Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

5 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan Ketika Mereka Tahu Saya Bekerja di Jayapura

Khairul Azmi oleh Khairul Azmi
22 Januari 2020
A A
5 Pertanyaan Paling Sering Ditanyakan Ketika Mereka Tahu Saya Bekerja di Jayapura
Share on FacebookShare on Twitter

Sehabis menonton High fidelity-nya Stephen Frears, saya tergugah untuk membuat daftar 5 teratas atau My Top 5 kalau kata orang-orang di Twitter. Menurut saya film itu lumayan juga sebetulnya, walaupun agak sedikit klise toh tetap saya nikmati sampai selesai juga. Kembali ke daftar, saya ingin membuatnya persis seperti di film, ya dengan pengalaman saya sendiri. Jadi begini, saya akan membuat daftar lima pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang kepada saya ketika mereka tahu saya kerja di Jayapura.

Saya merupakan pendatang dari Ibukota yang jauh-jauh merantau ke Jayapura untuk mengabdi kepada negara meringankan beban orang tua dan tidak menjadi parasit di Ibukota, seperti Geun-sae di rumah Mr. Park. Jadi setiap kesempatan harus diambil saya rasa. Jayapura adalah kota yang sangat jauh dari Ibukota jika yang jadi patokan adalah jarak. Dan ia adalah kota yang betul-betul baru bagi saya. Saya sih oke-oke saja tinggal di tempat ini, tapi ya kamu tahu setiap orang memiliki keresahannya masing-masing.

ADVERTISEMENT

Sebenarnya saya membuat ini karena sebagian kegelisahan hati juga. Alasannya saya sangat sering ditanya dengan hal-hal yang sama oleh orang yang berbeda-beda. Seperti ketika seseorang baru menikah pasti ada saja orang yang bertanya kapan punya anak, tinggal di mana, dan lain-lain. Saya tidak tahu apakah itu sekadar basa-basi atau memang mereka peduli dengan tempat kerja saya, jujur saja saya tidak peduli alasan mereka.

Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya diajukan oleh orang yang bertemu sambil lalu, seperti driver gojek, penjual ketoprak, abang-abang cilok, ataupun saudara jauh yang saya temui satu tahun sekali. Selama saya semangat menjawab, saya akan jelaskan sepanjang yang saya bisa hingga mereka bosan. Namun jika saya sedang malas bukan kepalang, biasa saya jawab sekenanya saja. Jadi tanpa berpanjang begini daftarnya:

Lima: Orang-orangnya masih pake koteka, ya?

Saya tak berbohong padamu, tapi memang begitu pertanyaan yang sering saya dapatkan. Saya tidak tahu apakah mungkin memang pengetahuan orang Jakarta tentang Jayapura yang merupakan Ibukota provinsi Papua tidak banyak atau mereka sekadar melucu dan basa-basi? Yang pasti semenjak pertama kali saya menginjak kaki di Jayapura, saya belum pernah bertemu orang dengan sengaja memakai koteka dalam kegiatannya sehari-hari bahkan dalam kegiatan budaya dan tradisi. Mungkin memang pengetahuan mereka berasal dari acara-acara TV tentang suku pedalaman di Papua, ya memang mungkin ada di sana, tapi saya belum pernah lihat. Kadang saya merasa pengetahuan orang-orang tentang Jayapura hanya berasal dari film The Gods must be crazy.

Empat: Makan apa di sana? Makan sagu, ya?

Lalu pertanyaan ini adalah hal yang paling sering ditanyakan. Sebenarnya mungkin saya tahu alasannya, ini semua bersumber dari acara tv. Ketika meliput tentang daerah-daerah di Papua baik itu acara yang bertema petualangan, eksplorasi budaya, hingga liputan keseharian, digambarkan bahwa konsumsi utama masyarkat adalah sagu, bahkan ada yang sampai ulatnya di makan. Tak salah memang, tapi kembali lagi itu di daerah pedalaman, kalau di kota itu menjadi lain. Memang sagu masih sesekali di makan tapi tidak menjadi konsumsi utama. Sesekali saja dijadikan papeda untuk dimakan dengan ikan kuah kuning. Untuk konsumsi karbohidrat utama? Ya tentu saja, saya makan nasi.

Tiga: Harga barang di sana mahal-mahal, ya?

Kemudian biasanya diikuti dengan, “Katanya pecel ayam 50 ribu ya?”, atau “Katanya semen 1 sak 500 ribu ya?”, atau “Katanya aqua 20 ribu ya sebotol?”, dan lain sebagainya. Sebenarnya tidak sepenuhnya salah juga. Memang beberapa harga barang di Jayapura lebih tinggi, tapi tidak setinggi yang dibayangkan juga. Harga barang kan berasal dari biaya produksi ditambah margin dan distribusi. Jarak yang jauh dari tempat produksi menimbulkan biaya distribusi yang lebih tinggi sehingga harga barang melambung. Jadi semakin jauh dan sulit dijangkau daerah, maka harga barang tentu akan lebih tinggi. Bagaimana dengan harga barang di Jayapura? Mungkin berbeda seribu atau dua ribu dengan harga barang di pulau Jawa, tetapi tenang saja, tetap tidak lebih mahal ketimbang di negara singa.

Dua: Kerja di Freeport, ya?

Nah ini, pertanyaan yang paling sering ditanyakan nomer dua. Kalau boleh saya jujur sebenarnya saya tidak tahu kenapa hampir semua orang bertanya ini. Apakah Freeport begitu bekennya? Sehingga seluruh pekerja yang ada di Papua selalu diasosiasikan bekerja dengan perusahaan ini? Atau hanya perusahaan ini yang dipedulikan oleh orang Jakarta?

Baca Juga:

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

Pengalaman Naik Bus Putra Remaja dari Jogja Menuju Jambi: Seni Bertahan Hidup Selama 40 Jam di Atas Kursi Rusak yang Menyiksa

Saya tahu saya tidak ada potongan jadi tentara atau sebagainya. Tapi maksud saya begini, bayangkan dari sekian banyak pekerjaan dan  perusahaan yang ada di Papua baik berskala nasional maupun Internasional, semua tertutupi oleh satu perusahaan bernama Freeport. Bayangkan betapa nama itu sungguh melegenda di warga Jakarta, agak absurd juga sebenarnya. Rasanya mungkin mirip-mirip seperti ketika seseorang tahu kamu berasal dari Jakarta dan suka sepakbola,  maka orang tersebut akan dicap sebagai Jak mania. Padahal menonton sepakbola lokal saja ia tidak pernah. Untuk info saja, Freeport bahkan tidak berada di Jayapura, ia bercokol di Timika, satu jam penerbangan dari Jayapura.

Satu: Udah menikah belum?

Ya tentu saja, pertanyaan apalagi yang kamu harapkan, ketika mereka tahu kamu sudah cukup umur dan telah mendapat pekerjaan.

BACA JUGA Kerusuhan di Papua: Mau Nyalahin Siapa? atau tulisan Khairul Azmi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2020 oleh

Tags: freeportJayapuraKotekamerantaupapua
Khairul Azmi

Khairul Azmi

Seorang ambtenaar rendahan yang kini bekerja di Jayapura.

ArtikelTerkait

Kota Jayapura Nggak Seudik yang Kalian Kira, Jangan Ngadi-ngadi terminal mojok.co

Kota Jayapura Nggak Seudik yang Kalian Kira, Jangan Ngadi-ngadi

4 Februari 2021
Merantau di Jogja Lebih Enak Dibanding Surabaya, Lebih Slow dan Manusiawi Mojok.co

Merantau di Jogja Lebih Enak Dibanding Surabaya, Lebih Slow dan Manusiawi

23 Agustus 2025
Tidak Ada yang Salah dengan Merantau ke Kota Kecil terminal mojok.co

Tidak Ada yang Salah dengan Merantau ke Kota Kecil

16 September 2020
Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya dengan Berat Hati Mojok.co

Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya walau dengan Berat Hati

7 Januari 2026
papua tempat pembuangan pns bu risma mojok

Bu Risma, Papua Bukan Tempat untuk Buang PNS Nggak Becus Kerja

15 Juli 2021
3 Rahasia Orang Madura Sukses di Perantauan

3 Rahasia Orang Madura Sukses di Perantauan

26 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

20 Juli 2026
Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co yusril fahriza

Lamongan butuh dipimpin Yusril Fahriza agar makin maju dan kalcer, dan saya serius!

20 Juli 2026
Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu Mojok.co

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

20 Juli 2026
Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026
Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

19 Juli 2026
Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.