang menganggap bahwa penyampai informasi kerusuhan identik dengan provokator.

Tambah rumit lagi kemudian ada kontra narasinya, “ternyata yang meninggal aparat, bukan mahasiswa”. Aparat atau penduduk kalau urusan nyawa sama berharganya!Ya, termasuk kalau dia membawa bendera OPM sekali pun. Nyawa tetap sama berharganya!

Saya terus terang kecewa kalau ada institusi yang menyebut, “dari 26 korban tewas, 22 di antaranya merupakan pendatang”. Itu belajar komunikasinya di mana?

Katanya NKRI harga mati? Kita ada di manapun di wilayah negeri ini tetap orang endonesa, bukan asli dan pendatang. Mari kita belajar sejarah peradaban manusia, kita semua ini pendatang. Intinya, kita semua ini adalah korban. Kita semua ini sudah rugi menjalani kesia-siaan ini. (*)

BACA JUGA Kerusuhan di Papua: Mau Nyalahin Siapa? atau tulisan Haryo Setyo Wibowo lainnya. Follow Facebook Haryo Setyo Wibowo.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2022 oleh

Tags: kerusuhan di papuakerusuhan papuapapuawamena
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

ArtikelTerkait

Kota Jayapura Nggak Seudik yang Kalian Kira, Jangan Ngadi-ngadi terminal mojok.co

Kota Jayapura Nggak Seudik yang Kalian Kira, Jangan Ngadi-ngadi

4 Februari 2021
merah putih

Merah Putih Tetap Berkibar di Papua

2 September 2019
7 Fakta Unik Terkait Papua yang Saya Temukan di Sana Terminal Mojok

Papua, Irian, dan Segenap Atribut Primitif yang Disematkan

27 April 2023
Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

9 Desember 2025
Meme

Meme Ini Bikin Saya Nggak Habis Pikir

30 Agustus 2019
Saya Terlahir sebagai Anak Papua dan Saya Mensyukuri Banyak Hal terminal mojok.co

Saya Terlahir sebagai Anak Papua dan Saya Mensyukuri Banyak Hal

17 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter, Dihina tapi Jadi Motor Tangguh dan Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.