4 Kemungkinan Kenapa Banyuwangi Tidak Diajak Kerja Sama oleh Tiga Kabupaten Tetangganya

4 Kemungkinan Kenapa Banyuwangi Tidak Diajak Kerja Sama oleh Tiga Kabupaten Tetangganya

4 Kemungkinan Kenapa Banyuwangi Tidak Diajak Kerja Sama oleh Tiga Kabupaten Tetangganya

Kabupaten Banyuwangi mungkin sering merana bertetangga dengan Situbondo, Bondowoso, dan Jember. Pasalnya, baru-baru ini tiga kabupaten itu sepakat menandatangani kerja sama tentang “Penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan, Kemasyarakatan, dan Pelayanan Publik Terintegrasi Berbasis Aglomerasi”.

Kerja sama itu katanya perluasan dari kerja sama Selingkar Ijen, agar tidak hanya mencakup bidang pariwisata belaka. Pada Agustus lalu, salah satu pemberitaan sempat menyebut Banyuwangi termasuk bersama ketiga kabupaten itu. Namun, Banyuwangi kemudian justru hilang, sesuai dengan beberapa pemberitaan setelahnya.

Sebenarnya, ditinggalkannya Banyuwangi tidak selaras dengan semangat aglomerasi, yang jadi fokus utama dalam kerja sama itu. Gotong royong regional sepantasnya melibatkan berbagai pihak secara menyeluruh. Apalagi Banyuwangi punya peran penting di kawasan ini. Baik sebagai pintu gerbang laut dan udara di ujung timur Jawa, maupun jaringan rantai pasok berbagai komoditas.

Ya, gimana lagi, emang nggak wajib sih ngajak Banyuwangi

Jika mengacu pada UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dan peraturan turunannya, yakni PP Nomor 28 Tahun 2018 tentang Kerja Sama Daerah, MoU ketiga kabupaten itu tampaknya masuk kategori kerja sama sukarela, bukan kerja sama wajib. Jadi memang tidak masalah Banyuwangi ditinggalkan.

Melalui beberapa pemberitaan sebulan belakangan, Sekretaris Daerah Bondowoso telah mengklarifikasi bahwa Bondowoso, sebagai inisiator kerja sama ini, tetap berkomunikasi intensif dengan Banyuwangi. Dia juga mengakui kerja sama ini hanya sebagai permulaan. Tujuannya justru untuk mengejar ketertinggalan yang sudah jauh dari Banyuwangi.

Namun, kurang rasanya jika tidak mengira-ngira alasan lainnya mengapa Banyuwangi nggak join circle ini. Mari kita main tebak-tebakan saja.

“Luka” lama Tiga Serangkai kepada Banyuwangi

Sebenarnya saya mumet ngebahas “konflik-konflik” tiga kabupaten itu dengan Banyuwangi. Tapi ayo nyoba bersabar. Pertama, tentu saja yang paling terkenal dan alot: sengketa kawasan Ijen antara Bondowoso dan Banyuwangi. Untungnya, selain sudah klir berkat putusan di pengadilan, proyek geopark menyatukan kembali keduanya demi visi pengakuan UNESCO, dan yang paling penting, pelestarian alam yang berkelanjutan.

Kedua soal Baluran. Beberapa bulan lalu, Bupati Situbondo menengarai, selama ini persona Taman Nasional Baluran identik dengan Banyuwangi, padahal terletak di wilayah Situbondo. Meskipun Pemkab Banyuwangi tidak menanggapi secara resmi pernyataan itu, netizen di media sosial otomatis nyerocos. “Salah sendiri enggak dipromosiin dengan baik,” kata salah satu dari mereka.

Ketiga, persaingan Bandara Notohadinegoro dan Bandara Banyuwangi. Lagi-lagi kepala daerah pelakunya. Bupati Jember menyebut tiket pesawat Jember-Jakarta (PP) lebih murah dibanding bandara sekitar. Tanpa nyebut namanya, netizen juga sudah tahu kalau yang dimaksud adalah Bandara Banyuwangi. Sialnya, Bupati Jember mengiyakan bahwa jika ingin dapat sorotan, kadang menyenggol tetangga itu perlu.

Bisa saja, riwayat konflik-konflik itu masih meninggalkan rivalitas yang kuat antara ketiga kabupaten itu dengan Banyuwangi. Mereka hanya mencoba memberi “pelajaran”  kepada Banyuwangi. Siapa yang tahu, kan.

Perbatasan yang menantang

“Kulon gunung, wetan segoro/lor lan kidul alas angker”, ucap sepetik lirik lagu “Umbul-umbul Blambangan”. Lirik itu menggambarkan perbatasan-perbatasan Banyuwangi.

Dan itu nyata. Di antara Banyuwangi dan Bondowoso, terhampar kawasan bekas letusan Gunung Ijen Purba yang menjulang tinggi lagi membentang luas. Situbondo-Banyuwangi dipisahkan jalur darat puluhan kilometer yang berkelok-kelok tajam di belantara hutan Baluran. Sementara dengan Jember, ada jalur pegunungan Gumitir yang selama ini banyak makan korban kecelakaan kendaraan.

Alhasil, Banyuwangi rada sulit diakses pakai jalur darat oleh ketiganya. Dari Jember bisa saja pakai kereta api, tapi untuk kerja sama seperti ini, jalur darat tetap lebih baik. Dari Situbondo sebenarnya bisa lewat laut, tapi itu jauh lebih ribet daripada menembus Baluran. Dan tidak ada konektivitas melalui udara di empat kabupaten ini. Masalah perbatasan ini memang berpotensi menghambat jalannya kerja sama.

Positif thinking, mungkin karena beda tujuan

Sekali lagi, mungkin, poin-poin yang disepakati oleh ketiga kabupaten itu tidak selaras dengan program yang sudah, sedang, atau akan Banyuwangi jalankan. Sebab setiap kabupaten punya tujuan masing-masing. Perbedaan pendapat atau gagalnya negosiasi bisa saja terjadi. Sehingga Banyuwangi menolak ajakan mereka (kalau memang ketiganya sempat ngajak sih).

Namun, melihat program-program dalam kerja sama itu, semuanya tampak bagus dan sangat bisa berpotensi menguntungkan bagi siapa pun yang gabung kerja sama. Tapi, ya balik lagi, tetap butuh persetujuan tanpa paksaan.

Banyuwangi Terlalu Lambat (?) 

Ada fakta menarik. Sebenarnya, pada 2021 lalu, sewaktu menghadiri serah terima jabatan kepala daerah di Banyuwangi, Gubernur Jawa Timur Khofifah bilang, Banyuwangi harus segera memulai kerja sama Selingkar Ijen. Landasannya adalah Perpres Nomor 80 Tahun 2019 Tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan, Kawasan Bromo-Tengger-Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan. Selingkar Ijen didapuk menjadi pendukung empat kawasan itu.

Tapi, Bumi Blambangan tak kunjung meneken kerja sama layaknya MoU yang sekarang. Mungkin saja ketiga kabupaten itu sudah greget karena tidak segera mulai. Makanya memulai tanpa ngajak-ngajak.

Eks Keresidenan Besuki bisa jadi branding bersama

Empat kabupaten ini dulu pernah tergabung dalam Keresidenan Besuki. Karena keresidenan sudah dihapus, sekarang perlu menambah kata “eks” untuk menyebutnya. Namun, semangat keresidenan tampaknya tidak bisa hilang begitu saja. Buktinya Bupati Bondowoso sadar bahwa kabupaten di kawasan ini perlu bersatu, sehingga menginisiasi aglomerasi.

Semua masalah pasti ada solusinya. Meskipun ada kompleksitas hubungan antarempat kabupaten itu, semua bisa dibicarakan lagi. Kalaupun ini masalah konektivitas, tol Probowangi dan Jalur Lintas Selatan bisa menjadi solusinya. Begitu juga dengan branding bersama Eks Keresidenan Besuki sebagai potensi ekonomi besar di wilayah ujung timur Jawa sebagai penyangga Bali.

Penulis: Hilmi Baskoro
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Gunung Ijen Sebaiknya Masuk Daerah Kabupaten Bondowoso ketimbang Kabupaten Banyuwangi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version