Belajar Ngurusin Orang Lain ala Film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2

review film sebelum iblis menjemput ayat 2 timo tjahjanto chelsea islan baskara mahenda shareefa danish aria vasco alfie dan nara film horor indonesia 2020 film slasher indonesia teror visual insidious evil dead film februari rekomendasi film mojok.co

MOJOK.CO Film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 adalah oase di tengah kekeringan film horor dengan teknis baik. Tapi dengan review ini kalian akan belajar ngurusin hidup orang lain di saat sikap bodo amat sedang gencar dikampanyekan.

Saya sengaja mendengarkan lagu-lagunya Panic! At The Disco demi menulis review film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 ini. Vibesnya mirip-mirip “Emperor New Clothes” saat Brendon Urie berubah dari cowok tampan bersepatu sneakers menjadi iblis seram bertanduk. Apakah dia sedang bertransformasi jadi Molok?

Skor layak tonton film ini: 7,5

*Perhatian, tulisan ini mengandung spoiler level sedang, jadi tolong jangan kutuk saya. Saya sudah mengingatkan dari awal.

Iblis adalah musuh manusia, setidaknya begitulah yang diajarkan agama kepada saya. Siapa pun yang sengaja berteman sama iblis, dia bakal menuai akibatnya kemudian. Iblis tercipta dari api dan kegelapan, Timo Tjahjanto menangkap ini dengan baik lalu mengimplementasikannya di setiap film horor yang dia buat.

Lebih dari sekadar menghantui dengan penampakan wajah acak-adut, horor Timo juga sadis dan memaksa tokohnya berdarah-darahPractical effect adalah keahlian Mas Timo, saya nggak pernah meragukannya.

Film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 adalah sekuel pertama bagi Timo. Wajar bila dia terasa sangat berusaha mencari benang merah untuk menghubungkan sekuel pertama. Alfie (Chelsea Islan) dipaksa masuk ke dalam sebuah plot utama yang menceritakan sekumpulan anak panti kebingungan.

Ketika tokoh utama kita adalah sub plotnya, maka naskah harus bersusah payah menyatukan keduanya. Sayangnya, Mas Timo, kayaknya Anda perlu dibantu nulis naskah nih, kapan-kapan. Karena rasanya aneh melihat Alfie yang nggak ada urusan apa-apa dengan geng anak panti jadi begitu peduli dan reunian sama iblis lagi.

Motivasi Alfie masuk ke geng anak panti yang semuanya cakep (Baskara Mahendra, love you) sebenarnya perlu digali lebih dalam. Ini jadi sangat penting karena bakal menentukan kelangsungan plot. Bayangkan kalau Alfie memilih kabur dan jalan kaki pergi dari rumah anak-anak panti itu, film ini nggak bakal ada.

Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 adalah film yang saat kita menghilangkan tokoh utama, maka ceritanya masih bisa jalan. Jalan cerita Alfie bisa saja ditransformasikan ke siapa pun anak panti.

Tokoh utama bisa diganti tanpa melibatkan apa pun dari film sebelumnya. Misalnya Budi (Baskara Mahendra) atau Jenar (Shareefa Danish) yang jadi ‘orang terpilih’ buat melawan iblis. Tapi kan ini sekuel, jadi harus ada Alfie dan adiknya Nara.

Film yang melibatkan banyak karakter di dalamnya memang berisiko gagal dalam pendalaman karakter. Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 seperti parade cast yang lagi hits namun dangkal untuk menjelaskan latar belakang mereka.

Tapi, kita perlu apresiasi teror visual dan komedi di film ini.

Jangan berharap menemukan hantu ibu ala Joko Anwar yang hobinya nangkring di balik gorden. Kalian bakal melihat hantu gedor-gedor pintu, lari kayang, dan gerakan-gerakan absurd lain yang justru bikin tambah seram.

Di babak pertama, saya sebenarnya sudah merasa merinding dengan atmosfer yang diciptakan dalam film. Masalahnya kita tahu, hantu ini nggak sekadar muncul biar kita takut, tapi bisa tiba-tiba mencakar dan menggorok leher.

Sebuah adegan gergaji bisa sangat meneror dengan teknik kamera yang dieksplore habis-habisan. Close up objek adalah cara untuk menunjukan suspensi. Timo Tjahjanto juga menapilkan warna dengan referensi film Insidious, merah, biru, begitu dingin dan begitu gelap. Alfie sengaja dilibatkan dalam dunia arwah, bertemu lagi kedua orang tuanya yang menampilkan ekspresi ngeri dan orang-orang yang baru saja mati.

Alih-alih memakai elemen lokal, Timo menyematkan teror satanic ala film Evil Dead. Saya nggak bisa membaca huruf Semit, tapi saya yakin melibatkannya dalam film tentu perlu riset yang panjang. Termasuk bagaimana tokoh iblis Molok akhirnya muncul dalam konklusi film. Molok bakal menjadi benang merah yang lumayan masuk akal untuk menggarap sekuel selanjutnya. Hmmm, apakah benar-benar akan dibuat? Kita tunggu aja.

Di tengah teror mencekam, saya menyaksikan seisi bioskop tertawa. Unsur komedi yang dimasukkan dalam film ini beneran Timo banget. Kayaknya dialah yang sedang bersenang-senang dan bersikap bodo amat sama penonton sementara Alfie sedang diajarin mengurus hidup orang lain.

Selepas Alfie membantai salah satu tokoh yang kesurupan, adegan mengacungkan jari tengah dari setan yang terkubur di bawah lemari roboh itu brilian. Adegan paling berkesan sepanjang film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2. Seolah Timo sedang bilang, “Anjir lo semua!”

Belum lagi kita menghadapi dialog tokoh yang bikin ngakak di tengah ketegangan antara hidup dan mati.

“Alfie, jangan mati ya!”
“Gue usahain.”

Si bangkai! Memang perkara hidup dan mati di film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 adalah mainan sutradara, sih. Menandakan betapa lemahnya kita yang cuma bisa berharap tokoh utama dan si ganteng tetap hidup.

Bagaimana pun, Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 memang bukan horor yang sempurna meneror jiwa raga dan bikin kita kepikiran berhari-hari. Mungkin kalian cuma akan kepikiran jari metalnya Chelsea Islan. Namun usaha Timo patut diapresiasi. Sejauh ini di tahun 2020 belum ada horor yang bagus.

Mau nyebutin PH sebelah yang super produktif bikin film? Hah, saya ketawa dulu.

Maka, kawanku, silakan buka aplikasi pesan tiket online dan pilih jam penayangan agar kalian menyaksikan film ini secara langsung. Nggak ada ruginya kok.

BACA JUGA Review Film Toko Barang Mantan: Ketika Reza Rahadian Dipaksa Nyelesein Skripsi atau artikel lainnya di POJOKAN.

Exit mobile version