Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

5 Alasan Mengapa Saya Nggak Suka Jadi Bridesmaid di Desa

Siti Halwah oleh Siti Halwah
4 Juli 2024
A A
5 Alasan Mengapa Saya Nggak Suka Jadi Bridesmaid di Desa

5 Alasan Mengapa Saya Nggak Suka Jadi Bridesmaid di Desa (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, saya mendapat tawaran untuk menjadi bridesmaid di pernikahan beberapa teman saya. Dengan alasan buat pengalaman sekalian coba-coba, saya menerima tawaran tersebut.

Saya berpikir, menjadi bridesmaid itu bakalan menyenangkan, seperti video-video yang sering saya lihat. Ternyata dugaan saya salah besar. Yang terjadi justru sebaliknya, saya kapok dan nggak akan mau lagi kalau ditawari untuk menjadi bridesmaid apalagi di desa-desa seperti tempat saya tinggal.

Lho, kok bisa? Memangnya kenapa?

#1 MUA-nya nggak punya banyak pilihan warna foundation

Salah satu hal fatal dari para MUA di desa ini adalah mereka nggak punya banyak pilihan warna/shade foundation. Rata-rata hanya punya satu, yaitu light beige untuk mengimbangi cahaya dan biar kelihatan bagus saat difoto.

Masalahnya, warna foundation light beige tersebut jelas amat-sangat nggak cocok dengan warna kulit saya yang sawo matang. Alhasil, yang saya takutkan benar-benar terjadi. Warna foundationnya nggak menyatu dengan warna kulit saya dan semakin lama semakin teroksidasi. Hal ini kemudian membuat muka saya entah berubah menjadi abu-abu atau menjadi tomat.

Pokoknya nggak banget, deh! Makanya saat menjadi bridesmaid di acara yang lain, saya pilih sewa MUA sendiri.

#2 Kerjaan bridesmaid di desa nggak jelas

Kalau di kota-kota, kerjaan bridesmaid mungkin memang sudah jelas karena sebelum-sebelumnya sudah sering dibriefing. Entah nanti ada adegan pesan-kesan sebagai sahabat, ikutan main games, atau ngasih surprise ke pengantin. Nah, di desa, konsep bridesmaid ini masih agak baru, jadi kerjaannya masih banyak yang belum jelas.

Selain membantu memberikan suvenir ke tamu undangan yang datang, saya nggak menemukan tugas-tugas bridesmaid yang lain kecuali buat foto-foto dan bikin video. Jadi, saya merasa banyak membuang-buang waktu hanya untuk menjadi bridesmaid ini.

Baca Juga:

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

#3 Habis banyak biaya

Kembali pada poin pertama, karena seringnya merasa nggak cocok sama pilihan foundation MUA-nya, saya memutuskan untuk menyewa jasa MUA sendiri. Tentunya karena ini kemauan saya sendiri, jadi saya harus merogoh kocek sendiri juga tanpa minta bantuan pada teman saya yang jadi pengantin.

Selain itu, menjadi bridesmaid juga kadang mendapat kain yang nantinya harus dijahit untuk menjadi seragam saat hari-H. Aturan nggak tertulisnya, sih, pihak pengantin hanya menyediakan kainnya, nanti orang-orang yang sudah ditunjuk jadi bridesmaid dan mendapat bagian kainlah yang harus menjahitnya sendiri. Tentu saja biayanya juga sediri, dong, hehehe.

Belum lagi biaya lainnya untuk kado, surprise untuk pengantin kalau teman-teman bridesmaid lain sudah bikin keputusan bersama, dan biaya lain-lainnya. Pokoknya banyak banget, deh.

#4 Bridesmaid di desa malah jadi bahan omongan julid tetangga yang lain

Namanya saja di desa, konsep rewang dan gotong-royong pas ada acara itu pasti kental banget, termasuk di desa saya. H-7 para tetangga biasanya sudah sibuk bantu-bantu di rumah yang punya hajatan.

Nah, para tetangga ini tentunya punya keponakan, cucu atau saudara perempuan yang penginnya semua dijadikan bridesmaid. Dalam benak mereka, konsep bridesmaid itu nggak melulu harus sahabat dekat si pengantin tapi boleh siapa saja, termasuk cucunya yang baru kelas 5-6 SD. Pokoknya, kalau terpilih jadi bridesmaid akan menjadi semacam kebanggaan gitu.

Gimana kalau nggak terpilih? Tentu saja menjulid bersama dan mengomentari para bridesmaid lain yang terpilih. Saya pernah dilihatin tepat di depan muka, dikomentari makeup-nya secara terang-terangan, dan dibandingkan dengan yang lain.

Lalu, komentar-komentar tersebut merebak dan berkembang liar di belakang, di area dapur tempat para tetua ibu-ibu rewang berkumpul. Jujur saja, ini beneran pengalaman paling menyebalkan dan bikin trauma. Sampai ibu saya juga ikutan komentar: mending jangan mau kalau diminta jadi bridesmaid lagi.

#5 Nggak suka jadi pusat perhatian

Saat ada pernikahan di desa, selain pengantin perempuan di atas pelaminan, bridesmaid adalah objek kedua yang bakalan paling sering menjadi pusat perhatian.

Sebagai orang yang nggak terlalu suka jadi pusat perhatian, menjadi bridesmaid tentunya bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Saya merasa menjadi pusat perhatian selama 4-5 jam, dengan makeup tebal, mata yang berat karena bulu mata palsu, juga baju yang gerah karena tempatnya sering kali panas.

Pokoknya nggak enak banget, deh. Pengalaman-pengalaman saya menjadi bridesmaid tadi saya rasa sudah cukup, deh. Saya juga nggak akan pernah mau kalau diminta jadi bridesmaid lagi. Mending saya jadi tamu biasa saja, bebas beli jajan juga tanpa harus takut dikomentari.

Penulis: Siti Halwah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Pager Ayu, Sebuah Tradisi Mantenan Jawa yang Tergusur oleh Bridesmaid.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2024 oleh

Tags: bridesmaidDesamakeupmuapengiring pengantin
Siti Halwah

Siti Halwah

menulis untuk eksis

ArtikelTerkait

Bridesmaid di Pernikahan Nggak Wajib-wajib Amat, Kenapa Masih Drama Soal Seragam sih Terminal Mojok pager ayu

Pager Ayu, Sebuah Tradisi Mantenan Jawa yang Tergusur oleh Bridesmaid

11 September 2023
Apa sih Bedanya Makeup Mahal dan Murah Terminal Mojok

Apa sih Bedanya Makeup Mahal dan Murah?

17 Mei 2022
Orang Kota Nggak Cocok Menghabiskan Masa Pensiun di Desa, Nggak Usah Sok-sokan Mojok.co

Orang Kota Nggak Cocok Menghabiskan Masa Pensiun di Desa, Nggak Usah Sok-sokan

6 Mei 2024
Rekomendasi Lip Tint di Bawah 50 Ribu yang Cocok buat Ombre Lips

Rekomendasi Lip Tint di Bawah 50 Ribu yang Cocok buat Ombre Lips

24 April 2024
5 Rekomendasi Lipstik Nude Lokal di Bawah 50 Ribu Terminal Mojok

5 Rekomendasi Lipstik Nude Lokal di Bawah 50 Ribu

13 Mei 2022
Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk

Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk

2 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Wuling Confero 2019: Mobil Keluarga Terjangkau, Enak, tapi Harga Bekasnya Jatuh Bebas

Wuling Confero 2019: Mobil Keluarga Terjangkau, Enak, tapi Harga Bekasnya Jatuh Bebas

1 Maret 2026
Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal Mojok.co

Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal

27 Februari 2026
Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

27 Februari 2026
Turkiye Burslari, Beasiswa Pemerintah Turki yang Layak Diperebutkan, Lolosnya Gampang dan Nggak Ada Kewajiban Mengabdi Mojok.co

Turkiye Burslari, Beasiswa Pemerintah Turki yang Lolosnya Gampang dan Nggak Ada Kewajiban Mengabdi

28 Februari 2026
Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Pekalongan Masuk Jawa Tengah, tapi Secara Budaya Lebih Dekat dengan Atlantis

28 Februari 2026
Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.