Kita Cuma Bisa Mengumpat dalam Hati dan Rasanya Nggak Enak Banget

MOJOK.CO Mari kita bedah satu per satu situasi dan kondisi yang membuat diri kita ingin lepas kendali, meski ujung-ujungnya kita cuma bisa mengumpat dalam hati.

Saya pernah merasa galau setengah mati suatu hari. Alih-alih menyepi di kamar kos, saya memilih menelepon seorang teman dan curhat selama hampir satu jam penuh. Sambil menangis tak tentu arah, saya buang semua unek-unek yang mengganjal di kepala.

Sebagai pihak yang curhat, tentu saya cuma berpikir bahwa “ah-yang-penting-saya-lega”. Apalagi, teman saya toh membalasnya dengan baik dan memberi saran-saran yang masuk akal. Saya rasa tidak ada yang salah, sampai suatu hari teman saya yang lain mengirimi saya curhatan sepanjang 10 halaman A4.

Iya, curhatannya panjaaaaang sekali kayak masalah hidup!!! Saya, yang sebenarnya masih labil secara psikis gara-gara masalah pribadi, harus bersusah payah mengumpulkan konsentrasi demi memahami permasalahan yang diajukan oleh si teman.

Ketidaknyamanan yang saya rasakan lantas membuat saya menyadari sesuatu: meski manusia adalah makhluk sosial, rasa egois dalam diri kita (hah, kita???) kadang bisa saja sangat meluap-luap. Sayangnya, demi memenuhi norma-norma kesopanan dalam bersosialisasi, kita cenderung menahan diri untuk mengumpat dalam hati dan memilih berusaha bersikap sopan agar tidak menyakiti perasaan orang lain.

Padahal, mah, rasanya pengin banget mengeluarkan segala emosi yang terpendam. Iya, kan? IYA, KAN?

Agar lebih related af, mari kita bedah satu per satu situasi dan kondisi yang membuat diri kita ingin lepas kendali, meski—sekali lagi—ujung-ujungnya kita cuma bisa senyum dan mengumpat dalam hati.

Pertama, tentu saja saat seorang teman curhat masalah hidupnya.

Sekali-dua kali, sih, tidak masalah. Tapi, kenapa harus bercerita hal yang sama berkali-kali, setiap saat, lantas menghilang kalau dirinya sendiri sudah bahagia??? Memangnya kita ini apa??? Tempat sampah??? Ya, memang iya juga, sih!!!

Rasa-rasanya, saat disemprot curhatan yang pelik—bahkan lebih pelik daripada masalah yang kita bayangkan sebagai masalah pelik—ingin sekali mengumpat dalam hati,

“Tolong, ya, itu tu urusanmu sendiri, jangan ganggu hidupku dengan kebingunganmu! Please banget! Hidup aja udah bikin bingung, memangnya kamu pikir aku dibayar sama ibumu buat jadi konselor pribadimu apa???!!!”

Tapi, yah, paling-paling, kita cuma bisa jawab, “Kamu yang sabar, ya. Kamu pasti bisa ngelewatin ini. Kalau ada apa-apa, cerita sama aku terus, ya.”

Kedua, saat berantem dengan kekasih yang super-egois dan nggak peka.

Sebagai manusia yang berinteraksi secara romantis dengan lawan jenis, tentu kita menyadari bahwa kerukunan bukanlah hal yang serta-merta datang begitu saja. Terkadang, pertengkaran tak bisa dihindari dan tak jarang kita merasa pasangan bersikap sangat egois, tapi tetap keras kepala bahkan untuk sekadar meminta maaf.

Pernah, kan? PERNAH, KAN, MBAK, MAS? SEBEL, KAN?

Rasa-rasanya, waktu pertengkaran kian memanas—bahkan sampai muncul ancaman untuk putus—kita ingin sekali menggeplak kepala si kekasih sambil berujar sebel, “Kamu tu mbok ya mikir untuk kebaikan bersama, jangan mikirin diri sendiri! Memangnya ini kamu lagi nyanyi lagunya Tangga apa, maunya ‘yang terbaik untukmu’ thok???!!!”

Tapi, demi keberlangsungan kebutuhan emosi dan kasih sayang, kita pun berusaha menenangkan diri dan bicara, “Yuk, Sayang, ngobrol dulu, diskusi yang tenang.”

Ketiga, saat ada satu potong kue tersisa di meja, sedangkan ada banyak orang lain di sekitar meja.

Prinsip ini berhubungan dengan sikap nggak enakan yang mungkin melingkupi hati kita masing-masing, selain perasaan cinta. Kita ingin mengambil si sepotong kue itu karena kita tahu rasanya enak setengah mati, tapi ada perasaan rikuh yang menahannya.

Saat akhirnya memberanikan diri bermaksud mengambilnya, seorang teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Kalian pun berpandangan awkward, selagi tangan sedang berusaha menjangkau kenikmatan dunia yang duduk manis di atas piring tersebut.

Rasanya, kita otomatis mengumpat dalam hati, “AKU DULU, WOY, AKU DULU!!!” tapi apa daya, yang terjadi malah sebuah senyuman besar nan manis, diikuti sebuah suara hangat yang keluar dari mulut kita, “Dimakan aja, Mas/Mbak. Silakan.”

Keempat, saat ada orang yang menyerobot antrean di kasir, sambil berkata, “Maaf, Mbak, saya cuma beli sabun ini aja, kok.”

Wah, wah, wah, ini jelas menyebalkan. Apa, sih, yang membuat seseorang yang berbelanja sabun lantas merasa ia patut didahulukan daripada kita yang belanja bulanan dan nggotong-nggotong keranjang belanja yang kepenuhan??? Di mana letak simpati dan empati masyarakat di zaman kiwari ini sebenarnya, hah???

“Bu, tolong, ya, Anda nggak lihat ini tangan saya udah kondean karena antre sambil megangin keranjang belanja yang isinya abot banget ini, Bu??? Situ siapa, pakai nyelip-nyelip segala??? Valentino Rossi???” begitu teriakmu dalam hati dengan penuh kekesalan. Tapi, memang dasar manusia adalah makhluk sosial, kamu cuma bisa senyum-senyum—apalagi kalau si ibu bawa anak kecil—lantas bilang,

“Silakan, Bu.” Hadeeeh!

Kelima, saat ada orang yang berkata dengan entengnya, “Eh, kamu kok gendut banget sekarang?” atau “Eh, kamu kok kurus banget, sih!”.

Maksud saya—di mana, sih, letak kerennya mengomentari fisik seseorang??? Sambil mengatur emosi, ingin rasanya kita berdiri dan menatap mata si penutur tadi, lantas berkata,

“Memangnya kamu pikir, tanpa kamu bilang, saya nggak akan tahu kalau saya gendut atau kurus??? Memangnya kenapa kalau badan saya lebih gendut atau lebih kurus dari kamu??? Memangnya keadaan badan saya memengaruhi stabilitas nasional dan militansi cebong dan kampret??? Ngggak, kan??? NGGAK, KAN???”

Tapi, yah, mana berani? Ujung-ujungnya, kita cuma bisa jawab, “Hehe,” sambil gondok setengah mati dan berniat buka Google untuk mencari tahu cara cepat menguruskan badan/menggemukkan badan dalam semalam, meski kita tahu itu impossible.

Ah, sialan memang!

Exit mobile version