5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  (unsplash.com)

Banyak anggapan orang Solo itu kalem, nggak banyak protes, pasif, hingga nggak punya pendirian. Anggapan itu erat kaitannya dengan sopan santun yang sudah lama hidup di tengah masyarakat. Sopan santun yang berbeda dan tidak dipahami orang luar hingga munculah anggapan-anggapan tadi. 

Yuk, kita bedah satu-satu bentuk sopan santun yang sering disalahartikan oleh orang luar itu. 

#1 Andhap asor yang disalahartikan dengan gampang minder

Orang Solo punya prinsip hidup yang namanya andhap asor, sikap rendah hati yang bukan cuma omong doang, tapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Makanya jangan heran kalau ketemu orang Solo yang jarang pamer prestasi, enggan menonjolkan diri, atau bahkan terkesan mengalah dalam diskusi.

Sikap andhap asor mengajarkan untuk tidak sombong, tidak merasa lebih, dan selalu menghargai orang lain. Jadi kalau ada teman Solo kamu yang santai aja waktu ada yang nyinyir atau bahkan nggak ngelawan balik, bukan berarti dia lemah. Justru dia lagi mempraktikkan filosofi hidup yang sudah diajarkan sejak kecil ojo adigang adigung adiguna (jangan berbuat semaunya karena merasa kuat, tinggi, dan pintar).

Bedanya sama minder? Orang yang minder itu nggak percaya diri. Sementara orang Solo yang andhap asor tetap percaya diri, cuma nggak perlu teriak-teriak agar diakui. Halus, tapi mantap, gitu lho.

Baca juga Solo Punya Segalanya, tapi Masih Kalah Pamor sama Jogja.

#2 Unggah-ungguh yang dikira takut

Di Solo, ada yang namanya unggah-ungguh atau tata krama dalam berbicara yang disesuaikan dengan lawan bicara. Orang Solo punya kesadaran tinggi soal siapa yang diajak ngobrol, dari yang lebih tua, lebih muda, lebih tinggi statusnya, atau sebaya. Makanya mereka hati-hati banget memilih kata.

Unggah-ungguh adalah norma serta aturan tidak tertulis dalam berperilaku dan berbahasa kepada orang lain, yang mencerminkan rasa hormat dan hierarki sosial. Bahasa Jawa punya tingkatan, seperti ngoko untuk teman sebaya, madya untuk orang yang belum terlalu kenal, dan krama inggil untuk yang lebih tua atau dihormati.

Nah, karena terlalu hati-hati ini, orang luar sering salah paham. “Kok ngomongnya lembut banget sih? Takut ya?” Padahal mah bukan takut, tapi memang begitu cara orang Solo menghormati orang lain. Mereka nggak mau sampai kata-katanya menyinggung atau bikin orang lain nggak nyaman. Ini bukan kepasifan, tapi bentuk tepa salira (tenggang rasa yang tinggi).

#3 “Monggo” bukan berarti nggak tegas

Pernah nggak sih kamu tanya sesuatu ke orang Solo, terus dijawabnya cuma “monggo” (silakan)? Atau waktu kamu minta pendapat malah dijawab, “Monggo, terserah sampeyan”, kesel ya rasanya? Kok kayak nggak punya pendirian?

Tenang, ini bukan berarti mereka nggak peduli atau malas mikir. Justru ini adalah bentuk kesopanan tertinggi dalam budaya Jawa untuk memberikan ruang dan kebebasan kepada orang lain untuk menentukan pilihan. Orang Solo percaya bahwa memaksakan kehendak itu nggak sopan, makanya mereka lebih suka bilang “monggo” daripada ngotot sama pendapat sendiri.

Orang Jawa dikenal dengan kehalusan dan kelembutan bicaranya, terutama yang berasal dari daerah Yogyakarta dan Solo. Jadi kalau dikasih kebebasan memilih, justru itu tandanya kamu dihormati. Beda ya sama kepasifan yang emang beneran nggak mau ambil keputusan.

Baca juga 4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata.

#4 Jarang protes bukan berarti orang Solo itu gampang setuju

Saat rapat kerjaan, orang Solo sering banget cuma ngangguk-ngangguk aja. Nggak banyak komentar, nggak menyela, apalagi debat kusir. Alhasil, banyak yang mikir “Wah, orangnya pasif nih. Nggak ada kontribusi.”

Padahal, diam bukan berarti setuju. Orang Solo punya budaya nrimo (menerima dengan lapang dada) dan sabar. Mereka lebih suka dengerin dulu, nyimak, baru ngomong kalau memang perlu. Konsep ora ilok (tidak baik atau tidak diperbolehkan) mengajarkan untuk menjaga nilai kesopanan dalam setiap interaksi.

Itu mengapa, kalau ada yang ngomong kebablasan atau salah, orang Solo biasanya nggak langsung nyerocos. Mereka bakal mikir dulu, “Apa perlu saya koreksi sekarang? ” Ini bukan pasif, tapi bijak dalam memilih waktu dan cara.

#5 Senyum terus hingga dikira orang Solo nggak ada masalah

Orang Solo terkenal dengan senyumnya yang ramah. Bahkan dalam situasi yang sebenarnya bikin kesel, mereka tetap senyum. Alhasil, banyak yang salah mengira “Wah, santai banget nih orangnya. Kayaknya nggak pernah punya masalah deh.”

Senyum di budaya Jawa, khususnya Solo, adalah bentuk rukun untuk menjaga keharmonisan hubungan. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari. Daripada bikin suasana jadi tegang atau orang lain jadi nggak nyaman, mending senyum aja.

Akan tetapi, jangan salah, di balik senyum itu bisa jadi ada ribuan uneg-uneg yang lagi ditahan. Cuma karena mereka punya prinsip ojo nganggo emosi (jangan pakai emosi), makanya tetap kalem. Ini bukan kepasifan, tapi pengendalian diri yang luar biasa.

Itulah sopan santun khas orang Solo yang kadang sulit dipahami orang luar hingga disalahartikan. Solo bukan kota yang keras, tapi juga bukan kota yang lemah. Solo adalah kota yang halus, penuh filosofi, dan punya cara sendiri buat menjalani hidup. Luwes, tapi tetap bermartabat. 

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version