Usia masih muda, kendaraan ada, tapi kok skripsi dan tesis nggak kelar-kelar? Lebih panjang alasan ke ortu ketimbang jumlah karakter untuk bab pendahuluan yang masih berlepotan ejaan itu.

Dua puluh empat jam diguyuri listrik, wi-fi gretongan tersedia di banyak kafe atau taman atau kampus, paket internet makin ke sini makin terjangkau, e-book gratis bertebaran, koran digital melimpah, tapi kok masih mengeluh kekurangan data. Yang paling kurang ajar tentu saja mengumpat-ngumpat Mojok karena tulisan mediokernya tak pernah dimuat.

Bila ada yang ikut Jambore Mojok karena hanya ingin diberkati kemampuan menulis ini dan itu, aduh Tuhan, salah tempat kau. Jambore itu untuk bersenang-senang, eh, malah berkalang jadi ajang curhat.

Bukan di Jambore Mojok tempat mereka yang punya mental paragraf satu dan dua itu, tapi di Maluku Tengah. Tepatnya di Benteng Amsterdam, Hila, Keihitu. Dari Kota Ambon jaraknya lebih kurang 30 kilometer menurut gugel mep.

Di kampung itu, pada awal abad ke-17, terbaring abadi seorang berkebangsaan Jerman bernama Rumphius. Karena ketakjubannya pada Nusantara, ia mau-mau saja menjadi serdadu kumpeni sebagai alasan memasuki khazanah hewani dan nabati. Setelah terkatung berbulan-bulan di samudera, sampailah Kapal Muyden di Batavia. Tak lama setelah itu, Rumphius diterjunkan ke kancah peperangan di Maluku.

Singkat cerita, Rumphius yang pengagum rubrik nabati dan hewani dan di kemudian hari menjadi seorang naturalis raksasa (jauh sebelum Wallacea dan Darwin) itu memilih desersi dari tentara dengan alasan bukan karena ompong. Panggilan hati dan kecintaan pada flora dan fauna lebih kuat ketimbang suara bedil pembunuh spesies itu.

Medio abad ke-17, Rumphius memulai proyek ambisiusnya mengumpulkan seluruh khazanah hewani dan nabati di seantero Maluku. Kerja literernya dipusatkan di antara kampung Larika dan Hila. Ia mengawini cewek Ambon manise yang bagi Rumphius tentu saja kece.

Di paruh jalan riset, Rumphius buta. Belum selesai malapateka ini, istri terkasih beserta anaknya dimangsa gempa bumi besar yang melanda Maluku pada Februari 1674. Dan laporan tentang bencana tektonik Ambon ini justru dilaporkan pertama kali oleh Surono Rumphius yang buta.

Makin kompleks masalah dialami Rumphius ini. Sudah buta, kesepian di kampung berhutan dan bergunung yang tentu saja nggak ada PLN, internet, mobil, motor. Ditinggal istri dan anak pula. Satu-satunya yang masih ia punyai adalah ambisi sebagai seorang naturalis.

Bahkan ambisi ini pun diperkosa seorang maling tengik yang mencuri satu peti bahan berisi ratusan data tentang nabati, hewani, batu, dan kerang di Maluku yang merupakan harta terakhir sekaligus paling berharga Rumphius.

BACA JUGA:  Jawaban dari Mahasiswa buat Dosen yang Baper Soal Etika Mahasiswa

Mestinya Rumphius tumbang. Eh, ternyata nggak juga. Ibarat kata, ketika laptopmu dicuri orang dan/atau folder naskah skripsi/tesis dimamam virus, terus kamu anggap dunia sudah kiamat, tunggu dulu, kamu mesti kembali ke Rumphius.

Ilmuwan buta ini memulai lagi dari awal proyeknya. Berjalan dipapah juru tulis dan juru sketsa yang diperbantukan pemerintah Belanda masuk keluar hutan, mencari apa yang diingatnya tentang jenis tanaman dan hewan. Lalu ia menulis dengan mendiktekan kepada juru tulis. Jadi Rumphius menghalau sepi yang menggetarkan itu dengan mengerjakan dua hal sekaligus: menulis dan masuk hutan. Lelah menulis, masuk hutan. Begitu seterusnya.

Lho, mestinya kan bisa pulang ke Eropa? Apalagi ada panggilan dari pemerintah untuk segera ke Jakarta Batavia. Tapi, Rumphius emoh. Hantu-hantu hutan Ambon sudah bersekutu dalam jiwanya. Dalam bahasa peneliti, Rumphius sudah kawin dengan objek yang ditulisnya. Objek itu berjenis cewek hewani dan nabati.

Jadi, sudah paham mengapa ada rubrik hewani dan nabati di web ini yang secara sekilas nggak ada gunanya sama sekali dan mengapa mereka memilih naik ke Kaliurang untuk dekat-dekat hutan yang sepi? Pahami roh Rumphius ini.

Rumphius melahirkan magnum opus Amboinsche Kruidboek atau Herbarium Amboinense. Adikarya ini terbagi dalam dua belas buku yang semuanya ditulis dalam kondisi buta dan dalam kesepian yang enigmatik.

Lebih ngenes lagi, ia tak pernah melihat manuskrip itu terbit. Ia wafat pada awal abad ke-18, sementara buku-bukunya baru mulai terbit pada 1741. Astaga, terbit setelah empat puluh tahun meninggal. Kamu kalau ngantre bukumu di penerbit satu bulan saja sudah gelisah, ini EMPAT PULUH TAHUN di-PHP-in penerbit. Satu nabi mesti lahir, baru buku terbit.

Ilmuwan kemudian mengenal Rumphius sebagai lelaki yang kompleks: zoolog, pramakolog, botanikus, mineralog, geolog, etnolog, dan sejarawan. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebutnya sebagai founding fathers (peletak dasar) ilmu pengetahuan di Indonesia, sejajar dengan Alfred Russel Wallace dan Christiaan Eijkman.

Itu bukan sebut-sebutan belaka. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Amerika, dan Australia bahkan menggelar pertemuannya di Ambon pada 18 Juli 2017. Wabilkhusus ratusan ilmuwan, mulai dari biomolekul hingga ahli genetika tiga negara itu mau-maunya naik bus meliuk-liuk melewati jalanan berbukit. Mereka juga mungkin terheran-heran dan kecut melewati sisa-sisa ketegangan dua kampung Hitu dan Wakal yang baku parang di hari pertama Lebaran 2017.

BACA JUGA:  Sayuri, Legenda Mahasiswa Jogja yang Pasti Pernah Kamu Dengar Namanya

Ditambah lagi “adegan” seru sampai bule-bule ilmuwan itu harus  pindah bus karena jalan putus diterjang banjir dan mereka naik belasan angkutan desa. Semua itu dilakukan demi mengalami langsung jejak si penulis dan ilmuwan buta bernama lengkap Georg Eberhard Rumphius.

Ratusan ilmuwan itu kemudian, oleh juru kunci Museum Amsterdam di Hila, Muhammad Damir Latin (52 tahun), dijamu gorengan sukun sebagai sambutan awal. Empat pohon raksasa sukun di belakang benteng rempah Rumphius lebih dari cukup buat camilan pengunjung.

Kalian mesti percaya sukun ini cemilan yang menemani Rumphius menyelesaikan manuskrip adikaryanya. Khasiat utamanya untuk diet. Banyak duduk karena menulis, tapi perut kenyang lama dan lemak jahanam tidak berkembang biak semena-mena? Serahkan kepada sukun.

Azwir Malaon, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Alam dan Buatan Kementerian Pariwisata yang turut serta dalam “Rumphius Trail (Jejak Rumphius)” ini terlihat lahap betul menyabet sekeping demi sekeping sukun walau diakhiri dengan makan siang Indomie rebus telur pakai sawi.

Angkutan desa terakhir yang dinaiki Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Dr. Sangkot Marzuki, setelah serah terima “batik” bermotif wajah Rumphius dengan peziarah Taufik Rahzen, dibekali satu plastik kecil gorengan sukun oleh kuncen Rumphius sebagai bekal melewati 30 kilometer jalanan berkelok-kelok. Maksudnya tentu saja baik: mengunyah sambil mengingat keuletan dan sikap mahatabah ilmuwan Rumphius.

Jadi, jelas, ikuti jejak Rumphius ini dalam hal spirit menulis beserta camilan apa yang wajib ada di dekat meja tulis. Boleh-boleh saja ikuti tips penulis megabintang Mas Darwis Tere Liye bahwa skripsi bisa selesai diho-oh dalam dua pekan, tapi jangan khilaf untuk rutin dua kali sepekan mengetuk dengkul dengan palu kecil dari pinggir pembaringan setiap pukul lima sore.

Kembali ke paragraf awal tadi. Tutup semua celah dirimu untuk baperan dan nggak usah mengeluh lagi ya. Soal bad mood, soal lagu yang diputar kafe ini nggak enak di kuping saat numpang ngetik skripsi, camilan habis, pacar cerewet, motor habis pajaknya, dan ini, dan itu.

Apalagi jika semua-mua itu jadi alasan utamamu ikut Jambore Mojok. Mendingan nggak usah, deh. Lebih baik tabung uangmu untuk naik kapal Pelni, turun di pelabuhan Ambon, dan berziarah ke Benteng Amsterdam. Semoga roh Rumphius merasuk ke dalam kesadaranmu.

Lalu, lahirlah kembali sebagai mahasiswa dan pemuda terpilih! Ketika buntu menulis, menyelam ke karang-karang, lari ke hutan, dan burulah data sukun.

No more articles