Inilah 4 dosa pedagang sate maranggi, yang bikin pembeli kapok untuk datang lagi. Saya tulis supaya kamu bisa bedain mana yang enak beneran.
Tuhan memberkati orang Indonesia dengan makanan-makanan yang enak dan variasinya nggak habis-habis. Kita punya soto dengan beragam isi dan cara penyajiannya serta nasi goreng yang bahkan mengundang rasa penasaran orang-orang dari luar negeri untuk mencicipinya.
Selain itu, di Indonesia juga ada sate dengan berbagai ragam. Selain sate Madura, sate Padang, atau sate lilit, kita juga punya sate maranggi yang ikut menyemarakkan khazanah kuliner sedap khas Indonesia.
Sate maranggi yang berasal dari Purwakarta ini punya cita rasa perpaduan manis dan gurih dengan tekstur daging yang empuk. Sate ini juga dikenal dengan bumbunya yang meresap sampai ke dalam dan selalu ada potongan gajih di setiap tusuknya.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kuliner ini awalnya menggunakan daging domba. Tapi, pada perkembangannya, ada pula inovasi penggunaan daging sapi atau kambing. Ada pula pembaruan-pembaruan dari setiap kecamatan di Purwakarta. Namun, apapun dagingnya, sate maranggi tetap bikin siapa saja yang mencicipinya jatuh hati.
Namun, sama seperti makanan lain, nggak semua sate maranggi itu enak. Semua tergantung pada penjualnya. Ada pula penjual yang berdosa karena membuat pembelinya kapok melalui hal-hal berikut ini.
BACA JUGA: 3 Alasan yang Membuat Saya Tetap Makan Sate Kelinci, meski Dicap Psikopat
#1 Nggak bisa mengolah daging dengan benar, jadinya alot dan keras
Dagingnya itu harus empuk. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Irvan Setiawan dengan judul “Sate Maranggi: Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta”, pembuatan sate ini memang nggak boleh asal-asalan. Ada tahap-tahap yang harus dilalui.
Sate maranggi bisa punya tekstur yang empuk karena ada proses pengempukan daging. Kita melakukannya dengan cara membungkus seluruh irisan daging dengan daun pepaya dan mendiamkannya selama kurang lebih tiga jam.
Kalau penjual nggak tahu cara yang benar untuk mengempukkan daging atau nggak melewati tahap ini dengan baik, sudah pasti dagingnya akan alot dan keras. Dalam kamus sate maranggi, nggak ada tuh daging yang kalau kita menggigit dan mengunyah, malah kayak makan karet.
#2 Bumbu sate maranggi kurang meresap sehingga rasanya hambar
Setelah proses pengempukan daging, tambahkan bumbu berupa gula merah dan garam yang sudah dilumatkan. Setelah itu, masuklah ke dalam proses menusukkan irisan daging ke tusukan satu per satu.
Gula merah ini merupakan bagian yang nggak boleh terlewat. Kalau nggak pakai gula merah dan proses pemberian bumbunya nggak sempurna, alhasil bumbu nggak akan meresap sampai ke dalam. Dan sudah pasti, rasa satenya pasti hambar sehingga bikin pembeli jera.
#3 Sambal tomatnya sudah nggak segar
Ciri khas lain dari kuliner ini adalah keberadaan sambal tomat. Konon, sambal tomat ini juga termasuk bentuk inovasi karena dulu hanya ada di Warung Hj. Yetty di Cibungur. Sekarang, sudah ada di banyak tempat.
Dosa penjual sate maranggi adalah menyajikan sambal tomat yang sudah nggak segar. Daya tahan tomat itu sebentar sehingga idealnya sambal tomat disiapkan jika ada pesanan. Tomat merah akan dipotong kasar bersama gerusan cabe rawit, garam, dan gula putih.
Tapi, penjual yang antara ingin menghemat waktu atau malas malah menyiapkan sambal tomatnya sebelum ada pesanan. Alhasil ketika sampai di meja pembeli, tomatnya sudah pada layu.
BACA JUGA: 4 Akal-akalan Penjual Sate Ayam demi Meraup Cuan Besar, tapi Merugikan Pembeli
#4 Gajih sate maranggi yang masih terasa amis
Pada setiap tusuk sate maranggi, biasanya ada 1-2 gajih yang ikut disertakan. Gajih ini membuat cita rasa sate lebih gurih. Mengingat gajih ini adalah lemak, maka proses pengolahannya harus lebih hati-hati agar nggak bikin rasa amisnya tetap tinggal.
Tapi, penjual yang belum ahli atau lalai akan membuat gajih tetap terasa amis. Alhasil, untuk mengakali rasa amis ini, pembeli yang mencicipi harus menutupinya dengan acar atau sambal. Padahal sejatinya, sate maranggi yang enak itu nggak pakai tambahan saja sudah lezat.
Sate Maranggi memang terkenal enak. Tapi sayangnya, nggak semua warung sate maranggi bisa menyajikan hidangan yang layak.
Untuk menemukan penjual yang enak itu memang tricky. Begitu salah satu dari keempat hal yang sudah disebutkan di atas itu kamu jumpai, sudah pasti penjualnya berdosa kepadamu karena pasti bikin kamu kapok.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Kampung Sate Maranggi, Wisata Kuliner Unik di Kabupaten Purwakarta
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
