Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

4 Hal yang Bikin Saya Bangga Jadi Warga Lamongan

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
22 Juni 2022
A A
Sego Boran, Kuliner Legendaris yang Cuma Ada di Lamongan

Sego Boran, Kuliner Legendaris yang Cuma Ada di Lamongan (Joko Utomo via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya asli Lamongan, dan saya bangga

Berbicara mengenai sebuah kota kelahiran, tentu tidak lepas dari kebanggaan dan keterikatan secara mendalam. Iya, kita sering kali membanggakan kota kelahiran dengan cukup berlebihan. Tentu ini merupakan bentuk kecintaan, karena itu perilaku tersebut amat sangat dimaklumkan.

ADVERTISEMENT

Bagi yang lahir di kota besar, seperti Jogja, banyak hal yang bisa diceritakan. Bahkan sebuah angkringan saja bisa diromantisasi secara paripurna.

Akan tetapi, tidak semua kota kelahiran memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Banyak anak-anak yang lahir di kota kecil, bahkan sebuah kabupaten yang susah sekali untuk dicari sisi menariknya.

Nah, ini yang sempat saya alami karena lahir di sebuah kabupaten yang bernama Lamongan. Bagi kebanyakan orang, Lamongan hanya dipandang sebatas soto dan pecel lele beserta tenda pinggir jalannya.

Tapi, setelah merantau di Jogja, saya malah menemukan hal-hal yang bisa dibanggakan dari kabupaten saya ini, Lamongan.

#1 UMR lebih besar dari Jogja

Bukan rahasia umum lagi jika UMR di Jogja memiliki nominal yang kurang mencerminkan kondisi sebuah kota besar. Keluhan tersebut sering “bergentayangan” di berbagai media sosial, khususnya Twitter.

Melihat fenomena tersebut, saya cukup bangga dengan UMK kabupaten saya ini yang lebih tinggi dari Jogja. Bayangkan saja, kabupaten kecil yang sering banjir itu ternyata bisa memiliki UMK yang lebih gede dari Jogja. Iya, Jogja, cuy. Kota Istimewa itu lho.

Baca Juga:

Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk banyak pelajar 

Warbisayah.

#2 Tidak ada klitih

Kenakalan remaja memang sebuah hal yang terjadi di semua penjuru dunia, khususnya di Indonesia. Akan tetapi di Jogja, ada satu kenakalan remaja yang cukup meresahan yang diberi nama “klitih”.

Bagi yang belum tahu, klitih itu sejenis begal, hanya saja motif tindakannya bukan karena ekonomi, melainkan suka-suka. Iya, banyak kasus klitih di mana korban mengalami luka-luka, bahkan meninggal dunia, tapi harta benda sama sekali tidak diambil.

Penanganan klitih yang cukup wadidaw membuat orang yang tinggal di Jogja akan resah untuk berkendara di malam hari. Hal ini berbeda sekali dengan di Lamongan. Meski kenakalan remaja juga terjadi, tapi tidak pernah ada yang namanya klitih atau sejenisnya.

Saya sendiri cukup sering pulang malam sekitar jam 12 atau jam 1. Tapi, saya dapat pulang dengan riang gembira. Tak ada kekhawatiran akan tiba-tiba dipepet dan dihajar dengan senjata tajam.

Yang saya khawatirkan dari pulang malam bukan klitih, tapi ban bocor atau yang paling buruk, pocong. Disabet arit? Nggak ada itu.

Lamongan memang kabupaten yang sering banjir, tapi untuk tingkat keamanan, khususnya kasus kekerasan di jalan, Lamongan bisa dikatakan sangat aman sekali. Dan ini perlu saya banggakan.

#3 Punya alun-alun yang “terbuka” untuk masyarakat

Kebanyakan daerah di Indonesia memang memiliki alun-alun yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau, ruang publik, maupun ruang berkesenian. Oleh karena itulah alun-alun sebenarnya memiliki esensi yang cukup vital.

Oleh karena itu jugalah, saya beruntung tinggal di daerah yang alun-alunnya tidak dipagari secara rapat, dan boleh dikunjungi 24 jam. Ya, gimana, ada lho sebuah kota yang alun-alunnya dipagar, sehingga masyarakat tidak bisa berkunjung ke sana.

Eh, itu alun-alun apa halaman pribadi, sih? Nggak sekalian dibangun kolam koi?

#4 Tidak bisa diromantisisasi

Bukankah romantisisasi sebuah kota adalah hal yang baik? Betul, di satu sisi sangat betul. Akan tetapi, romantisisasi tersebut juga cukup riskan jika dilakukan secara serampangan. Banyak dampak yang terjadi akibat romantisisasi tersebut, yang membuat masalah di daerah tersebut akhirnya tertutupi dan tidak terselesaikan secara tuntas.

Misalnya, ada sebuah kota yang di romantisisasi dengan biaya hidup yang murah. Padahal, jika diamati dengan saksama, harga kos dan makanan pokok tidak semurah itu. Iya, sih, jika dibandingkan dengan kota yang UMR-nya 4 jutaan akan terlihat murah, tapi jika dibandingkan dengan daerah yang UMR-nya sekitar 2 juta-an, maka akan terlihat biasa, bahkan terkesan lebih mahal.

Nah, di sini letak kebanggaan saya terhadap Lamongan, karena kabupaten ini tidak bisa di romantisisasi. Gimana mau romantisisasi, lha nggak ada sisi romantisnya. Kondisi jalan saja lebih banyak yang berlubang. Kemudian tiap musim hujan pasti ada wilayah yang selalu banjir. Ruang terbuka hijau juga tidak banyak. Karena itu kabupaten Lamongan memang sebuah kota yang tercipta untuk dicintai apa adanya.

Itulah hal-hal yang bikin saya bangga betul dengan kota kelahiran saya. Semoga Adhitiya Sofyan segera bikin lagu “Sesuatu di Lamongan”. Saya jamin laris!

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal Tidak Menyenangkan Jadi Warga Kabupaten Lamongan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2022 oleh

Tags: alun-alunJogjalamonganpecelsoto
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

5 Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Underpass Kentungan Jogja Saat Banjir

5 Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Underpass Kentungan Jogja Saat Banjir

28 November 2024
5 Rekomendasi Angkringan Enak di Gunungkidul terminal mojok.co

5 Rekomendasi Angkringan Enak di Gunungkidul

26 November 2021
Bantul Nggak Aneh! Sebagai Orang Kota Jogja, Saya Justru Iri pada Bantul

Bantul Nggak Aneh! Sebagai Orang Kota Jogja, Saya Justru Iri pada Bantul

27 Juni 2024
Kasta Helm di Jogja: BMC dan GM Mutlak Dimiliki Gondes Bantul, Cargloss Dipakai Warga Sleman

Kasta Helm di Jogja: BMC dan GM Mutlak Dimiliki Gondes Bantul, Cargloss Dipakai Warga Sleman

20 Maret 2025
PHK 240 Karyawan di Jogja: Mempertanyakan Janji Tak Ada Kemiskinan di Sumbu Filosofi

PHK 240 Karyawan di Jogja: Mempertanyakan Janji Tak Ada Kemiskinan di Sumbu Filosofi

14 September 2022
7 Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik di Jogja yang Sayang Dilewatkan  

7 Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik di Jogja yang Sayang Dilewatkan  

7 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk pelajar Mojok.co

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk banyak pelajar 

8 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.