Keraton Agung Sejagat dan Hinaan pada Hidup Kita yang Tak Kunjung Selesai

keraton agung sejagat purworejo kerajaan aneh mojok.co

keraton agung sejagat purworejo kerajaan aneh mojok.co

MOJOK.COJadi raja itu memang enak, setidaknya itu yang Andi /rif katakan. Mungkin karena itu juga Totok mendirikan Keraton Agung Sejagat.

Peduli setan dengan logika, mari kita sambut hal ajaib baru yang ada di tanah air kita tercinta, yaitu kerajaan baru bernama Keraton Agung Sejagat. Tahan dulu hujatan Anda, karena percuma juga menghujat orang yang sudah kabur batas nalarnya. Harus punya nyali dan mental yang kuat untuk bisa mengaku raja di era ini.

Totok Santosa Hadiningrat adalah pimpinan Keraton Agung Sejagat. Totok mengklaim dirinya mendirikan keraton ini untuk menunaikan janji 500 tahun Majapahit, entah janji yang mana dan entah dari mana dia punya ide untuk membuat kerajaan ini. Ketika kita harus berurusan dengan berita seleb yang sensasinya tiada akhir, kita ketambahan satu kasus yang mengotori lini masa dan mengejek hidup kita.

Kita bebas untuk menjadi apa saja, bahkan raja sekalipun. Tapi tidak bisa kita berkata tentang apa pun tanpa dasar yang jelas, seperti kata Mbah Carl Sagan, “Extraordinary claims require extraordinary evidence.” Tapi Totok sepertinya tidak perlu repot-repot membuktikan apa pun, toh di ibu kota sana Anies Baswedan tidak membuktikan apa pun dan masih saja dipercaya sebagai orang yang mumpuni.

Kalaupun Anda masih mau berbaik hati untuk mempercayai bahwa dirinya benar-benar raja dan dia mendapat wahyu untuk segera mendeklarasikan diri, tahan dulu. Ini bukan seperti Naruto yang mendapati dirinya ternyata reinkarnasi dari Ashura, atau Aragorn yang ternyata keturunan Isildur, tapi lebih ke lelucon yang dipaksakan untuk keuntungan semata.

Untuk menjadi anggota Keraton Agung Sejagat, Anda harus membayar uang 3 juta untuk mengganti biaya seragam. Kalau Anda gabung Himpunan Mahasiswa Wonogiri atau Pulau Rote, bayar kek gitu nggak ada masalah. Tapi ini gabung kerajaan kok suruh bayar, ini masuk kerajaan atau ambil duit di ATM Gejayan?

Totok juga pernah membuat gerakan bernama JOG-DEC atau Jogjakarta Development Committee yang merupakan organisasi kerakyatan dan kemanusiaan, menjanjikan uang yang diambil dari bank Swiss. Uang yang dijanjikan tidak main-main, sekitar 50-200 juta dolar AS per bulan.

Tapi JOG-DEC berakhir pahit, ditinggalkan oleh banyak orang karena uang tak kunjung cair, yang tentu saja kita bisa prediksi. Kegagalan Totok tersebut mungkin memberi dia semacam kesimpulan, kalau iming-iming bombastis gagal, solusinya adalah menambah kadarnya hingga mendobrak langit-langit logika.

Keraton Agung Sejagat adalah contoh bahwa halusinasi tentang kekuasaan itu bisa menjangkiti semua orang. Bisa jadi orang-orang macam Totok terinspirasi oleh para pejabat yang terlalu nyaman dengan kekuasaan hingga mereka tidak mau melewatkan kesempatan. Kalau Jokowi saja mulai membangun dinasti politik, kenapa Totok tidak? Setidaknya jadi raja di daerahnya dulu lah.

Tapi meskipun ini amat bodoh, kita harus menagih detail pemerintahan dari Keraton Agung Sejagat. Ketika ternyata Totok punya tata cara pemerintahan yang baik, kita bisa mempertimbangkannya untuk benar-benar mendukungnya maju ke kursi pemerintahan. Kalaupun ini ide yang buruk, memangnya pemerintahan sekarang ada bedanya?

BACA JUGA Luar Biasa, Perkara Rasisme Diadili oleh Hakim yang Logikanya Rasis dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.

Exit mobile version