Potensi Besar, Hasil Dipertanyakan: 3 Alasan Warga Situbondo Wajib Kecewa dengan Daerahnya yang Gitu-gitu Aja

Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini (Rizknas via Unsplash)

Meski jadi daerah dengan UMR terendah di Jawa Timur, bukan berarti Situbondo tanpa potensi yang bisa jadi alat untuk menyaingi daerah lain. Di daerah Tapal Kuda, Kabupaten ini masih punya kans untuk di atas Bondowoso atau Jember yang malah makin medioker.

Saya lumayan akrab dengan Situbondo. Saya beberapa kali melintas di wilayah ini saat perjalanan menuju ke Surabaya dari Banyuwangi. Alternatif pilihan yang tentu saja wajib dipilih saat jalur Gumitir penghubung Jember Banyuwangi beberapa waktu ditutup karena perbaikan. Nah, saat saya melintas itulah saya melihat jika sebenarnya daerah ini punya potensi.

Namun alih-alih digarap secara maksimal oleh Bupati Situbondo, daerah yang kaya potensi malah makin terlihat kurang inovasi. Sang Bupati hanya sibuk mengomentari kemajuan tetangga yang makin mentereng (red. Banyuwangi).  Berikut tiga hal yang menurut saya jadi alasan warga kecewa terhadap kinerja Bupati yang menjadikan daerahnya jadi semenjana.

Bupati lupa potensi Situbondo yang dilalui jalur Tol Prosiwangi   

Bak ketiban sampur, Situbondo sebenarnya memiliki keuntungan saat pemerintah memberikan persetujuan jika jalur Tol Probowangi dilewatkan jalur Utara Situbondo, bukan daerah selatan seperti Lumajang, Jember, dan langsung ke Banyuwangi. Bahkan saking pentingnya Situbondo, pemerintah juga memberikan lampu hijau saat usulan nama Tol Probowangi menjadi Prosiwangi.

Nah selain nama yang sudah masuk ke nama jalur tol, harusnya Pemda merespons potensi itu dengan menyiapkan berbagai hal agar pengguna tol menjadikan Situbondo sebagai tempat singgah, tidak hanya sekadar lewat.

Pelabuhan Jangkar, daya tarik yang malah diabaikan

Jika Banyuwangi bisa memaksimalkan potensi pelabuhan yang menghubungkan dengan wilayah Bali, hal ini perlu juga diupayakan oleh Pemda Situbondo dengan memaksimalkan potensi Pelabuhan Jangkar yang kini sudah semakin bagus. Namun ternyata pelabuhan ini hanya dimanfaatkan saja oleh driver truk yang menuju ke wilayah Nusa Tenggara.

Melihat langkah Pemda dalam kurun waktu satu dekade terakhir, justru terlihat seperti bingung. Mereka seperti tak tahu harus membawa Situbondo ke arah mana agar tidak stagnan. Andai Pelabuhan Jangkar dimanfaatkan, jelas mereka punya bargaining position yang lebih baik.

Situbondo tak hanya Hutan Baluran saja

Bupati Situbondo, Mas Rio, sempat satru dengan Bu Ipuk, Bupati Banyuwangi, gegara banyak wisatawan yang singgah ke Banyuwangi juga mengunjungi Hutan Baluran, Situbondo. Namun satru-nya bukan karena baik, melainkan nyinyir lantaran Mas Rio berasumsi Banyuwangi mengklaim Baluran sebagai wisata Bumi Blambangan.

Padahal klaim itu tidak ada, kebetulan saja banyak pengelola wisata di Banyuwangi yang memberikan paket wisata kunjungan ke Hutan Baluran karena dekat dengan Bangsring, Wongsorejo, wisata bawah air Banyuwangi.

Padahal jika ingin menggali potensi, Situbondo punya banyak daya tarik wisata yang bisa dijual. Setidaknya jika ini digarap maksimal, akan ada banyak alasan warga yang melintasi Situbondo untuk tidak singgah.

Ingat nama Situbondo sudah terkenal sejak dulu kala. Jika kalian tau Jalan Anyer-Panarukan (duh, masak ya nggak tahu?), jalan yang dibuat Daendels di masa kolonial Belanda. Nah Panarukan ini adalah salah satu Kecamatan di Situbondo. Jadi tidak ada alasan untuk bisa membuat Situbondo makin dikenal.

Belum lagi potensi wisata kota tua jika ingin diinisiasi. Sepengamatan saya sebagai pustakawan, ada banyak peninggalan kolonial yang tidak terawat. Mulai pabrik gula yang sudah mangkrak hingga eks bangunan stasiun penghubung jalur kereta dengan daerah lain di Tapal Kuda.

Intinya, beragam potensi yang ada itu akhirnya kembali lagi pada pemangku kebijakan di Pemda Situbondo. Apakah ingin memanfaatkan segala potensi yang ada atau justru fokus ke hal lain yang lebih menguntungkan bagi diri sendiri. Pada akhirnya, semua yang menilai adalah masyarakat, mereka merasakan manfaatnya atau tidak. Harusnya sih, ini sudah bisa keliatan jawabannya.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version