3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

Selain Bandung, ada kota lain yang membuat saya jatuh hati, yakni Tangerang Selatan. Alasannya karena saya pernah merantau ke sana sekitar 10 yang lalu, sesaat setelah lulus SMK.

Sekarang, saya sudah kembali menetap di tanah kelahiran, Bandung. Maka, saya sudah tidak lagi bergelut dengan kerasnya persaingan di penyangga Jakarta. Tapi, sekalinya ingat masa lalu, memori saya langsung tertuju ke kawasan Ciputat, tempat saya menumpang di rumah saudara demi mencari rezeki dan mengejar mimpi.

Kendati hanya sempat tinggal di sana kurang dari satu semester sebelum akhirnya terpaksa angkat kaki oleh keadaan, saya tetap merindukan Tangerang Selatan. Entah sihir apa yang dipakai kota ini sehingga saya begitu kesengsem dengannya, padahal nasib baik belum sempat mampir saat itu.

#1 Jejak perjuangan Tangerang Selatan di Masjid Agung Al-Jihad

Hal pertama yang selalu memanggil memori saya tentang Tangerang Selatan adalah Masjid Agung Al-Jihad. Berdiri megah di Jl. H. Usman, masjid ini bukan sekadar bangunan bersejarah yang menjadi latar azan pertama TVRI tahun 1970. Lebih dari itu, ia adalah saksi bisu perjuangan kemerdekaan.

Konon, pada masa revolusi, kawasan sekitar masjid ini sempat menjadi saksi ketegangan antara pejuang lokal dengan penjajah, bahkan pernah menjadi lokasi penawanan di masa pergolakan fisik.

Bagi saya, ia adalah tempat istirahat dan perlindungan yang paling teduh. Di tengah ribuan jemaah, tersimpan memori tentang lelahnya mengetuk pintu-pintu kantor di seantero Tangerang Selatan demi mencari loker.

Saat itu, lantai masjid ini adalah sandaran terbaik untuk mengumpulkan sisa tenaga. Melihat menaranya dari kejauhan rasanya seperti menemukan mercusuar di tengah badai. Di atas ubin yang dingin dan penuh nilai sejarah itulah, saya sering merenung dan menitipkan doa-doa paling tulus tentang nasib.

#2 Stadion Mini Ciputat, ruang publik yang jujur

Saya juga menaruh rindu pada Stadion Mini Ciputat, markas kebanggaan klub sepak bola Persitangsel. Stadion yang berada di Jalan Pendidikan ini memiliki keunikan yang sangat khas “Tangerang Selatan banget”, yaitu berdiri di tengah pemukiman padat penduduk. Alhasil, jika ada pertandingan besar, mencari celah parkir motor saja lumayan sulit, apalagi parkir mobil.

Bagi saya, tempat ini adalah paru-paru sekaligus pelarian dari sesaknya polusi Tangerang Selatan. Saya ingat betul momen duduk merenung di sana ditemani segelas kopi plastik, menonton hiburan gratis berupa bapak-bapak berperut buncit yang berjuang mencari keringat.

Stadion ini membuktikan bahwa bahagia itu sederhana. Cukup dengan riuh rendah teriakan penonton dan aroma jajanan yang menusuk hidung, penat karena panggilan kerja yang tak kunjung datang pun bisa luruh sejenak.

#3 Romantika Jalan Ir. H. Djuanda di bawah Flyover Pasar Ciputat, Tangerang Selatan

Mungkin terdengar absurd merindukan kemacetan, tapi Jalan Ir. H. Djuanda adalah urat nadi Tangerang Selatan. Sebagai penghubung utama Jakarta menuju Parung, Kabupaten Bogor, jalan ini adalah saksi bisu perjuangan saya mengejar mimpi di atas “kuda besi”.

Saya hampir khatam dengan titik-titik macetnya, mulai dari pertigaan Gintung, dekat kampus UIN Syarif Hidayatullah, hingga titik paling “brutal” di bawah flyover Pasar Ciputat yang konon disebut salah satu pasar paling ruwet se-Tangerang Selatan.

Kemacetan di sana bukan sekadar tumpukan berbagai jenis kendaraan, melainkan ribuan bunyi klakson dan kepulan asap yang menyatukan nasib para pejuang hidup. Di tengah macet itulah, saya melihat wajah-wajah lelah pedagang dan pekerja yang menyadarkan saya bahwa saya tidak sendirian. Di aspal panas itulah mental saya menempa diri sebagai pemimpi yang baru saja lulus sekolah.

Kota Tangerang Selatan, meski hanya menjadi tempat singgah sebentar petualangan hidupku, tapi telah meninggalkan jejak yang tak pernah pudar. Raga memang telah kembali ke pelukan Bandung, tapi sebagian jiwa saya masih tertinggal di sana.

Penulis: Acep Saepulloh

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Tangerang Selatan (Tangsel): Kota dengan Pertumbuhan Terdahsyat di Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version