Membangun rumah di Tegal ternyata nggak sederhana seperti bayangan banyak orang. Tidak hanya butuh fondasi, bangun tembok, pasang genting, lalu selesai. Ada perkara yang lebih rumit dari sekadar urusan tukang dan material bangunan yaitu tradisi.
Bagi sebagian masyarakat Tegal, rumah bukan cuma bangunan yang kelak punya pintu, jendela, dan genting. Rumah juga berarti tempat yang proses pembangunannya perlu dilakukan sesuai dengan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di Tegal, ada beberapa kebiasaan yang masih dilakukan sebelum atau ketika rumah mulai dibangun. Berikut 5 tradisi dalam proses membangun rumah di Tegal yang belum banyak diketahui banyak orang, tapi menarik dikulik lebih jauh.
#1 Rumah Tegal dilarang membangun rumah tusuk sate
Rumah tusuk sate adalah rumah yang terletak tepat di ujung persimpangan atau pertigaan jalan lurus. Dengan kata lain, posisinya berhadapan langsung dengan jalur kendaraan yang datang dari arah depan.
Dalam kepercayaan orang Tegal, rumah dengan posisi seperti ini sering dikaitkan dengan berbagai mitos. Mulai dari penghuninya dipercaya akan lebih sering mengalami nasib buruk atau kesulitan dalam memperoleh rezeki. Suasana rumah juga dianggap panas sehingga dapat memicu pertengkaran antar anggota keluarga. Selain itu, rumah tusuk sate dipercaya menjadi tempat yang disukai makhluk halus untuk tinggal.
Mitos mengenai rumah tusuk sate juga dikenal di Tegal. Karena itu, masyarakat Tegal tidak hanya memperhatikan berbagai pertimbangan dalam membangun rumah, tetapi juga memperhatikan detail lokasi ketika membeli atau menempati rumah, termasuk posisi rumah terhadap jalan dan persimpangan.
#2 Ada lawang butulan
Lawang butulan adalah istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada pintu kecil, pintu tembusan, atau pintu belakang yang biasanya digunakan sebagai pintu servis. Dalam membangun rumah, masyarakat Tegal juga memperhatikan keberadaan lawang butulan sebagai salah satu bagian dari tata letak rumah.
Menurut kepercayaan masyarakat, keberadaan lawang butulan dipercaya dapat memudahkan penghuni rumah dalam memperoleh rezeki serta menjaga kesehatan. Sebaliknya, jika rumah tidak memiliki lawang butulan, terdapat mitos bahwa penghuni akan mengalami kesulitan atau kesetaraan dalam hal rezeki dan lebih sering menghadapi masalah kesehatan.
#3 Munggah suwunan yang masih dipertahankan di Tegal
Munggah suwunan yang juga dikenal dengan sebutan munggah molo atau munggah genteng. Ini merupakan tradisi adat masyarakat Jawa yang dilakukan ketika menaikkan dan memasang kerangka kayu atau balok pada bagian puncak atap rumah. Tradisi ini juga masih dipertahankan oleh masyarakat Tegal dalam proses pembangunan rumah.
Dalam pelaksanaannya, selain memasang bendera Merah Putih, masyarakat juga menyiapkan berbagai macam sesajen, seperti kelapa muda, pisang raja, serta bunga mawar dan melati. Pada balok puncak atap atau suwunan, biasanya dililitkan kain batik yang di dalamnya diletakkan emas atau uang koin kuno.
Menurut kepercayaan masyarakat, berbagai perlengkapan tersebut dipercaya dapat mencegah makhluk halus tinggal di dalam rumah. Konon, apabila perlengkapan tersebut dipasang pada suwunan, makhluk halus akan lebih memilih menempati bagian balok kayu utama tersebut daripada tinggal di ruang-ruang yang dihuni manusia.
#4 Tradisi buka kaki diperlukan sebelum membuat pondasi
Di Tegal, sebelum pembangunan pondasi dimulai pada keesokan harinya, masyarakat biasanya mengadakan selamatan pada malam sebelumnya di atas tanah yang akan didirikan bangunan. Dalam acara tersebut, pemilik rumah mengundang kerabat serta tetangga di sekitar lokasi untuk berkumpul dan berdoa bersama.
Setelah selamatan selesai, beberapa orang biasanya berjaga atau begadang di lokasi tersebut hingga waktu subuh. Tradisi ini dikenal dengan sebutan buka kaki. Tradisi buka kaki dipercaya bertujuan agar proses pembangunan rumah dapat berjalan lancar dan terhindar dari berbagai hambatan.
Selain itu, buka kaki juga berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan makhluk halus di tanah yang sebelumnya masih kosong. Oleh karena itu, tradisi ini juga dimaknai sebagai upaya untuk mengusir makhluk halus yang dipercaya menempati lokasi tersebut.
#5 Tradisi boyongan yang panjang
Ketika rumah telah selesai dibangun, masyarakat Tegal tidak serta-merta langsung menempatinya. Masih terdapat satu prosesi yang dilakukan, yaitu boyongan, yang berarti pindahan. Namun, boyongan bukan sekadar kegiatan memindahkan barang dari rumah lama ke rumah baru, melainkan dilakukan melalui serangkaian prosesi adat.
Di kampung saya, dalam prosesi boyongan, ibu rumah tangga biasanya menggendong bantal, sedangkan kepala rumah tangga membawa obor yang terbuat dari daun kelapa kering. Mereka kemudian berjalan bersama dari rumah lama menuju rumah baru dengan diiringi oleh kerabat.
Setelah tiba di rumah baru, dilaksanakan selamatan di dalam rumah dengan mengundang kerabat dan tetangga di sekitar rumah. Prosesi boyongan tersebut dipercaya memiliki tujuan agar kehidupan penghuni rumah baru senantiasa dilancarkan, khususnya dalam hal rezeki.
Itulah 5 tradisi dalam proses membangun rumah di Tegal yang tidak sederhana, tapi menarik untuk diketahui. Kalian juga punya tradisi serupa ketika membangun rumah?
Penulis: Malik Ibnu Zaman
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.