Relawan Desa yang Sebenarnya Tak Ingin Mengurus Jenazah

Tim FPRB Jambidan sedang bertugas memakamkan jenazah [Dok. FPRB Jambidan]

Berbekal keberanian dan panggilan hati, relawan di desa memberanikan diri untuk mengurus jenazah warga yang terpapar Covid-19. Kejujuran dari warga yang keluarganya meninggal adalah hal yang paling diharapkan para relawan yang mengurus jenazah ini.  

*****

Jumat, 30 Juli 2021 dini hari, Moy terbangun dari tidurnya yang pulas ketika anaknya membangunkan tidurnya. Ada tetangga yang mengetuk pintu rumah. Bertamu pada pukul dua pagi tentu bukan hal yang lazim. Namun. tetangganya itu memang bukan sekadar bertamu. 

Tamunya itu hendak meminta bantuan pada Moy, sebab ia tahu di saat genting seperti itu, tak banyak orang yang bisa dimintai bantuan. Moy adalah satu dari sedikit yang bisa diandalkan.

Di Kelurahan Trimulyo, Jetis, Bantul, Eko Herkamoyo (42) yang akrab disapa Moy merupakan seorang takmir masjid. Jabatan takmir tak membuatnya hanya berkutat pada urusan-urusan ritus keagamaan di rumah ibadah. Pandemi mendorongnya untuk menjadi relawan Covid-19 di desa tempat tinggalnya.

Sekitar awal Juli 2021, di kampung Moy, ada seorang warga desanya meninggal saat isolasi mandiri (isoman). Kala itu, Moy dan beberapa tetangganya bingung tentang bagaimana proses pemulasaran jenazah tersebut. Sebab menurutnya, elemen relawan di desanya yang tersedia saat itu hanya fokus pada tindakan pemakaman jenazah.

“Biasanya kalau tim pemulasaran jenazah di tempat kami itu memang dari BPBD. Namun saat itu, meninggal saat terkonfirmasi positif dan sedang isoman itu memang hal baru di desa kami. BPBD juga tidak bisa cepat datang dan memberi konfirmasi. Petugas dari desa sudah berkeliling mencari tapi belum ada yang bisa dimintai bantuan,” jelas pria yang sehari-hari bekerja sebagai guru ekonomi sebuah Madrasah Aliyah (MA) di Yogya ini.

Situasi itu membuat petugas dari desa akhirnya menawarkan agar proses pemulasaran dilakukan oleh warga setempat. Moy langsung menyanggupi, menunjuk beberapa orang lain dan bersiap untuk melakukan tugas pertamanya sebagai relawan pemulasaran jenazah Covid-19.

“Saat itu kami berjumlah empat orang. Dan beruntungnya ada tambahan dua orang yang ditunjuk desa, mereka relawan dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) setempat yang sebelumnya pernah ikut pemulasaran,” tambahnya sambil menggenggam erat lembaran tugas ekonomi muridnya saat ditemui pada Sabtu (21/8/2021).

Berbekal briefing yang menurut Moy hanya sekitar lima belas menit, mereka langsung melakukan tugasnya. Empat relawan pemulasaran baru itu memandikan jenazah dengan segenap prosedur dan protokol melalui bimbingan dua orang dari MWC NU. Jenazah tersebut berhasil melalui proses pemulasaran sekitar waktu Isya. Setelah menunggu tanpa kepastian sejak jam sebelas siang.

Sejak saat itu, rentetan kejadian-kejadian berkaitan dengan warga-warga terpapar Covid-19 yang perlu penanganan menjadi hal yang jamak dihadapi Moy dan rekan relawan di desanya. Sampai pada puncaknya, yang benar-benar Moy ingat, ketika seorang tetangga mengetuk pintu rumahnya dini hari di akhir Juli.

Tetangga itu merupakan seorang pria yang istrinya sedang menjalani isoman dengan gejala ringan. Kamis, sehari sebelum kejadian, Moy masih mengetahui keluarga tersebut keluar rumah menggunakan mobil untuk berjemur di pinggiran sawah. Sebab berjemur di bawah paparan sinar matahari pagi memang hal yang direkomendasikan bagi pasien isoman.

Eko Herkamoyo saat bertugas sebagai relawan di desanya [Dok. Moy]
Eko Herkamoyo saat bertugas sebagai relawan di desanya (Dok. Moy)
Namun, keesokan harinya, dini hari lebih tepatnya, saat pintu rumah Moy dibuka dan ia menanyakan ada gerangan apa, sang suami menjelaskan bahwa istrinya tidak sadarkan diri. Ia tidak bisa merasakan embusan nafas sang istri yang masih berusia 36 tahun tersebut.

Moy kemudian bergegas pergi ke rumah tetangganya tadi. Berbekal Alat Perlindungan Diri (APD) seadanya berupa masker, sarung tangan, dan sebotol hand sanitizer. “Sampai di sana, saya mengecek denyut nadinya dan tidak terasa,” jelasnya dengan nada lemas. 

Moy masih ragu. Ia bukan orang medis dan belum pernah sekalipun mendiagnosa kematian. Ia mencari jalan lain. “Saya izin keluar, untuk cari stetoskop, setelah dapat saya kembali dan cek detak jantungnya. Saya bingung, izin keluar lagi untuk berpikir. Sekitar sepuluh menit kemudian saya masuk lagi dan cek detak jantungnya, ternyata sama tidak terasa apa-apa,” tambahnya.

Ia mengecek detak jantung dua kali hanya sekadar untuk meyakinkan diri di tengah kekalutan yang terjadi dalam remang hari yang masih sepi. Setelah itu, ia yakin bahwa perempuan tersebut telah tiada. Ia sampaikan dengan berat hati, seberat suaranya saat menceritakan hal ini. Kemudian mengarahkan sang suami untuk menurunkan jenazah dari pangkuannya dan memposisikan secara benar di kasur.

Saat itu, Moy tak berani banyak bersentuhan dengan jenazah karena APD yang dikenakannya belum memadai. Ia pamit sejenak, untuk mempersiapkan diri dan menghubungi rekan relawan yang lain. Hari masih dini, namun bagi Moy sudah terasa panjang sekali.

Kejadian itu juga membuat Moy mendorong para pemangku kebijakan di desanya untuk membentuk tim pemantau warga isoman. Ia pikir, dengan adanya tim ini kejadian serupa bisa dicegah. “Akhirnya sekarang punya posko, sarana minimal ada di sana, APD, face shield, masker N95, oksimeter, dan tabung oksigen,” tambahnya.

Situasi tak terkendali, dari mengurus isoman hingga memakamkan jenazah

Masih di Bantul, saya berhasil menghubungi seorang relawan desa bernama Mart Widarto (39). Pria ini sejak pandemi aktif di Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB)  Kelurahan Jambidan, Banguntapan. “Sudah sejak lama saya aktif di FPRB tingkat provinsi, namun sejak pandemi, fokus saya beralih ke tingkat desa/kelurahan saja,” ungkap pria berambut ikal ini.

Saat saya hubungi, ia sedang isoman di sebuah shelter karena terpapar Covid-19 dengan gejala ringan. Lima hari sebelumnya ia mengaku masih berkegiatan bersama rekan-rekan relawan. Namun ia tak bisa mengetahui pasti dari mana terpapar virus ini. Menurutnya, varian delta menyebar dengan mudah sehingga tak bisa secara pasti dideteksi asal paparannya.

Kepanewon Banguntapan tempat Mart tinggal merupakan daerah dengan kasus korona tertinggi di Bantul. Hingga tulisan ini dibuat, menurut data Satgas Covid-19 Kabupaten Bantul total kasus positif di Banguntapan mencapai 7.327. Sedangkan yang meninggal 153 dan angka kesembuhan sebesar 6.620.

Sebelum pertengahan tahun ini, tim FPRB Jambidan masih bisa menjalankan empat jenis kegiatan kerelawanan meliputi pencegahan, pembinaan, penanganan, dan dukungan. Namun sejak situasi sulit terkendali, mereka dituntut untuk fokus penanganan yang meliputi mengurus warga yang isoman, evakuasi warga yang perlu tindakan medis lanjut, pemulasaran, hingga pemakaman jenazah.

“Paling banyak relawan kami itu memakamkan tiga jenazah dalam sehari. Pokoknya bulan Juli itu hampir setiap hari kita berurusan dengan pemakaman,” paparnya saat diwawancarai melalui Zoom Meeting.

Jumlah relawan di tingkat desa tempat Mart tinggal berkisar dua puluhan orang. Namun, dalam pelaksanaannya, ia dibantu oleh tim-tim tingkat padukuhan yang dibentuk agar pekerjaan lebih efisien. Sehingga fungsi relawan desa kebanyakan berupa kontrol dan dukungan saja.

Mengenai pendanaan, relawan desa mengandalkan kucuran dana desa yang bisa dialokasikan untuk penanganan wabah. Berbagai kebutuhan relawan seperti baju hazmat, masker, sarung tangan, hingga kacamata pengamanan bisa tercukupi oleh dana desa yang disediakan. Terkadang Mart dan kawan-kawan masih membutuhkan sumber pendanaan lain, untuk memenuhi kebutuhan tambahan pendukung kerja-kerjanya.

“Ada juga dari donatur. Di tempat saya bahkan jumlah dari donatur lebih besar. Kami mandiri untuk membeli kendaraan operasional yang kami fungsikan sebagai ambulans juga berkat ada donatur,” cetusnya.

Menunggu hazmat, tak ada tes usap 

Hampir serupa, Moy yang secara spesifik bertugas di tim pemulasaran juga mengandalkan kucuran dana dari desa untuk setiap keperluannya. “Kalau di tempat kami, apa yang melekat pada jenazah seperti plastik pembungkus, kafan, sampai peti itu dibebankan pada ahli waris. Sedangkan yang melekat pada relawan seperti APD, ditanggung desa,” jelas Moy.

Hingga, Senin 23 Agustus, Kabupaten Bantul menjadi daerah di DIY yang warganya paling banyak terpapar Covid-19 

Meski kebutuhan relawan ditanggung oleh desa, tak jarang Moy harus menunggu. Misalnya saja ada jenazah yang butuh diproses dan ia datang ke balai desa, maka tak semua perlengkapan siap sedia untuk digunakan. 

“Untuk perlengkapan yang bisa dipakai berulang kali seperti sepatu boot dan kacamata itu ready, tapi hazmat yang sekali pakai sering harus nunggu, sebab baru dibeli saat ada kejadian,” tambahnya,

Sedikit berbeda dengan tim pemakaman, mereka yang bertugas memulasarakan jenazah lebih banyak melakukan kontak fisik dengan tubuh korban. Sehingga APD yang digunakan tergolong level 3 dengan baju hazmat umumnya hanya sekali pakai. APD level 3 yang dipergunakan terdiri atas baju kerja/ scrub, hand scoen pendek dan panjang, masker N95 yang dilapisi masker bedah, kacamata google atau face shield, coverall, sepatu boot.

Tak seperti relawan di tingkatan daerah maupun provinsi yang dibekali fasilitas tes usap sebelum dan sesudah bertugas, relawan desa harus siap tanpa hal itu. Keterbatasan menjadi soal utamanya. Mart dan Moy hanya bisa mengupayakan langkah mitigasi dan prosedur ketat untuk meminimalisir relawan lain terpapar korona.

“Kalau khawatir karena tidak ada fasilitas tes usap itu sudah pasti. Selain protokol saat bertugas, saya ngomong dengan relawan, kalau habis kegiatan semua baju luar itu ditaruh di teras, dilepas, didekontaminasi dengan disinfektan, baru masuk. Masuk langsung mandi dan hindari kontak keluarga dulu,” ucap Mart.

Moy juga melakukan hal yang mirip serupa. Bahkan ia berkomitmen menjaga betul kondisi fisiknya selama bertugas menjadi relawan ini. Hampir setiap hari selama sebulan terakhir ia berangkat kerja dari rumahnya di Trimulyo, Bantul sampai ke Wirobrajan, Yogya dengan bersepeda. Kalau diukur dengan Google Maps, sekali jalan jaraknya sekitar 13 km. Hal itu dilakoninya demi menjaga kebugaran tubuh.

“Paling absen tidak naik sepeda kalau pagi-pagi sudah hujan. Sisanya saya niati, seminggu pertama memang berat, tapi setelahnya sudah enak. Demi kesehatan juga,” ucapnya sambil menunjuk letak sepeda di parkiran.

Berharap kejujuran warga

Setelah menghadapi berbagai keterbatasan, para relawan desa juga masih harus bertemu dengan tantangan-tantangan di lapangan. Terutama terkait kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tes. Kedua narasumber ini mengaku beruntung sebab tak pernah menghadapi keluarga yang menolak proses pemulasaran maupun pemakaman sesuai protokol.

Tapi para relawan ini tetap saja dihadapkan pada beberapa kejadian yang menjengkelkan. Ketidakjujuran warga terhadap kondisi diri maupun keluarga salah satunya. “Kasus tidak jujur itu banyak, sebenarnya relawan sudah merekomendasikan untuk memakamkan secara prokes karena ada indikasi positif, tapi warga berkeyakinan kalau itu aman atau tidak secara jujur mengakui kondisinya. Baru sehari dua hari setelah dimakamkan hasil tes keluar dan betul positif,” curhat Mart.

Persoalan itu kerap membuat para relawan di tempat Mart kewalahan. Pernah suatu ketika mart harus melakukan tracing terhadap 26 orang karena kejadian serupa. “Dan kejadian seperti itu ada dua sampai tiga kali,” tambah pria berlatar belakang pendidikan hukum ini.

“Saya yakin bukan hanya soal sarana prasarana tes, tapi memang kemauan untuk tesnya yang rendah. Pemikiran dicovidkan itu masih tinggi, sehingga takut tes. Bahkan saya menemukan orang-orang yang enggan menyebut covid ketika ada gejala, mereka menyebutnya flu baru bukan covid,” tegas Mart diselingi tawa heran.

Para relawan desa tak selalu memiliki latar belakang pengalaman di dunia medis maupun kebencanaan. Namun mereka memiliki kesamaan, yakni kesadaran untuk saling menyelamatkan sesama.

Mart Widarto memang merupakan seorang konsultan manajemen kebencanaan dengan pengalaman di sejumlah lembaga yang sejak pandemi memutuskan untuk fokus membantu di lingkup desa saja. Sedangkan Eko Herkamoyo sehari-harinya bekerja sebagai guru yang berangkat ke sekolah enam hari dalam seminggu namun tetap berupaya meluangkan waktu. “Kalau situasinya terdesak, tidak ada pengganti, saya selalu siap untuk membuat surat izin ke sekolah,” tegas Moy.

Keduanya sama-sama berkeyakinan bahwa tak bisa untuk terus menunggu tangan-tangan berkuasa untuk mengubah kondisi di daerahnya.  Sepanjang bulan Juli lalu memang jadi ujian bagi banyak relawan di berbagai tempat. Gelombang kedua dan merebaknya varian delta Covid-19 terasa sampai desa-desa. Inisiatif lah yang menyelamatkan saat situasi genting melanda.

“Saya sebenarnya ‘malas’ memakamkan dan mengurus jenazah. Harusnya dicegati, kalau di desa ya konteksnya dimaksimalkan penanganan warga yang isoman sehingga tidak sampai kritis. Tapi kalau situasinya sudah seperti belakangan ini, ya langkah apapun harus dilakukan. Termasuk siap sedia mengurus jenazah,” tutup Mart.

BACA JUGA Seorang Pasien yang 12 Jam Tidur di Samping Jenazah dan liputan JOGJA BAWAH TANAH lainnya.

Exit mobile version