6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Waktu pertama kali tinggal di Solo, saya sempat merasa kota ini seperti berjalan di tempo yang berbeda dari hidup saya. Kalau di kota lain orang-orang kelihatan sibuk ke mana-mana, di sini banyak yang seperti nggak terlalu tergesa, tapi juga nggak benar-benar santai. Awalnya saya kira ini cuma perasaan perantau yang belum adaptasi. Ternyata, ini memang soal kebiasaan.

Semakin lama tinggal di Solo, saya mulai sadar ada banyak hal yang dulu saya anggap aneh, tapi pelan-pelan malah saya tiru. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena kebiasaan itu ternyata bikin hidup lebih ringan. Ini lima di antaranya.

Orang Solo suka ngobrol lama, padahal intinya cuma mau nanya sedikit

Di Solo, nanya alamat atau pesan makanan bisa jadi pembuka obrolan panjang. Yang saya mau cuma tahu arah ke warung makan, tapi malah dapat cerita soal pemilik warungnya, anaknya sekolah di mana, sampai harga cabai yang naik turun.

Awalnya saya bingung, ini kenapa jadi panjang banget. Dalam kepala saya, interaksi ideal itu singkat, jelas, selesai. Tapi di Solo, ngobrol itu bukan sekadar alat tukar informasi, tapi bagian dari relasi sosial.

Lama-lama saya ikut kebawa. Kalau ketemu bapak-bapak di warung, saya nggak lagi buru-buru cabut setelah bayar. Duduk sebentar, dengar cerita, meski sering nggak tahu harus merespons apa selain, “nggih, nggih.”

Dan anehnya, setelah itu hari terasa sedikit lebih manusiawi.

Jalan santai, padahal nggak sedang libur

Saya pernah heran kenapa banyak orang di Solo jalan seperti nggak punya deadline. Nyebrang santai, naik motor juga nggak terlalu ngebut, bahkan kalau telat pun ekspresinya tetap kalem. Sebagai orang yang terbiasa hidup pakai jam dan alarm, ini terasa aneh. Saya selalu mikir bukannya kita semua sama-sama dikejar waktu?

Tapi lama-lama, ritme kota ini memaksa saya menurunkan kecepatan. Bukan jadi malas, tapi jadi lebih sadar kalau nggak semua hal harus diselesaikan dengan panik.

Sekarang, kalau jalan ke minimarket atau kampus, saya nggak lagi merasa harus terburu-buru. Toh, Solo juga nggak sejauh itu ke mana-mana. Capek iya, tapi capek yang nggak ditambah cemas.

Makan manis tanpa banyak protes

Soal makanan, ini mungkin yang paling sering jadi bahan debat kenapa hampir semua makanan di Solo rasanya manis.

Waktu awal datang, saya termasuk tim yang sering protes dalam hati. Soto kok manis, nasi liwet manis, bahkan sambal pun kadang terasa ada manis-manisnya. Rasanya seperti lidah saya sedang diuji kesabarannya. Tapi entah bagaimana, setelah beberapa bulan, saya berhenti komplain. Bukan karena rasanya berubah, tapi karena lidah saya yang menyesuaikan.

Sekarang malah aneh kalau makan makanan yang rasanya terlalu asin atau pedas ekstrem. Ada bagian dari diri saya yang mulai merasa, “kok nggak ada manis-manisnya, ya?”

Di titik ini, saya sadar bahwa saya sudah resmi kena infiltrasi budaya rasa.

BACA JUGA: Panduan Mengenal Kota Solo, Solo Raya, Solo Coret, dan Surakarta untuk Perantau yang Sering Bingung

Bilang “nggih” untuk hampir semua situasi di Solo

Di Solo, kata “nggih” itu multifungsi. Bisa berarti setuju, bisa berarti paham, bisa juga berarti, “saya dengar, tapi belum tentu sepakat.”

Awalnya saya bingung, ini orang sebenarnya setuju atau cuma sopan? Karena terbiasa bicara langsung dan tegas, saya sering merasa komunikasi di Solo terlalu muter-muter. Tapi lama-lama saya paham ini bukan soal menghindari kejujuran, tapi soal menjaga suasana tetap adem.

Sekarang, tanpa sadar, saya juga sering pakai “nggih” buat meredam konflik kecil. Bukan karena takut beda pendapat, tapi karena nggak semua perbedaan harus langsung dibenturkan.

Ternyata, hidup lebih tenang kalau nggak semua hal diperdebatkan sampai tuntas.

Nyebut semua orang dengan “Mas” dan “Mbak”, termasuk pada yang lebih muda

Di Solo, semua orang adalah “Mas” dan “Mbak”. Nggak peduli dia lebih muda, lebih tua, atau sebaya. Bahkan bocah SD pun bisa dipanggil “Mas” kalau dia lagi jual gorengan.

Pertama kali denger temen saya manggil anak kuliahan dengan “Mbak”, padahal temen saya jelas lebih tua, saya langsung protes.

“Lho, dia kan lebih muda dari kamu!”

“Ya gak papa, lebih sopan aja.”

Saya mikir ini aneh banget. Tapi ternyata kebiasaan ini tuh bikin komunikasi jadi lebih akrab dan menghormati siapa pun, tanpa harus ribet mikir siapa yang lebih senior. Semua orang merasa dihargai.

Sekarang? Saya sudah otomatis manggil tukang ojek yang masih ABG dengan “Mas”. Bahkan waktu pulang kampung, saya sempat manggil adik sepupu saya dengan “Dek Mas”, yang langsung bikin keluarga besar saya ngakak.

BACA JUGA: 8 Aturan Tak Tertulis di Solo yang Wajib Kalian Tahu Sebelum Datang ke Sana

Nongkrong tanpa tujuan yang jelas

Di banyak kota, nongkrong sering punya tujuan, seperti diskusi, kerja, meeting, atau minimal foto buat story. Di Solo, nongkrong bisa sesederhana duduk, pesan teh, lalu bengong. Awalnya saya ngerasa ini buang waktu. Duduk lama tapi nggak ngapa-ngapain, terus buat apa?

Sampai suatu titik, saya ikut duduk di angkringan, dengar motor lewat, dengar orang ngobrol, dan menyadari ternyata ini bentuk istirahat yang jarang kita beri ke diri sendiri. Bukan istirahat fisik, tapi istirahat dari keharusan untuk selalu produktif.

Sekarang saya paham, kenapa banyak orang betah lama-lama di sini. Karena kota ini memberi ruang buat nggak selalu jadi siapa-siapa.

Tinggal di Solo pelan-pelan mengubah cara saya hidup. Bukan lewat nasihat besar atau slogan motivasi, tapi lewat kebiasaan kecil yang awalnya terasa aneh, lalu terasa masuk akal, dan akhirnya jadi bagian dari keseharian.

Mungkin memang begitu cara kota ini bekerja. Nggak memaksa kita berubah cepat, tapi mengajak pelan-pelan menurunkan nada hidup. Sampai suatu hari, saya sadar bahwa saya sudah bukan orang yang sama seperti waktu pertama datang.

Dan anehnya, saya nggak keberatan sama sekali.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Solo, Kota yang Hanya Ramah ke Wisatawan, tapi Tidak ke Warga Lokal 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version