#5 Mbecek: Satu kata, beda dunia
Kalau di banyak daerah Jawa Timur, kondangan dikenal sebagai buwuh atau nyumbang, lain ceritanya dengan Banyuwangi.
Di lingkungan saya, kegiatan datang ke hajatan sambil membawa amplop itu disebut mbecek. Masalahnya, di telinga sebagian orang Jawa, mbecek memiliki arti basah, kotor, atau situasi yang ribet.
Jadi ketika saya bilang, “Besok aku mbecek,” reaksinya bukan, “Oh, kondangan,” tapi, “Lho, kenapa? Kehujanan?” Di sinilah letak keindahan sekaligus kekacauan Bahasa Jawa. Satu kata, beda dunia.
#6 Sawi, istilah dalam Bahasa Jawa paling membagongkan
Yang ini mungkin istilah dalam Bahasa Jawa paling membagongkan. Di Banyuwangi, sebutan sawi merujuk pada satu umbi-umbian yaitu singkong atau ketela pohon. Sumber karbohidrat rakyat.
Tapi begitu keluar daerah, seperti di Malang, Surabaya, dan sekitarnya, saya baru sadar bahwa sawi adalah sayuran hijau yang biasa nongkrong di mangkok mi ayam saya. Itu Namanya sawi.
Dua benda. Satu kata. Dan tidak ada yang salah. Hanya berbeda konteks saja.
#7 Tilik, berpotensi bikin orang salah sangka
Kosakata berikutnya datang dari dapur, secara harfiah. Di Banyuwangi, tilik bukan urusan sosial, apalagi rumah sakit. Tilik, ngetilik, tilikono adalah kegiatan yang sangat spesifik yaitu mengicip makanan.
Ibu dan mbah saya sering mengucapkan ini saat masak. “Coba tilik sek, wes gurih apa durung?”
Artinya jelas yaitu, cicipi, cek rasanya, pastikan masakannya layak disajikan tanpa memicu konflik keluarga. Makanya, bagi saya, tilik selalu berhubungan dengan lidah, bukan dengan empati.
Sampai suatu hari, saya mendengar kalimat, “Niliki wong loro.” Otak saya langsung error. Kenapa orang sakit malah disuruh diicip? Kurang kerjaan apa kurang bumbu?
Dan barulah saya paham bahwa di daerah lain, terutama Jawa Tengah, tilik berarti menjenguk, seperti yang dipopulerkan lewat film Tilik dengan Bu Tejo dan rombongan ibu-ibu yang penuh dinamika sosial itu. Sementara di Banyuwangi, untuk menjenguk orang sakit, saya lebih akrab dengan istilah ngendangi. Jadi wajar kalau awalnya saya kaget. Di satu tempat, tilik itu urusan rasa. Di tempat lain, urusan rasa… tapi rasa sosial.
#8 Empakne, istilah Bahasa Jawa yang paling sering bikin ketawa
Istilah dalam Bahasa Jawa ini mungkin terdengar sepele, tapi cukup sering bikin kebingungan kecil yang berujung tawa. Jika di lingkungan saya, empakne adalah kata kerja, yang sangat praktis. Memiliki arti menyalakan atau mengaktifkan sesuatu, biasanya benda elektronik.
Contoh paling sederhananya seperti, “Empakne lampune kae.” Artinya tidak filosofis, hanya permintaan agar lampu dinyalakan supaya tidak gelap dan tidak menabrak meja. That’s simple.
Masalahnya, ketika istilah ini saya pakai di depan teman dari daerah lain yang sama-sama wong Jawa, reaksinya sering datar, bahkan bingung. Ada yang diam, ada yang bertanya ulang, ada juga yang langsung menertawakan, “Bahasa Jawamu aneh banget, e.”
Saya pun ikut tertawa. Bukan karena tersinggung, tapi karena sadar, bahkan untuk hal sesederhana menyalakan lampu, Bahasa Jawa bisa berbeda kamus. Ujung-ujungnya, kami sering menyerah dan kembali ke Bahasa Indonesia. Bukan karena Bahasa Jawa kurang kaya. Tapi justru karena terlalu kaya sampai perlu penerjemah dadakan.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 4 Kosakata Bahasa Jawa yang Sering Salah Penggunaannya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















