Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

5 Tipikal Manusia Ketika Nobar Sepak Bola

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
14 Desember 2020
A A
5 Tipikal Manusia Ketika Nobar Sepak Bola terminal mojok.co

5 Tipikal Manusia Ketika Nobar Sepak Bola terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Memang, sudah benar bahwa pandemi merusak segala tatanan kehidupan. Kecuali pilkada dan kemenangan keluarga Jokowi, pandemi membumihanguskan jagat hidup kesenangan manusia. Salah satunya barang tentu sepak bola. Kelanjutan liga yang nggak jelas, nasib pemain yang menggantung begitu saja, pun para suporter yang makin hari makin nelangsa.

Itu problematik terstruktur sepak bola dalam negeri. Kalau luar negeri nggak kalah pahit. Penonton yang masuk ke lapangan dibatasi, selebrasi berhati-hati, imbasnya kepada kami yang merupakan fans layar kaca, yakni tradisi nonton bareng yang sudah lama nggak terdengar gaungnya.

ADVERTISEMENT

Sudah bukan hal unik tiap akhir pekan kawanmu—baik fans pada klub yang sama atau bahkan klub rival—mengajak nobar. Bingung milih kafe yang mana, bingung milih komunitas yang sama, dan juga bingung memilih tempat netral atau nggak, sudah menjadi kesibukan rutin di akhir pekan. Pandemi tiba, sirna semua.

Namun, ada hal unik tiap nobar, yakni tipikal-tipikal manusia yang mampir atau sekadar singgah karena gabut. Mereka mengisi ruang-ruang nobar dengan keunikan masing-masing. Sepengalaman saya, ini adalah beberapa tipikal manusia yang datang ketika nobar, tanpa melihat orientasi klub yang didukungnya.

Pertama, garis keras. Model beginian biasanya ada di paling depan. Mereka paling atraktif seakan nggak paham kondisi dan tempat. Bagai capo ultras, mereka memainkan peranannya. Saya bingung kalau ruang nobarnya sempit atau beririsan langsung dengan toko lain. Seakan luweh dengan suasana, tipikal yang satu ini tetap memainkan pestanya.

Bagi tipikal ini, sembilan puluh menit adalah pesta pora. Setelahnya adalah gegap gempita. Nge-chants, mbengok-mbengok nggak jelas, sudah biasa mereka tuntaskan. “Wasit asu!” padahal sang wasit nggak bakal dengar. Namun, jangan salah, semangat mereka saya yakin akan bisa ditransfer ke pemain-pemain yang sedang berlaga.

Kedua, yang-yangan. Tipikal ini sudah jelas, membawa pasangan. Kalau di stadion, tipikal ini barang tentu beli di bagian tribun VIP. Tapi apa daya, di tempat nobar, biasanya lho ya, nggak ada pembeda khusus. Mereka beradu mesra, saling gombal, haha hihi, dan terkadang lupa waktu. Sembilan puluh menit adalah keniscayaan, percintaan yang abadi.

Tipikal ini biasanya suka dibengoki, “Mas, ra yang-yangan wae,” begitu, artinya jangan pacaran melulu. Kalau saya jadi mas e, saya bakal nimpali, “Bayar bebas, Buos!” Namun apa daya, pacar saya ketika nobar itu ya klub yang saya bela, sayangi, dukung, dan cintai. Ah, Persiba Bantul.

Baca Juga:

Manajemen Tolol Penyebab PSS Sleman Degradasi dan Sudah Sepatutnya Mereka Bertanggung Jawab!

Olahraga Lari Adalah Olahraga yang Lebih “Drama” ketimbang Sepak Bola

Ketiga, klemar-klemer. Tipikal ini seperti manusia yang habis disedot Vampir, alias kekurangan darah. Tanpa gairah. Imbas-imbis di pojokan, biasa tipikal ini salah base. Mau dukung Alaves, malah datang ke base Copenhagen. Biasanya begitu. Namun ada perkara lain, yakni memang tipikal yang sukanya diam, menganalisa, tau-tau tertidur di pojokan.

Pokoknya tipe ini malas atraktif dan itu patut dihargai. Kenapa kudu dihargai? Lantaran tiap manusia itu ada caranya sendiri dalam menikmati sepak bola, atau sesuai mood saat itu. Saya contohnya, kadang sudi mbengok-mbengok, kadang penginnya diam dan melihat aliran bola. Entah kalah, entah menang. Ending adalah sesuatu yang harus dihadapi bersama.

Keempat, stand-by dengan ponsel. Bisa ditebak, orang ini adalah admin fanbase bal-balan. Informasi apa pun, followers-nya kudu mendapatkan informasi. Maklum saja, beberapa liga aksesnya untuk ditonton itu susah. Hadirnya admin fanbase yang cekatan, sat-set, dan memuaskan followers-nya adalah berkah yang nggak terkira.

Biasanya, mereka merayakan gol dengan secukupnya. Ketika bola masuk gawang, mereka bakal mbengok, “Gol!” terus langsung beradu dengan qwerty di ponselnya. Terlebih bagi mereka yang merekam tiap kejadian menggunakan kata-kata. Segala aktivitas, ditulisnya dengan matang, sesekali dikaji. Di tempat nobar, biasanya muka mereka murup sendiri karena terkena cahaya ponsel. Maha sibuk jadi mereka.

Kelima, mereka yang nasibnya malang. Tipikal ini biasanya mbesengut di bagian paling belakang. Nggak kebagian tempat, jiwa korsa ngawis-ngawis, dan ledakan semangat mendukung bergelora. Mereka salah tempat, pengin ikut seru-seruan, tapi gabung dengan tipikal yang ketiga. Mereka serba kagok.

Mau mbengok, kok malu lantaran sekitar diam. Mau diam terus, lha ini nobar je bukan nonton lomba MTQ. Lha wong nonton lomba Merpati Kolong aja rame bukan main, masak nonton bola diem-dieman. Ini nonton bola apa nonton catur di The Queen’s Gambit?

BACA JUGA Sepak Bola Itu Nggak Menarik, Percayalah dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Desember 2020 oleh

Tags: nobarSepak Bola
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Sepak Bola Indonesia Sudah Bermasalah dari Hulunya: Curhatan Pemain Tarkam

7 Desember 2020
Hal yang Dilakukan Tsubasa Ozora hingga Taro Misaki Saat Sepak Bola Libur terminal mojok.co

Profesi yang Cocok untuk Taro Misaki Seandainya Tidak Jadi Pemain Sepak Bola

15 Mei 2020
Fan klub sepak bola

Kesetiaan Fan Klub Sepak Bola Semenjana yang Bisa Bikin Pasangannya Tetap Nempel

21 Agustus 2019
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Benahi Dulu Liga, Baru Kita Berharap pada Timnas

21 Desember 2020
Pembagian Tribun di Stadion Maguwoharjo, Markas PSS Sleman terminal mojok.co

Pembagian Tribun di Stadion Maguwoharjo, Markas PSS Sleman

15 Februari 2022
piala dunia

Indonesia, Sepak Bola, dan Harapan Berlaga di Pentas Piala Dunia

21 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

8 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian Mojok.co

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

8 Agustus 2026
Pemilik kos nggak problematik, fasilitas yang seharusnya tercantum dalam brosur Mojok.co

Pemilik kos nggak problematik, fasilitas yang seharusnya tercantum dalam brosur

8 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.