Batagor punya fungsi sosial yang sangat penting. Ia bukan makanan utama, tapi juga bukan sekadar camilan. Namun, ia adalah penunda lapar yang sah. Kamu bisa membelinya dengan harga murah, enak, dan cukup mengenyangkan.
Namun, tidak semua batagor layak dipercaya. Bagi masyarakat urban yang sering hidup di antara jam kerja panjang dan saldo yang pendek, membeli batagor yang tidak enak bisa bikin harimu kacau.
Oleh sebab itu, saya melakukan pengamatan. Dan, berikut adalah 9 ciri-ciri batagor yang sudah pasti enak.
#1 Garing dan merekah: Batagor dengan harga Murah, tapi tidak murahan
Batagor yang enak harus garing dan merekah. Renyah di luar, empuk di dalam. Ini penting, karena di tengah hidup yang sering terasa setengah-setengah, orang kota butuh sesuatu yang tuntas. Batagor lembek terasa seperti janji yang tidak ditepati: ada, tapi mengecewakan.
Garing yang benar adalah perlawanan kecil terhadap logika “yang penting murah”. Murah boleh, asal tidak asal.
#2 Isian lengkap
Pangsit, tahu, batagor bulat, dan otak-otak bukan sekadar variasi. Ini soal keadilan. Ketika makan besar harus ditunda, batagor mengambil alih peran penting: membuat perut percaya bahwa ia sudah dipedulikan.
Isian yang timpang terasa seperti sistem yang tidak adil. Lengkapnya isi adalah bentuk value for money paling konkret bagi warga kota.
#3 Bumbu kacang sebagai unsur vital batagor
Bumbu kacang adalah pusat ideologi batagor. Gurih, sedikit manis, dan tidak pahit. Di hari yang melelahkan, konsistensi rasa adalah kemewahan kecil.
Bumbu pahit biasanya tanda dua hal: kacang gosong atau ketidaksabaran. Keduanya tidak cocok untuk makanan rakyat. Batagor yang enak harus menenangkan, bukan mengingatkan bahwa hidup sudah cukup pahit tanpa bantuan saus.
#4 Menyediakan timun
Timun mungkin tidak mengubah status gizi secara signifikan, tapi ia penting secara psikologis. Ia memberi rasa seimbang di tengah minyak dan gorengan. Di kota, ilusi sehat sering kali sudah cukup untuk membuat seseorang merasa masih mengontrol hidupnya.
#5 Memakai minyak jernih
Minyak goreng yang jernih adalah bentuk etika. Di tengah hidup urban yang penuh kecurigaan, harga naik, kualitas turun, minyak bersih memberi rasa aman.
Ia seperti berkata, “Tenang, kamu tidak sedang dibohongi.” Dan untuk ukuran gorengan, itu sudah sangat berarti.
#6 Daun bawang sebagai detail yang menandakan niat jualan batagor
Daun bawang bukan soal mahal atau murah, tapi niat. Tanpanya, batagor terasa selesai tapi kosong. Kehadirannya memberi aroma segar dan kesan bahwa makanan ini dibuat dengan perhatian, bukan sekadar rutinitas.
#7 Jualan memakai gerobak kayu yang sudah tua
Gerobak kayu yang tampak tua dan sederhana menyimpan konsistensi yang tidak dimiliki bisnis modern. Ia tidak rebranding, ngapain ikut tren, dan mana mungkin menjual cerita palsu. Ia hanya bertahan. Dalam ekonomi urban yang fluktuatif, konsistensi semacam ini memberi rasa aman.
#8 Penjual ramah
Sapaan singkat, senyum ringan, dan logat lokal sering menjadi satu-satunya percakapan hangat hari itu. Tidak ada SOP, tidak ada skrip pelayanan. Hanya manusia melayani manusia. Dan entah kenapa, batagor selalu terasa lebih enak setelahnya.
#9 Garpu cacat dan talenan kayu untuk memotong batagor
Garpu yang tidak sempurna dan talenan kayu yang sudah aus bukan tanda kemiskinan, melainkan jam terbang. Benda-benda ini telah menemani pelajar hemat, pekerja lembur, dan perantau tanggal tua. Batagor enak sering lahir dari alat-alat yang setia, meski tidak ideal.
Itulah 9 ciri penjual batagor yang, biasanya, sudah pasti enak. Sebagai wujud kawan dari kaum urban, camilan ini memang telak menggambarkan kompleksitas kehidupan. Semuanya harus saling melengkapi.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
