Dewi ‘Dee’ Lestari

“Dengan mencium aroma parfum mantan pacar, kita bisa langsung teringat segala-galanya. Mulai dari wajahnya, momen bersamanya, dan sebagainya. Penciuman memang sangat kompleks.” – Dee Lestari

Dewi Lestari Simangunsong atau yang lebih dikenal dengan nama Dee Lestari merupakan salah satu penulis wanita Indonesia yang masih konsisten menghasilkan karya tulis hingga saat ini. Karya teranyarnya, Aroma Karsa, telah terbit dalam bentuk hardcopy pada pertengahan Maret 2018 ini. Mengangkat aroma dan penciuman sebagai tema pusatnya, proses kreatif novel ini diawali dengan penelitian selama 1 tahun (November 2016 hingga November 2017), mulai dengan mengunjungi dan melakukan wawancara langsung dengan para pemulung di TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) Bantar Gebang, mendaki Gunung Lawu, hingga belajar langsung meracik parfum ke Singapura. Totalitasnya semakin menunjukkan bahwa Dee tidak hanya menulis namun—berdasarkan pengakuannya—penulis Perahu Kertas ini juga ingin memperoleh kepuasaan pribadi dalam karyanya. Lebih jauh lagi baginya, sebuah buku harus mempunyai pembelajaran, bukan hanya mengulang hal-hal yang sama.

Diawali dari Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (2001), Dee mulai dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai seorang penulis. Karyanya ini berhasil terjual 12.000 eksemplar hanya dalam waktu 35 hari dan terbit dalam versi bahasa Inggris pada Maret 2002. Meskipun jauh sebelumnya Dee sudah akrab dengan dunia tulis menulis, seperti ketika dirinya menjadi juara pertama pada lomba menulis yang diadakan oleh majalah Gadis pada tahun 1993, sebelum Supernova 1, wanita kelahiran Jawa Barat pada 20 Januari 1976 ini lebih dikenal sebagai salah satu vokalis dalam trio vokal Rida Sita Dewi.

Sebagaimana penulis lainnya yang sering kali memiliki tempat favorit tertentu untuk menemukan ide, Dee merasa bahwa kamar mandi adalah salah satu tempat yang bisa memancing dirinya mendapatkan gagasan cerita. Bagi putri dari Yohan Simangunsong dan Tiurlan br Siagian (alm) ini, kamar mandi mampu menghasilkan ketenangan. Banyak aktivitas di dalamnya menghantarkan kita pada situasi semi melamun yang sering kali justru memunculkan banyak ide.


Tidak diketahui pasti apakah dalam setiap karyanya—seperti dalam tiga novel di atas maupun pada karyanya yang lain, seperti Supernova 2: Akar (2002), Filosofi Kopi (2003), Supernova 3: Petir (2004), Supernova 4: Partikel (2012), Supernova 5: Gelombang (2014),  dan Supernova 6: Inteligensi Embun Pagi (2016)—atmosfer kamar mandi mengambil peran penting. Tapi yang jelas, kondisi melamun di kamar mandi sering kali juga mampu menghadirkan kembali kenangan-kenangan mantan. Heuheu~