7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal (wikipedia.org)

Saya orang Kebumen yang melihat banyak hal ganjil di tanah kelahiran ini. Namun, hal itu tidak dilihat sebagai keanehan oleh warga lain. Mungkin karena hal-hal itu sudah terlalu lama hidup bersama warganya ya. Diwariskan turun-temurun hingga diterima sebagai bagian dari keseharian. Pendatang mungkin mengernyitkan dahi, tapi orang Kebumen akan menjawab santai, “Lha, biasane ya ngono.”

Bagi orang luar, Kebumen bisa terasa membingungkan. Ritme hidupnya pelan, respons warganya sering setengah bercanda, dan banyak kebiasaan yang tidak masuk logika kota besar. Tapi, justru di situlah letak normalitas versi lokal bekerja. Berikut tujuh kebiasaan orang Kebumen yang sering bikin pendatang heran, tapi sama sekali tidak aneh bagi warga setempat.

#1 Orang Kebumen cenderung santai menghadapi hidup yang jelas-jelas tidak santai

Pendatang sering bingung melihat orang Kebumen yang tetap santai meski hidupnya sedang seret. Gaji pas-pasan, pekerjaan tidak tetap, harga kebutuhan naik, tapi raut wajah tetap tenang. Bahkan masih sempat bercanda di warung kopi.

Bagi orang Kebumen, kepanikan tidak menyelesaikan apa pun. Maka, yang dipilih adalah menerima keadaan sambil tetap bergerak sebisanya. Kalimat seperti “sing penting mlaku” atau “pelan-pelan wae” bukan tanda menyerah, tapi strategi bertahan.

Pendatang mungkin melihat ini sebagai sikap pasrah berlebihan. Tapi, bagi warga lokal, inilah cara menjaga kewarasan di tengah realitas yang tidak selalu ramah.

#2 Menganggap basa-basi sebagai kewajiban sosial

Di Kebumen, basa-basi bukan sekadar formalitas. Ini adalah kewajiban sosial yang jika dilewati bisa dianggap tidak sopan. Bertemu tetangga tanpa menanyakan kabar atau tidak menyapa? Siap-siap dicap sombong.

Uniknya, basa-basi ini sering tidak benar-benar membutuhkan jawaban jujur. Saat ditanya “kepriwe kabare?” jawaban “apik” sudah cukup, meski kenyataannya tidak selalu demikian. Yang penting adalah ritual sosialnya terpenuhi.

Pendatang mungkin menganggap ini buang-buang waktu. Tapi, bagi orang Kebumen, basa-basi adalah lem perekat sosial. Tanpanya, kehidupan kampung bisa terasa dingin dan individualistis.

#3 Merasa jauh itu relatif, asal masih satu kabupaten

Bagi orang Kebumen, jarak seringkali diukur dengan logika yang membingungkan pendatang. Perjalanan satu jam naik motor masih dianggap “cedhak (dekat)”. Selama masih satu kabupaten, rasa capek bisa dinegosiasikan.

Hal ini membuat pendatang heran melihat orang Kebumen yang rela datang ke hajatan jauh hanya demi menjaga hubungan. Tidak hadir bisa dianggap kurang menghargai, meski jaraknya melelahkan.

Normalitas versi lokal bekerja dengan logika sosial, bukan efisiensi. Jarak kalah penting dibanding rasa sungkan dan kewajiban menjaga relasi.

Baca halaman selanjutnya: #4 Pasar tradisional …

#4 Pasar tradisional Kebumen lebih ramai dari mal

Kebumen punya mal. Bangunannya ber-AC, ada eskalator, dan tenan modern. Tapi, jangan harap ramai seperti mal di kota besar. Yang benar-benar hidup justru pasar tradisionalnya terutama saat hari pasaran tiba.

Setiap kali Legi, Pahing, Pon, Wage, atau Kliwon, pasar tradisional berubah jadi episentrum kehidupan sosial. Orang datang bukan cuma untuk belanja, tapi juga untuk bertemu tetangga, basa-basi, bergosip, dan merasakan kehangatan komunitas yang tidak bisa didapat di mal ber AC.

Pendatang yang terbiasa dengan kenyamanan mal mungkin bingung kenapa orang Kebumen lebih suka berdesak-desakan di pasar yang panas dan penuh bau amis? Kenapa rela tawar-menawar untuk selisih seribu rupiah?

Bagi warga lokal, pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Ini adalah ruang sosial tempat identitas lokal terus direproduksi. Di pasar, kamu bisa tahu siapa yang baru melahirkan, siapa yang lagi sakit, siapa yang anaknya baru lulus kuliah. Informasi mengalir lebih cepat dari grup WhatsApp.

Dan, yang lebih penting di pasar, kamu masih bisa nawar. Di mal? Harga sudah pasti, tidak ada ruang negosiasi. Bagi orang Kebumen, menawar bukan soal pelit, tapi soal seni berkomunikasi dan menjaga harga diri sebagai pembeli yang “pintar”.

Jadi jangan heran kalau mal di Kebumen sepi saat pasar tradisional ramai. Ini bukan soal daya beli, tapi soal pilihan gaya hidup.

#5 Menganggap pulang kampung sebagai kewajiban moral

Orang Kebumen punya ikatan emosional kuat dengan kampung halaman. Merantau boleh, sukses boleh, tapi pulang tetap wajib setidaknya saat momen penting.

Pendatang sering heran melihat orang Kebumen yang rela menghabiskan tabungan demi mudik atau datang ke acara keluarga. Secara ekonomi mungkin tidak rasional, tapi secara sosial itu hal mutlak.

Kampung halaman bukan sekadar tempat tinggal, tapi identitas. Tidak pulang bisa dianggap kehilangan akar, bahkan kehilangan diri sendiri.

#6 Di Kebumen, makan pakai nasi tiwul itu biasa, bukan karena susah

Kalau kamu lihat orang Kebumen makan tiwul di warung, jangan langsung kasihan. Ini bukan soal ekonomi, tapi soal selera dan kebanggaan kuliner. Tiwul makanan dari singkong yang ditumbuk adalah comfort food sejati bagi warga Kebumen.

Bahkan, orang Kebumen yang sudah sukses dan tinggal di Jakarta pun, kalau pulang kampung pasti nyari tiwul. Mereka bisa makan nasi putih setiap hari, tapi tetap kangen tiwul. Bagi pendatang, ini aneh. Kok makanan yang teksturnya kayak pasir bisa dijadikan kesukaan? Tapi, bagi orang Kebumen, tiwul itu bukan cuma makanan ini adalah bagian dari jati diri mereka.

#7 Ngelawan arus di jalan raya? Santai aja

Kalau kamu berkendara di Kebumen dan tiba-tiba ada motor dari arah berlawanan di jalur yang sama denganmu, jangan panik. Ini bukan kecelakaan yang akan terjadi, ini cuma orang Kebumen yang mencari jalan pintas.

Mereka akan nyerobot jalur berlawanan dengan santainya, terus balik lagi ke jalur yang benar seakan tidak terjadi apa-apa. Bagi pendatang yang masih kaku dengan aturan lalu lintas, ini bikin jantung copot. Tapi, bagi warga lokal? “Ah, biasa. Kan cuma sebentar.”

Prinsip mereka sederhana kalau ada jalan lebih cepat, kenapa harus jauh-jauh? Efisiensi ala Kebumen memang punya logikanya sendiri.

Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin terlihat aneh dari luar. Tapi bagi orang Kebumen, inilah cara hidup yang paling masuk akal. Mereka tumbuh di lingkungan yang mengajarkan bahwa bertahan tidak selalu harus keras, dan kebahagiaan tidak selalu datang dari percepatan.

Normalitas lokal ini memang tidak selalu kompatibel dengan logika kota besar. Tapi justru di situlah orang Kebumen menemukan ritme hidupnya sendiri pelan, hangat, dan penuh toleransi terhadap ketidaksempurnaan.

Mungkin pendatang perlu waktu untuk memahami. Atau cukup menerima satu hal di Kebumen, tidak semua yang terlihat aneh itu salah. Bisa jadi, ia hanya berbeda cara bertahan hidup.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya walau dengan Berat Hati.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version