Beberapa pekan lalu, tulisan saya mengenai pengalaman tinggal di kos-kosan campur pasutri cukup ramai. Tulisan itu jadi salah satu tulisan dengan pembaca terbanyak, dan cukup memicu perbincangan di publik. Terlepas dari perbincangannya, ada satu pertanyaan yang masih tersisa. Jika orang lajang merasa nggak nyaman tinggal di kos pasutri, apakah para pasutri juga merasakan hal yang sama?
Gara-gara pertanyaan ini, saya menyelami internet, mencoba menggali pendapat-pendapat orang di luar sana. Tidak hanya itu, saya juga mencoba menanyakan hal ini kepada para pasutri yang pernah tinggal di kos pasutri. Dari usaha saya menggali, menyelami, dan bertanya sana-sini, saya menemukan bahwa para pasutri merasakan hal serupa. Banyak pasutri yang merasa nggak nyaman tinggal di kos pasutri.
#1 Tinggal di kos pasutri nyaris nggak ada privasi
Privasi jadi salah satu masalah jika bicara konteks pasutri yang ngekos. Sudah jadi rahasia umum jika ada pasutri yang tinggal di kos-kosan pasutri, mereka harus mengorbankan privasi. Mereka seakan kurang bebas untuk ngapain aja (baca: berhubungan intim), apalagi kalau kos-kosannya murah yang dindingnya nggak tebal. Pasti ketahuan kalau mau melakukan kegiatan seperti itu.
Selain itu, masalah privasi ini juga terkait dengan tetangga-tetangga yang kerap ikut campur urusan rumah tangga. Para pasutri seakan nggak bisa menyembunyikan kehidupan privat mereka dari tetangga. Apalagi kalau pasutri ini sedang berantem atau marahan, tetangga lain pasti akan tahu.
#2 Fasilitas bersama yang nggak terjaga dengan baik
Selain privasi, fasilitas bersama juga kerap jadi masalah di kos pasutri. Saya sudah menyinggungnya di tulisan sebelumnya, bahwa fasilitas bersama di kos-kosan pasutri (dapur dan kamar mandi), kerap nggak terjaga dengan baik. Kalau nggak kotor, ya berantakan, dan bIsa juga keduanya.
Ini yang jadi alasan mengapa para pasutri merasa nggak nyaman tinggal di kos-kosan pasutri. Mereka lebih memilih untuk mengontrak rumah, atau memilih kos-kosan pasutri yang kelasnya lebih premium. Nggak masalah keluar uang lebih banyak, asalkan dapat dapur dan kamar mandi dalam, agar kebersihannya bisa tetap terjaga dengan baik.
#3 Susah lepas dari drama ala penghuni kos-kosan
Drama ala penghuni kos-kosan juga jadi masalah di lingkup kos pasutri, bahkan untuk pasutri itu sendiri. Drama-drama ala penghuni kos berkutat di masalah hubungan antar penghuni kos yang nggak akur, adanya affair atau perselingkuhan, hingga masalah-masalah eksternal yang terbawa hingga internal kos.
Ada banyak pasutri yang nggak suka dengan hal seperti ini. Bayangkan, pasutri itu masalahnya sudah banyak, mulai dari masalah kerjaan di kantor, keluarga, hingga masalah hubungan. Kalau masih ditambah masalah atau drama penghuni kos, tentu nggak akan nyaman. Mau ikut di dalam drama penghuni kos sudah nggak ada tenaga, mau cuek dan apatis takutnya dijauhi penghuni kos lain. Serba salah, kan?
#4 Aturan kos pasutri yang kadang terlalu mengikat dan menghalangi
Kos pasutri (yang bukan LV) biasanya punya aturan-aturan khusus. Aturannya terkait penghuni yang harus pasutri, adanya jam malam, hingga larangan membawa orang luar untuk masuk bahkan menginap. Kalaupun boleh membawa orang luar masuk dan menginap, ada biaya tambahan yang harus dibayarkan. Aturan yang sebenarnya normal, tapi kerap membuat pasutri yang tinggal di sana merasa nggak nyaman.
Adanya aturan-aturan yang teralu mengikat dan mengekang ini membuat pasutri malas untuk tinggal di kos-kosan. Mereka lebih memilih untuk mengontrak rumah saja, yang lebih longgar soal aturan.
#5 Kesusahan kalau ada keluarga yang berkunjung
Alasan terakhir yang membuat para pasutri malas tinggal di kos pasutri adalah masalah ruang. Seperti kita tahu, kos-kosan pasutri (dan kos-kosan pada umumnya) punya ruang yang sempit. Umumnya hanya kamar dan kamar mandi. Ruang yang minim dan sempit seperti ini tentu akan membuat mereka nggak nyaman, terutama kalau ada keluarga (orang tua atau saudara) yang berkunjung.
Para pasutri yang ngekos bakal kesusahan kalau misalnya ada kunjungan dari orang tua. Mereka harus putar otak bagaimana menyulap ruang yang sempit itu menjadi ruang yang nyaman dan layak untuk disinggahi orang tua. Belum lagi faktor-faktor lain soal kebersihan kos dan fasilitas bersama, soal penghuni kos yang lain. Faktor ini akan rawan jadi masalah ke depannya.
Kelima alasan ini jadi alasan paling umum mengapa banyak pasutri yang nggak nyaman tinggal di kos-kosan pasutri. Rasa nggak nyamannya mereka juga masuk akal, sebab kondisinya memang kurang kondusif untuk keluarga kecil. Maka dari itu, pilihan terbaiknya adalah mengontrak rumah, meskipun secara biaya lebih tinggi.
Kembali lagi, bahwa semua hal yang bikin nggak nyaman ini bukan sesuatu yang mutlak. Memang ada banyak pasutri yang nggak nyaman tinggal di kos-kosan pasutri, tapi nggak sedikit yang merasa nyaman dan nggak ada masalah untuk tinggal di sana. Kembali ke selera dan preferensi masing-masing saja, sih.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Indahnya hidup ketika tinggal di kos khusus karyawan, tenang dan tidak banyak drama dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.