MOJOK.COJenis ban itu. Hati-hati kalau milih. Kalau nggak cerdas, bisa tertipu dengan beli ban yang kelihatannya baru tapi kualitasnya jelek dan bisa meledak tiba-tiba.

Ban kendaraan baik motor maupun mobil merupakan salah satu suku cadang yang penting. Salah dalam memilih dan menggunakan ban bisa menyebabkan kendaraan tidak nyaman bahkan merepotkan. Karena itu, kita harus mengenali produk ban yang kita gunakan.

Ada yang bilang ban tubeless (tanpa ban dalam) lebih praktis dan nyaman. Ada juga yang beranggapan kalau ban tube type (dengan ban dalam) lebih aman dan awet. Karena mereka juga beli pakai duit mereka sendiri, ya terserah mereka aja, kan? Hehehe.

Untuk urusan ban juga dibagi berdasarkan musim. Kalau di Indonesia, ada tipe dry (kering) untuk musim kering dan wet (basah) untuk musim hujan. Dengan kemajuan teknologi sekarang kayaknya sih udah ada yang all seasons. Jadi, ban bisa dipakai saat basah atau kering.

Ban menjadi mudah rusak ketika penggunaan tidak sesuai aturan. Misalkan, ban yang terlalu kecil atau besar tidak sesuai standar. Hal lain yang mungkin terjadi adalah karena lupa cek tekanan angin. Kurang angin juga bisa membuat ban jadi cepat retak dan pecah-pecah kayak kena sariawan.

Ukuran ban udah sesuai, tekanan angin juga pas. Tapi kok, cepat rusak juga. Gimana coba?

Banyak alasan kenapa ban cepat rusak. Dari waktu penggunaan yang intens, modifikasi yang asal-asalan, sampai “kelas jalan” yang terlalu berat. Selain itu, salah satu alasan yang cukup menarik adalah karena ada masalah pada ban itu sendiri.

Ada beberapa jenis ban yang saat ini beredar di pasaran. Dengan mengenali ban yang kita gunakan, maka kita bisa terhindar dari repot karena utusan yang berkaitan dengan roda. Berikut ini beberapa jenis ban yang beredar dan (kayaknya) perlu kita kenali.

Pertama, Ban Baru. Yang namanya ban baru, biasanya nggak ada masalah. Tapi juga nggak selamanya berjalan mulus. Hidup memang seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Kadang lancar, kadang juga meledak terus jadi ngerepotin.

Untuk masalah pada ban baru, biasanya terjadi karena cacat produksi yang (tidak sengaja) lolos ke pasaran. Untuk hal-hal semacam ini memang mungkin terjadi. Berdoa saja supaya dapat ban yang ada garansinya, sehingga bisa dapat ganti baru cuma bayar ongkos pasang.

Masalah lainnya adalah karena menggunakan barang baru, tapi pakai stok lama. Untuk pabrikan ban yang bonafide biasanya ada kode produksi pada fisik ban. Misal “0219” yang berarti dibuat bulan 2 (Februari) tahun 2019.

Masalah akan timbul ketika barang tertimbun lama di gudang. Penyimpanan yang serampangan dalam jangka waktu lama akan merusak produk (2 tahun setelah production date). Dengan demikian kualitas tidak lagi bisa terjamin. Dan kemungkinan ban bermasalah akan menjadi lebih besar.

Kedua, Ban Vulkanisir. Jenis ini adalah ban habis pakai yang kemudian rekondisi dengan menambah lapisan baru. Lapisan yang dibentuk akan membuat ban yang telah tipis menjadi lebih tebal. Hal ini akan membuat ban tampak seperti kondisi ketika masih baru.

Meski terlihat baru, tapi layer benang polyester dan nylon pada ban terkadang sudah getas atau rapuh. Dengan menggunakan ban jenis ini, terkadang bisa berbahaya bagi kendaraan. Terutama bila kendaraan mendapat beban maksimal dan dipacu dengan kecepatan tinggi.

Selain karena bahan baku yang tidak terjamin, kualitas juga bisa dilihat dari bengkel vulkanisir yang mengerjakan proses rekondisi. Karena itu, memilih jenis ban semacam ini membutuhkan ketelitian dan pengalaman yang panjang.

Ketiga, Ban Persenan. Yang dimaksud jenis ban ini adalah ban bekas pakai yang dianggap masih layak, tanpa intervensi tambahan. Biasanya akan dikasih skor 90%, 80%, 70%, dan seterusnya. Persentase yang diberikan sesuai dengan ketebalan ban yang ada.

Persentase ban sebetulnya tidak bisa dipastikan secara akurat. Karena itu, kesepakatan antara penjual dan pembeli sangat memengaruhi persentase tersebut. Jenis ban persenan ini bisa dikatakan ban bekas (kualitas) terbaik diantara jenis ban bekas lainnya.

Ban macam ini beredar di pasaran karena konsumen ban Indonesia yang luar biasa. Orang bisa baru saja beli ban, langsung ganti lagi hanya karena masalah motif ban yang dianggap nggak cocok. Di sini kadang saya merasa nggak habis pikir dan takjub dengan kemampuan finansial manusia jenis ini.

Keempat, Ban Solderan, Batikan, Ukiran. Ketiga istilah tersebut sebetulnya mengacu pada jenis ban yang sama. Yaitu ban tipis yang motif(ban)nya diperjelas dengan cara dicodet menggunakan alat. Proses yang dijalankan disebut nyolder, mbatik, atau ngukir.

Pertama keluar (dulu kala) alat yang digunakan adalah solder non-listrik seperti canting batik. Karena itu ban yang dihasilkan disebut ban solderan atau batikan. Saat ini, alat yang populer berupa pisau ukir, hingga lebih dikenal dengan ban ukiran.

Ban yang sudah tipis di ukir ulang sebetulnya menurunkan kualitas yang memang udah rendah. Apalagi sampai benang layer terpotong. Akibatnya, ban ukiran yang digunakan bisa meledak sewaktu-waktu.

Kelima, Ban Sulapan. Ban jenis ini adalah yang paling berbahaya karena tidak layak pakai. Biasanya, kondisi ban rusak parah tapi direkondisi tampilannya seperti ban layak pakai. Apabila dicoba, bisa dipastikan akan langsung meledak setelah dipompa.

Kerusakan terjadi biasanya karena ban sudah pecah dan tidak elastis. Untuk memperbaiki tampilan, terkadang hanya dilem kemudian dicat dengan cat khusus. Dengan demikian, akan terlihat layak pakai dan masih bisa digunakan.

Untuk jenis ban sulapan (ban rusak disulap seolah bisa dipakai) terkadang memang susah dibedakan dengan jenis ban lainnya. Bahkan penjual ban sendiri ada yang tertipu dan memborong ban jenis ini karena harganya yang sangat murah.

Mengganti ban memang harus dilakukan secara rutin agar kita bisa nyaman berkendara. Dengan mengenali berbagai jenis ban yang ada di pasaran kita bisa menyesuaikan belanja sesuai dengan kebutuhan.

Terkadang yang namanya apes memang tidak bisa diprediksi. Mau beli barang baru maupun seken, bakal ada aja kejadian yang menjengkelkan. Untuk itu, meminta garansi pada penjual adalah langkah aman dan tepat yang bisa dilakukan.

Jadi, selamat berkendara. Semoga tidak terjadi hal yang aneh-aneh pada ban Anda.



Tirto.ID
Loading...

No more articles