Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Cara yang Saya Lakukan Saat Menabung di Celengan agar Prosesnya Menyenangkan

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
22 Februari 2021
A A
Cara yang Saya Lakukan Saat Menabung di Celengan agar Prosesnya Menyenangkan terminal mojok.co

Cara yang Saya Lakukan Saat Menabung di Celengan agar Prosesnya Menyenangkan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi sebagian orang, proses menabung di celengan menjadi momok yang cukup menakutkan sekaligus merepotkan. Apalagi, uang yang dialokasikan untuk tabungan terkadang sifatnya fluktuatif. Naik turun dan nggak menentu. Kadang ada, kadang terpakai untuk keperluan lainnya. Itu kenapa, disadari atau tidak, menabung juga butuh komitmen yang paripurna. Biar bisa konsisten atau sesuai harapan.

Masalahnya, hal tersebut juga sempat beberapa kali saya alami. Rasanya sulit sekali untuk menabung di celengan secara konsisten. Malah, terkadang menjadi beban tersendiri. Padahal, hasilnya untuk dinikmati oleh diri sendiri dan untuk kebutuhan di masa mendatang.

Dalam prosesnya, saya sudah beberapa kali melakukan trial dan error saat menabung di celengan. Mencoba cara ini dan itu, untuk mendapatkan skema yang pas dalam menabung sesuai dengan kondisi keuangan terkini. Pernah beberapa kali gagal dan lebih sering uang tabungan malah terpakai.

Dengan trial dan error perlahan saya mulai menemukan cara yang efektif untuk menabung di celengan agar bisa konsisten sekaligus tanpa beban. Apalagi, cara ini terbilang mudah dan bisa diadaptasi oleh siapa pun. Saya yakin, siapa pun, termasuk kalian, bisa melakukan hal ini untuk berbagai keperluan.

#1 Menentukan nominal uang yang ditabung dan lakukan secara konsisten.

Percobaan ini pernah saya lakukan dengan uang Rp20 ribu. Caranya, ketika saya memiliki uang pecahan Rp20 ribu, saya harus langsung menyisihkannya sekaligus memasukkan ke celengan. Di tiga bulan pertama, saya terpaksa bongkar celengan karena ada kebutuhan mendadak.

Hasilnya, tanpa diduga, total tabungan saya kala itu mencapai Rp1 jutaan. Betul-betul angka yang tidak saya duga sebelumnya. Selain karena tidak pernah dihitung, juga dilakukan tanpa beban dan paksaan sedikit pun.

Prinsipnya, “Kalau lagi ada pecahan Rp20 ribu ya syukur, langsung ditabung. Kalau nggak ada, ya nggak usah dipaksain.”

Cara ini juga bisa dilakukan dengan beragam nominal. Ada baiknya menyesuaikan pendapatan atau kemampuan. Misal, Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, dst.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Dalam prosesnya, saya biasa mengandalkan uang kembalian saat berbelanja dengan uang tunai. Misalnya, saya belanja dengan uang Rp100.000, kembaliannya Rp90.000, dengan pecahan Rp20.000 4 lembar, Rp10.000 1 lembar. Jika saya berkomitmen menabungkan uang pecahan Rp20.000, risikonya, 4 lembar Rp20.000-nya mau tidak mau harus ditabung. Sebaliknya, jika pecahannya Rp50.000 1 lembar dan Rp10.000 4 lembar, artinya tidak ada yang ditabung sama sekali.

Ya, mau gimana lagi. Namanya juga kesepakatan untuk hanya menabungkan pecahan uang Rp20.000-an, kan?

Awalnya memang terasa berat. Sangat berat. Itu kenapa, perlu pembiasaan sekaligus komitmen dalam melakukan cara ini. Kalau sudah terbiasa, saya jamin, malah keasyikan sendiri nantinya.

#2 Menabung di celengan hanya pada akhir pekan, tapi nominalnya menyesuaikan tanggal.

Cara ini lebih memacu hitung-hitungan saat menabung. Sisi menariknya, dalam prosesnya seperti sedang bermain gim. Lantaran, secara perlahan dan bertahap nominal yang ditabung di celengan secara perlahan akan semakin meningkat, menyesuaikan tanggal pada akhir pekan.

Prinsipnya sama: pembiasaan, tidak perlu dipaksakan, sekaligus berkomitmen.

Aplikasinya seperti ini. Dalam bulan Februari, misalnya. Sabtu pada minggu pertama jatuh pada tanggal 3. Maka, nominal yang ditabung adalah Rp3.000. Selanjutnya, pada Minggu tanggal 4 Februari, nominal yang ditabung Rp4.000. Sabtu depannya Rp10.000, sedangkan Minggu Rp11.000, dst.

Tentu saja, nominal yang ditabung lagi-lagi menyesuaikan kemampuan. Semisal kalian mau melipatgandakan nominalnya, tanggal 3 yang tadinya Rp3.000 menjadi Rp30.000, ya nggak masalah juga.

FYI, cara kedua ini terasa lebih menyenangkan karena nominal yang ditabung tidak flat dan semakin lama, semakin meningkat.

Bagi saya, mau bagaimana pun, opsi atau variasi dalam menabung, meskipun melalui celengan, tetap diperlukan. Biar prosesnya tetap menyenangkan dan secara bertahap bisa terus dilakukan. Toh, pada akhirnya, uang tabungan bisa menjadi penyelamat kita sewaktu kondisi keuangan sedang kurang mumpuni, kan? Nah, kalau kalian punya opsi lain dalam menabung melalui celengan, idenya boleh dibagikan juga, lho. Barangkali bermanfaat untuk khalayak.

BACA JUGA Arisan Beda dengan Menabung, Jangan Salah Paham! dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2021 oleh

Tags: Menabung di Celengan
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
Vespa Matic: Tampilannya Keren, tapi Payah di Jalan Nggak Rata dan Tanjakan Mojok.co

Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!

21 Februari 2026
4 Makanan Khas Jawa Tengah Paling Red Flag- Busuk Baunya! (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

17 Februari 2026
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras

18 Februari 2026
Bakpia Kukus Kuliner Jogja yang Palsu dan Cuma Numpang Tenar (Unsplashj)

Dear Wisatawan, Jangan Bangga Berhasil Membawa Oleh-oleh Bakpia Kukus, Itu Cuma Bolu Menyaru Kuliner Jogja yang Salah Branding

21 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Zalim yang Mengalahkan Kesalehan Zenix (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

15 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.