4 Makna Kata 'Baperan' yang Toksik Sekali ya, Saudara-saudara – Terminal Mojok

4 Makna Kata ‘Baperan’ yang Toksik Sekali ya, Saudara-saudara

Artikel

Muhammad Sachrul Basyari

Bawa perasaan atau diakronimkan jadi baper menjadi salah satu kata yang paling sering dilontarkan orang sekarang. Kata ini digunakan untuk menggambarkan sifat seseorang yang dianggap bermental lemah. Jika kamu merajuk kepada teman yang menyinggungmu, siap-siap aja dikatain baperan alias terlalu bawa perasaan alias sensitif.

Mempunyai mental yang kuat itu bagus, tapi kalau perasaanmu lembut, itu juga bukan dosa. Belum lagi pengalaman orang kan beda-beda, bisa aja hal yang biasa buatmu nggak biasa buat dia. Intinya, baperan itu manusiawi.

Yang nyebelin, kata baperan ini sekarang dipake sama orang yang salah tapi nggak mau ngaku salah (iya, ini nerjemahin lagu Didi Kempot). Kayak orang yang habis berbuat menyinggung, eh malah bilang:

“Ah, kamu mah digituin doang baperan”
“Jangan baperan dong, aku kan cuma bercanda!”
“Ya, salah siapa kamunya baperan?”

Buseeet. Bukannya minta maaf, malah nyalahin orang yang tersakiti atau tersinggung. Bukannya mengakui kesalahan, malah victim blaming. Apa yang lebih menggambarkan orang seperti itu selain “nggak tahu malu”?

Parahnya lagi, orang-orang malah memperluas kiprah kata toksik ini dalam hubungan antarmanusia.

#1 Baperan = bukan cowok

Buat cowok, pernah nggak dikatain “Cowok kok baperan?”? Ye kocak, apa salahnya jadi cowok berperasaan? Kalau nggak berperasaan namanya psikopat tauk! Kalau kamu menyakiti orang, mau cowok, mau cewek, minta maaf dong! Jadi orang kok goblok sih.

Berbanding terbalik dengan cewek baperan yang sangat diwajarkan, terutama oleh cowok. Kalau si cewek merajuk gara-gara tersinggung, harta dan takhta pun ditawarkan untuk membujuknya. Apalagi kalau si cowok merasa telah menyakiti teman cewek kemudian dia curhat ke sohibnya, akan keluar respons, “Ya, namanya juga cewek, pasti baperan. Harusnya kamu jangan menyinggung gitu lah.”

Baca Juga:  Tips Nongkrong Hemat Cukup dengan Biaya Goceng

Hadeeeh. Kalau dia baper, itu karena dia manusia aja. Titik.

#2 Baperan = salah mereka yang di-PHP

Nah, ini sering terjadi dalam hubungan pertemanan antara cowok-cewek. Mungkin dalam hubungan pertemanan sesama jenis juga bisa terjadi kali, ya. Biasanya berawal dari chatting, si cowok semakin betah menggoda sedangkan si cewek baper digodain. Atau, si cowok semakin betah merangkul sedangkan si cewek baper dirangkulin pas ada masalah doang.

Kalau situasinya gitu, ketika salah satu baper, ya wajar banget lah, masak wajar banget dong. Tapi kalau salah satu mengakui rasa bapernya, bakalan deh partnernya menolak dengan dalih. “Salah sendiri kamunya baperan.” Luar biasa! Juarak!

Padahal, kalau kamu memang menyadari telah membuat seseorang merasa di-PHP, minta maaf kan gampang. Jelasin baik-baik, terus selesai deh. Nggak usah menambah musuh karena apa? Yak betul, satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit.

#3 Baperan = layak dijauhi

Kejadian seperti ini biasa terjadi dalam geng. Terlalu asyik bercandaan biar dibilang friendship goals sampai nggak sadar guyonannya keterlaluan sehingga menyakiti teman se-geng. Kalau ketahuan seorang di dalam geng itu baperan, otomatis akan dijauhi teman-teman lainnya. Terutama kalau si ketua geng yang bersalah, dia akan mengajak yang lainnya untuk menjauhi si korban agar nggak terkesan melakukan kesalahan. Dalihnya sih: nggak mau se-geng sama orang baperan.

Tapi, kalau kamu dijauhin geng semacam ini, ada untungnya sih. Kamu nggak perlu lagi pura-pura asyik padahal sering tersakiti. Friendship goals itu harusnya hubungan pertemanan yang sehat dan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Bukan ngemanfaatin teman walau definisi “manfaat” itu luas.

#4 Baperan = nggak perlu dimintain maaf

Biasanya nih, kalau sudah kumpul bareng sohib, bercandaannya bukan lagi pakai mulut tapi pakai tangan juga. Celana dipelorotin, sandal disembunyiin, lagi mandi lampunya dimatiin, nge-post muka sohib yang nggak komuk di medsos, saling tampar, bahkan melontarkan kata kasar.

Baca Juga:  Ketemu di Dunia Maya, Tapi Baper Sampai ke Dunia Nyata?

Memang, hal tersebut sangat mengasyikkan dan akan berkesan untuk dikenang nanti, tapi kalau temanmu tersakiti ya minta maaf saja lah. Toh, nggak tiap dibercandain dia akan baper. Mungkin ada pengalaman yang kelam sehingga membuatnya sangat tersakiti terhadap candaan tertentu.

Sering kali orang mengabaikan keluhan sohibnya sendiri terhadap guyonan tertentu. Bagaikan angin, fyuuuh, datang kemudian berlalu sudah. Tidak merasa berdosa sama sekali, malah ngatain baperan, kemudian melanjutkan guyonannya. “Ah, nggak usah minta maaf orang kita sohiban, dianya aja yang baperan.” Heyyy, orang yang tersakiti kalau dikatain baperan itu bagai luka ditaburi garam, sakitnya double, tahu! Kamu tuh temen apa temen???

Itulah sekilas tentang bagaimana kata baperan membuat orang-orang sekarang jadi nggak tahu malu. Pesan moralnya simpel: kalau temanmu baper, nggak usah gengsi minta maaf!

BACA JUGA Tentang Sebutan ‘Aku-Kamu’ yang Bikin Anak Jakarta Baper dan tulisan Muhammad Sachrul Basyari lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.