3 Perilaku Pendaki Gunung Lawu yang Bikin Geleng-geleng, Eksklusif dari Penjaga Basecampnya Langsung

Pengalaman Mendaki Pertama Kalinya dan Nekat Langsung ke Lawu: Sebuah Kesalahan yang Nggak Bikin Saya Menyesal gunung lawu

Pengalaman Mendaki Pertama Kalinya dan Nekat Langsung ke Lawu: Sebuah Kesalahan yang Nggak Bikin Saya Menyesal (AdrianVallen via Wikimedia Commons)

Beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke Basecamp Gunung Lawu via Cemoro Sewu untuk menggarap sebuah proyek film dokumenter. Di sana, saya bertemu sama dua orang rangers yang udah sangat kenal sama seluk-beluk gunung ini.

Sambil menyeruput kopi, kami ngobrol banyak hal, mulai dari kondisi alam Lawu, urusan biaya retribusi, sampai cerita-cerita di balik layar yang jarang diketahui oleh publik.

Namun, di sela obrolan santai itu, terselip nada keresahan soal perilaku pendaki yang sering kali bikin mereka geleng-geleng kepala. Ternyata, nggak semua orang datang ke Lawu dengan persiapan dan etika yang benar. Nah, berikut adalah tiga kelakuan pendaki yang paling meresahkan menurut mereka. Simak baik-baik, siapa tahu kamu salah satunya!

Modal FOMO tapi nggak ada persiapan

Pertama, FOMO. Akhir-akhir ini, tren ikut-ikutan eman lagi hangat jadi perbincangan di dunia pendakian. Ada jalur baru atau spot foto bagus yang viral, pasti beberapa pendaki langsung penasaran dan berbondong-bondong datang. Saat saya ngobrol bersama rangers, sebenarnya mereka nggak begitu mempermasalahkan tren ini. Toh bisa berdampak baik karena akan banyak pendaki yang mampir ke Gunung Lawu dan otomatis berdampak juga pada pemasukan basecamp.

“Ora popo mas FOMO, asal ono persiapan,” kata salah satu rangers. Nah inilah yang jadi masalah. Banyak pendaki FOMO, khususnya para pemula, yang mendaki cuma modal ikut-ikutan tanpa pemahaman dasar sama sekali. Mereka cenderung meremehkan medan Lawu dan nekat naik hanya dengan perlengkapan seadanya.

Buktinya, para rangers masih sering lo menemukan pendaki yang nggak membawa jaket, mantel, sleeping bag, bahkan obat-obatan pribadi. Akhirnya, jika ditemukan pendaki nekat seperti ini, mereka biasanya diwajibkan menyewa perlengkapan di lokasi demi keselamatan mereka sendiri.

BACA JUGA: Pengalaman Mendaki Pertama Kalinya dan Nekat Langsung ke Lawu: Sebuah Kesalahan yang Nggak Bikin Saya Menyesal

Masih minimnya kesadaran untuk menjaga alam Gunung Lawu

Sebagai sebuah gunung, tentu kita tau kalau Lawu masih menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Vegetasi di sini masih rimbun, satwanya pun juga masih beragam. Tentu sebagai tamu, pendaki juga punya kewajiban untuk menjaga itu semua. Namun, realitas di lapangan sering kali bertolak belakang.

Menurut penjelasan rangers, di jalur Cemoro Sewu masih marak oknum pendaki yang membuang sampah sembarangan atau melakukan vandalisme. Sampah sachet hingga botol plastik masih sering mereka temukan di jalur pendakian. Belum lagi aksi menempel stiker komunitas di plang pos pendakian atau di batu. Ayolah, menempel stiker itu sama sekali nggak keren. Alih-alih bikin komunitasmu dikenal, kalian justru hanya akan merusak estetika alam Lawu.

Soal sampah pun harusnya udah jadi hal yang paling sederhana buat dipahami nggak sih. Kalian pasti udah tau kan kalau sampah plastik butuh puluhan bahkan ratusan tahun buat terurai?

Ingat lo kawan-kawan, selama sampah kalian masih belum terurai, itu akan jadi dosa jariyah buat kalian. Karena apa? Karena tindakan kalian hanya akan merusak alam dan merepotkan petugas yang harus memungutnya.

Hobi meninggalkan teman yang kelelahan

Terakhir, ini adalah kebiasaan yang paling sulit diterima oleh akal sehat. Saya sendiri pernah mendaki, dan saya tetap nggak habis pikir dengan orang yang tega meninggalkan temannya. Biasanya sih alasannya karena temannya jalannya lambat atau kelelahan ya. Apa mereka nggak takut ya kalau temannya kenapa-napa?

Benar kata pepatah, “Jika ingin melihat sifat asli manusia, ajaklah mendaki”. Di gunung, sifat egois seseorang akan terlihat jelas. Ya, contohnya masalah ini. Hal ini juga jadi keluhan para rangers. Tak jarang, mereka menemui rombongan yang jumlahnya nggak lengkap saat pendaki turun. Naik lima orang, turun cuma tiga orang. Bahkan saat ditanya temannya di mana, dengan santainya mereka menjawab temannya ditinggal di pos A atau pos B karena lelet atau kelelahan. Gila-gila, saat menceritakan ini aja para rangers cuma bisa tarik nafas panjang lo.

Itulah tiga perilaku pendaki Gunung Lawu yang bikin ranger Cemoro Sewu sampai geleng-geleng kepala. Ingat kawan, gunung bukan tempat bermain yang bisa kalian sepelekan. Apa pun yang kalian lakukan atau tinggalkan, semua akan berbalik ke kalian. Entah itu dalam bentuk lanskap alam yang menawan atau justru kesialan.

Jadi, jangan korbankan keindahan Lawu dengan membuang sampah sembarangan atau vandalisme hanya demi keegoisan kalian sendiri. Ingat prinsip pecinta alam,”Jangan ambil apa pun selain foto, jangan bunuh apa pun selain waktu, dan jangan tinggalkan apa pun selain jejak.” Ingat-ingat kata-kata itu!

Kalau emang FOMO, ya silakan, tapi ya harus dibarengi dengan persiapan dan pemahaman yang matang. Pun Jangan malah meninggalkan kawan kalian. Belajarlah dari kasus-kasus orang hilang di Gunung Lawu atau gunung lainnya, agar kalian nggak jadi korban berikutnya. Salam lestari!

Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Gunung Lawu Memang Beda, dan Kami Dipaksa Menyerah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version