Memilih antara Nasi Padang dan angkringan bukan lagi perkara selera, melainkan soal kelihaian dalam berlogika
Angkringan kerap kali didapuk sebagai pelabuhan terakhir bagi jiwa-jiwa yang dompetnya tengah sekarat. Duduk di kursi kayu sembari diterangi remang lampu memang terasa syahdu, seolah nestapa kemiskinan sedang dirayakan secara puitis. Namun, ayo jujur, itu semua sebenarnya nggak lebih dari ilusi romantisasi.
Toh, urgensi orang melipir ke angkringan adalah untuk mengusir kelaparan dengan anggaran pas-pasan, bukan buat nongkrong tanpa tujuan. Makanya, rasanya terlalu berlebihan kalau angkringan dianggap sebagai pahlawan tunggal kaum jelata. Malah, kehadiran Nasi Padang terasa lebih logis sebagai penyelamat kaum mendang-mending in this economy.
#1 Porsi nasi padang jelas memanusiakan manusia
Mari sepakati satu hal fundamental bahwa esensi makan itu supaya kenyang, bukan sebatas mengisi lambung biar ada penghuninya. Di sinilah letak superior Nasi Padang dikukuhkan. Nasi Padang hadir dengan wibawa porsi yang mantap, sangat kontras dengan nasi kucing angkringan yang porsinya sering kali memprihatinkan.
Belum lagi, porsi nasi kucing sangat fluktuatif dan subjektif, tergantung pada siapa yang membungkusnya. Sebaliknya, Rumah Makan Padang menawarkan kedaulatan penuh bagi perut pelanggannya. Nggak jarang, pembeli dipersilakan mengambil sendiri nasi, guyuran berbagai macam kuah, sayur, hingga sambal sesuai dengan kapasitas perut masing-masing. Transparansi porsi makan tanpa didikte inilah yang menempatkan Nasi Padang jadi hidangan tak tergantikan.
#2 Kebersihan dan kenyamanan warung nasi padang bisa diandalkan
Banyak orang terjebak pada asyiknya melahap makanan di tenda tepi jalan tanpa menyadari bahwa ada harga tersembunyi yang mesti dibayar. Apalagi kalau bukan perihal kesehatan. Dari segi higienitas, standar Rumah Makan Padang jauh lebih meyakinkan dibanding gerobak angkringan.
Sebab, seluruh sayur dan lauknya dipajang rapi di dalam etalase kaca. Benteng kaca ini bukan sekadar pajangan, melainkan proteksi nyata demi memastikan kemuliaan rendang dan ayam pop tetap terjaga dari gangguan eksternal. Sementara, baceman dan sate-satean ala angkringan biasanya dibiarkan saja terpapar udara terbuka. Tanpa adanya perisai yang memadai, lauk pauk tersebut jadi sasaran empuk debu jalanan dan risiko dihinggapi lalat pembawa penyakit.
#3 Pelanggan bebas dari jebakan Batman harga murah
Terjerat muslihat harga miring di angkringan bukan mitos semata, melainkan sebuah realitas pahit yang menyergap para pengunjung angkringan. Sudah jadi rahasia umum jika jajaran variasi sate di angkringan tak ubahnya scam bagi pembeli. Secara psikologis, harga Rp3.000 hingga Rp5.000 per tusuk terdengar seperti recehan yang nggak berarti. Padahal, kalkulasi akhir sering kali bikin jantung berdegup kencang.
Soalnya, umumnya rata-rata pelanggan bakal mengambil tiga sampai lima tusuk sate agar perut terpuaskan. Pun, minimal nasinya biasanya habis dua bungkus. Saat ditotal, jumlah tagihan sudah mencapai sekitar angka Rp25.000. Harga akhir ini jelas nggak bisa dibilang mewakili definisi makan murah.
Faktanya, dengan nominal yang sama, bersantap di Rumah Makan Padang merupakan opsi yang lebih cerdas dan masuk akal karena sepiring nasi putih berikut lauk, sayur, dan sambal akan siap terhidang. Artinya, gizi yang disodorkan di Rumah Makan Padang terbilang lengkap. Ada karbohidrat kompleks, protein, bahkan serat.
Bandingkan dengan menu angkringan yang didominasi oleh karbohidrat dari nasi kucing dan lemak jenuh dari gorengan atau baceman. Alih-alih kenyang lama, yang didapatkan justru hanya lonjakan gula sejenak yang akan terjun bebas kemudian. Dari sisi kelengkapan gizi dan proses waktu cerna, jelas nasi padang jadi pemenang.
#4 Rumah Makan Padang menjanjikan pengalaman makan jempolan
Kalau ngomongin soal rasa, membandingkan Nasi Padang dan nasi kucing itu ibarat lantunan musik klasik dan sound horeg. Sama-sama terdengar, tapi beda kelas. Masakan Padang adalah hasil dari dedikasi tingkat tinggi melalui teknik memasak turun-temurun. Misalnya saja, kalio atau rendang menuntut proses masak berjam-jam agar bumbu rempahnya meresap sempurna.
Sementara, panganan di angkringan hanya mempunyai satu profil rasa monoton. Kalau nggak manis kecap, ya gurih MSG. Nggak ada petualangan kuliner di angkringan. Cita rasanya nyaris seragam sehingga lidah dipaksa pasrah tanpa kejutan rasa yang berarti. Bumbunya sekadar asal nempel di permukaan. Boleh dikata, Nasi Padang punya cara lebih elegan untuk menenangkan perut yang keroncongan ketimbang angkringan.
Memilih antara Nasi Padang dan angkringan bukan lagi perkara selera, melainkan soal kelihaian dalam berlogika. Nyatanya, angkringan yang dicap murah malah sering membuat kantong bolong tanpa sisa. Justru, Nasi Padang sukses mendeklarasikan bahwa kenyang yang paripurna, gizi terjaga, dan transparansi harga adalah kemewahan yang seharusnya bisa dinikmati siapa saja tanpa perlu merasa dikelabui stigma.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 9 Ciri Warung Nasi Padang yang Sudah Pasti Enak dan Bikin Balik Lagi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
