Informasi
ADVERTISEMENT

5 aturan tidak tertulis Pasar Ngasem Jogja yang sebaiknya diketahui pengunjung sebelum mampir

5 aturan tidak tertulis Pasar Ngasem Jogja yang sebaiknya diketahui pengunjung sebelum mampir Mojok.co

Pasar Ngasem Jogja sekarang viral. Pasar ini jadi pusat kuliner sarapan dan jajanan tradisional. Aku sendiri masih heran, kok bisa ya? Pasar ini dulu kumuh, dan 90% orang di dalamnya aku kenal. Sekarang lebih banyak wajah asing yang datang dari berbagai daerah bahkan mancanegara.

Sebenarnya kalian cari apa, to? 

Akan tetapi, aku maklum saja, toh tetangga-tetanggaku jadi punya pemasukan baru. Dan, daripada kamu bingung, aku bisiki beberapa aturan tidak tertulis saat jajan di Pasar Ngasem Jogja. Minimal mengurangi plonga-plongomu di tengah lautan wisatawan.

#1 Jangan lewat perempatan Tamansari

Sebelum kamu sampai, aku harus ingatkan perkara akses masuk. Aku sarankan kamu lewat Plengkung Ngasem di sebelah Barat Alun-Alun Utara. Atau lewat Plengkung Madyasura di selatan Jogjatronik, lalu melintas Alun-Alun Selatan sebelum sampai ke Pasar Ngasem. Kecuali kamu punya hobi menikmati macet, jangan lewat Perempatan Tamansari.

Area Jalan Tamansari adalah titik temu banyak orang. Apalagi saat hari Minggu. Ada arus Bis Pariwisata, Transjogja, truk, dan kendaraan warga. Belum lagi kamu akan ketemu rombonganku dan umat pulang gereja. Sedangkan dua jalur yang kusebut tadi memang semi eksklusif untuk wisatawan.

#2 Masuk lewat gerbang utama atau pintu timur Pasar Ngasem Jogja

Masih bicara perkara akses, biasanya kamu akan parkir di sisi barat pasar. Apalagi kalau kamu kesiangan dikit, dan parkir di dekat gerbang sudah penuh kendaraan. Tapi, jangan masuk lewat pintu barat yang tamppaknya lebih dekat.

Bukan karena pamali, tapi area itu adalah pasar tradisional. Dan para pembeli dan pedagang memakai jalan itu untuk keluar masuk barang. Aku sering dengar keluhan wisatawan yang harus saling senggol dengan tukang panggul beras atau kardus mie instan. Kalian sudah diberi kemewahan dengan akses lewat gerbang utama yang estetis. Biarkan kami mengalah memakai pintu samping yang dekat tempat pembuangan sampah.

#3 Makan besar dulu baru jajan pasar

Ini pengalaman dari beberapa teman yang iseng sarapan di Pasar Ngasem Jogja. Mereka lapar mata saat melintas tenongan atau penjaja jajan pasar. Lalu belanja banyak jajanan sebelum mencari nasi rames atau sate gajih. Harapannya bisa untuk oleh-oleh saat pulang ke rumah atau kos. Tapi habis duluan di pasar. Saat sarapan, perut sudah terasa penuh.

Penjaja Pasar Ngasem Jogja bukan fast food modern. Dan, saat weekend, kamu harus antri panjang. Mending kamu tahan laparmu dan langsung antri makan besar. Baru setelah punya tenaga, puaskan lapar matamu dengan es dawet dan jajan pasar.

#4 Hidden gem ada di pasar tradisional

Mungkin sudah ada beberapa nama kondang yang jadi jujugan saat sarapan di Pasar Ngasem. Tentu mereka sudah dikerubungi pembeli sejak pagi. Tapi, kalau kamu suka petualangan, coba bergeser ke pasar tradisional di sisi barat gerbang.

Di situ ada banyak opsi sarapan yang tidak viral. Tapi, jadi langganan kami warga lokal setiap hari. Ada dawet ireng yang nikmat di antara penjaja sayur. Ada warung tenongan dengan harga lebih miring. Ada juga warung ramesan yang rasanya otentik. Jangan tanya titik maps nya di mana. Kan hidden gem, cari sendiri lah!

#5  Di Pasar Ngasem Jogja angkat pantat berarti tempat duduk melayang

Ini salah satu aturan yang sepertinya berlaku di semua tempat viral. Kamu termasuk orang beruntung yang bisa dapat tempat duduk di meja dan bangku cor. Seandainya penuh, kamu bisa duduk di amphiteater Pasar Ngasem. Sudah penuh juga? Kamu bisa lesehan di gazebo. Tapi biasanya semua tadi sudah penuh, dan kamu harus makan jajanan sambil berdiri.

Jadi sebaiknya segera beli apa yang kamu mau, lalu duduk. Jangan pergi ke mana pun kecuali mau pulang. Karena sudah ada puluhan pasang mata yang mengintai tempat dudukmu. Kalau sudah selesai makan, kamu juga harus tahu diri. Segera bersihkan, kembalikan piring kalau perlu, dan angkat pantatmu. Jangan malah yapping dan mengambil hak duduk orang lain selama berjam-jam.

Kalau kamu sudah baca semua, selamat menikmati sarapan viral di jantung Kota Jogja. Nikmati sarapan kalcer bersama ratusan manusia penasaran. Jangan lupa untuk buang sampah pada tempatnya dan jangan buang ludah sembarangan.

Satu lagi, aku bisiki lokasi es dawet enak. Rasanya simpel, sangat tradisional dan klasik. Namanya Es Dawet Hj Ratmi. Tempatnya di dekat penjual bubur manis alias jenang yang viral itu. Percayalah, es dawet di situ selalu enak sejak aku masih TK. Jangan lupa sampaikan salamku kalau ketemu blio.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2026 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

Exit mobile version