Informasi
ADVERTISEMENT

9 tabiat asdos yang meresahkan dan diam-diam menghambat mahasiswa

9 tabiat asdos yang meresahkan dan diam-diam menghambat mahasiswa Mojok.co

Menjadi asisten dosen atau asdos memang bukan pekerjaan sembarangan. Asdos berada di posisi yang cukup penting dalam membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan. Sayangnya, tidak semua asdos memahami posisi tersebut dengan baik. Ada saja tabiat asdos yang bukannya membantu mahasiswa belajar, malah membuat proses pembelajaran semakin melelahkan.

Masalahnya bukan karena asdos masih mahasiswa. Justru status sebagai mahasiswa seharusnya membuat asdos lebih memahami kesulitan teman-temannya. Mereka tahu bagaimana rasanya bingung dengan tugas. Mereka juga tahu bagaimana rasanya mengejar deadline. Namun, ketika diberi sedikit kewenangan, sebagian asdos justru berubah menjadi manusia paling berkuasa di dalam kelas.

#1 Asdos sok jadi dosen killer

Ada asdos yang begitu mendapatkan tugas langsung merasa naik jabatan. Mahasiswa yang bertanya malah dibuat takut. Mahasiswa yang salah menjawab langsung dipermalukan. Pertanyaan sederhana dianggap sebagai bukti bahwa mahasiswa tidak belajar.

Padahal, bertanya adalah bagian penting dari proses pembelajaran. Asdos seharusnya membantu menciptakan ruang belajar yang nyaman. Bukan menciptakan suasana kelas seperti ruang interogasi.

#2 Hobi memberikan tugas mendadak

Tugas sebenarnya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah tugas yang muncul secara tiba-tiba tanpa penjelasan yang jelas. Hari ini diberikan tugas. Besok harus dikumpulkan. Instruksinya hanya beberapa kalimat. Ketika mahasiswa bertanya, jawabannya justru, “Kan sudah dijelaskan.”

Padahal, penjelasan yang diberikan singkat. Itupun seringkali tidak jelas maksudnya. Mahasiswa akhirnya menghabiskan waktu bukan untuk mengerjakan tugas. Namun, menebak sebenarnya asdos menginginkan apa.

#3 Lebih sibuk dengan presensi

Presensi memang penting. Namun, kuliah jangan sampai berubah menjadi perlombaan mengumpulkan tanda kehadiran. Ada asdos yang lebih sibuk mengurusi siapa yang terlambat daripada memastikan mahasiswa memahami materi. Lima menit keterlambatan bisa menjadi persoalan besar.

Mahasiswa yang sudah hadir tetapi tidak memahami pembelajaran justru dianggap bukan masalah. Presensi memang bagian dari administrasi. Tetapi pendidikan seharusnya tidak berhenti pada administrasi.

#4 Asdos yang pelit informasi

Ini salah satu tabiat yang cukup menyebalkan. Ketika mahasiswa bertanya mengenai tugas, jadwal, format pengumpulan, atau materi ujian, jawabannya sangat singkat. Kadang hanya “cek grup”.

Ketika mahasiswa sudah mengecek grup dan tetap tidak menemukan informasi yang dimaksud, pertanyaan kembali dianggap mengganggu. Padahal, komunikasi adalah bagian dari tanggung jawab asdos. Informasi akademik bukan barang pribadi yang harus disimpan rapat-rapat.

#5 Suka mengubah aturan

Hari ini format tugas A. Besok berubah menjadi format B. Minggu depan tiba-tiba ada aturan baru lagi. Yang lebih menyebalkan, perubahan tersebut kadang tidak disampaikan dengan jelas.

Mahasiswa yang mengikuti aturan sebelumnya malah dianggap salah. Perkuliahan membutuhkan kepastian. Mahasiswa sudah memiliki banyak mata kuliah, tugas, organisasi, kegiatan pribadi, dan berbagai urusan lain. Jangan membuat mereka semakin pusing hanya karena aturan yang berubah-ubah.

#6 Menjadikan nilai sebagai alat kekuasaan

Asdos memang bisa memiliki peran dalam penilaian tertentu. Namun, kewenangan tersebut seharusnya digunakan secara profesional. Bukan untuk menakut-nakuti mahasiswa. Kalimat seperti “Kalau macam-macam nanti nilai kalian saya potong” tidak membuat mahasiswa lebih rajin belajar.

Kalimat semacam itu justru menciptakan ketakutan. Mahasiswa akhirnya mengerjakan sesuatu bukan karena ingin memahami materi. Namun, lebih karena takut mendapatkan nilai buruk. Pendidikan yang dibangun dengan ketakutan tentu bukan pendidikan yang sehat.

#7 Ada juga asdos yang tidak mau dikritik

Ada asdos yang bisa memberikan kritik kepada mahasiswa, tetapi tidak siap menerima kritik dari mahasiswa. Ketika mahasiswa menyampaikan bahwa instruksi tugas kurang jelas, dianggap banyak alasan. Mahasiswa mengeluhkan jadwal yang terlalu padat, dianggap malas. Ketika mahasiswa meminta penjelasan tambahan, dianggap tidak memperhatikan.

Asdos tetap manusia. Bisa salah, keliru, ataupun kurang jelas ketika menjelaskan. Menerima kritik bukan berarti kehilangan wibawa. Justru kemampuan menerima kritik menunjukkan kedewasaan akademik.

#8 Asdos ngilang-ngilangan 

Ini juga fenomena klasik. Mahasiswa sudah menunggu. Asdos tidak datang. Pesan tidak dibalas. Grup hening. Beberapa jam kemudian muncul pesan singkat bahwa pertemuan dibatalkan.

Mahasiswa tentu punya kesibukan lain. Waktu mereka juga berharga. Asdos tidak seharusnya meminta mahasiswa menghargai waktu, sementara dirinya sendiri tidak menghargai waktu mahasiswa.

#9 Menganggap mahasiswa harus selalu siap

Ada asdos yang seolah menganggap mahasiswa tidak boleh memiliki kesibukan lain. Tugas diberikan tanpa melihat kalender akademik. Deadline bertabrakan dengan tugas mata kuliah lain. Jadwal diskusi ditempatkan secara mendadak.

Ketika mahasiswa keberatan, jawabannya sederhana, “Kan cuma tugas.” Masalahnya bukan pada satu tugas. Masalahnya adalah ketika semua dosen, asdos, organisasi, dan kegiatan kampus berpikir bahwa tugas mereka adalah satu-satunya kesibukan mahasiswa. Mahasiswa bukan mesin pengerjaan tugas.

Itulah, 9 tabiat asdos yang meresahkan dan diam-diam menghambat pembelajaran mahasiswa. Menjadi asdos sebenarnya hanya sebuah peran akademik. Namun, sebagian orang memperlakukannya seperti mendapatkan jabatan politik.

Sedikit kewenangan langsung digunakan untuk mengatur banyak hal. Mahasiswa yang berbeda pendapat dianggap melawan. mereka  yang banyak bertanya dianggap merepotkan. Mahasiswa yang mengkritik dianggap tidak sopan.

Padahal, asisten dosen bukan penguasa kelas. Asdos adalah bagian dari ekosistem pembelajaran. Tugas utama asdos seharusnya membantu proses akademik berjalan lebih baik. Bukan memperlihatkan siapa yang paling berkuasa.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengalaman Saya Nekat Menjadi Asisten Dosen Ilegal: Kena Damprat Petugas Lab hingga Diangkat Jadi Asisten Resmi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2026 oleh .

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

Exit mobile version