Laksamana Cheng Ho dan Keluarga Pembuat Bedug Kayu Utuh dari Purworejo

Perajin melubangi bagian dalam kayu gelondongan, bahan baku membuat bedug. ( Sarwo Sambodo/Mojok.co)

Bedug yang terbuat dari kayu utuh atau kayu gelondongan kian langka. Di Purworejo, tempat bedug terbesar di dunia ada, satu keluarga terus melestarikan pembuatan bedug dari kayu utuh. 

***

Tarawih hari terakhir di Masjid Al Muttaqin Kelurahan Pangenrejo, Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ada yang saya rasakan berbeda. Apakah karena besok malam tidak ada tarawih lagi? Kecuali perayaan Idul Fitri ditunda, tapi rasanya itu tidak mungkin. Tarawih terakhir layaknya malam inagurasi, perpisahan diri dengan ibadah Ramadan. Tiba-tiba muncul perasaan aneh yang diimbangi munculnya tanda fisik, yang rasanya tidak perlu dijelaskan karena pasti dikira sombong.

Apalagi ketika usai melafalkan niat puasa hari besok, bedug masjid ditabuh santri pondok pesantren Al Muttaqin. “Duk…duk…duk…duk,” tidak cuma empat kali, tapi berkali-kali, dengan irama yang rampak pertanda santri itu jagoan menabuh bedug.

Saya lihat sekilas, bedugnya terbuat dari kayu gelondongan dengan diameter kurang lebih 80 sentimeter. Sekilas juga sepertinya sudah cukup tuga. Bedug itu langsung mengingatkan saya pada sosok Fauzi.  Pria yang dikenal sebagia pembuat bedug dari kayu utuh yang lahir dan besar di Desa Kroyo, Kecamatan Gebang, Purworejo. 

Saat ini, hanya Fauzi dan keluarganya saja perajin Purworejo yang menekuni usaha pembuatan bedug kayu utuh.

Delapan hari lalu, atau H-10 lebaran, saya berkunjung ke workshop kerajinan bedug H Chudori di Desa Kroyo. Fauzi tetap menyambut dengan hangat, tanpa bosan, padahal lima hari sebelumnya, saya sudah bertandang ke sana.

“Maaf mas Fauzi, saya datang lagi, kemarin ada yang lupa ditanyakan, mau bertanya lewat WA, rasanya tidak maksimal, jadi saya ke sini lagi,” saya harus merendah karena pasti pertemuan itu mengganggu waktunya bekerja. “Tidak ada mas, silakan kalau masih ada yang ditanyakan,” jawab Fauzi.

Mewarisi tradisi turun temurun

Kerajinan bedug H Chudori berdiri sudah cukup lama. Fauzi mengatakan, usaha itu didirikan ayahnya sejak zaman penjajahan dulu. Logis memang, sebab almarhum H Chudori, menurut Fauzi, kelahiran tahun 1923.

“Sejak masa penjajahan mas, ayah saya sudah bikin bedug,” ucap Fauzi sembari menjelaskan bahwa semasa hidup, ayahnya belum pernah menjelaskan tentang sejarah usaha pembuatan bedug yang selama berpuluh tahun ini menghidupi keluarga besarnya itu.

Fauzi, penerus bedug Purworejo
Fauzi, penerus pembuat bedug kayu . (Sarwo Sembada/Mojok.co)

Yang jelas, kata Fauzi, bedug produksi Desa Kroyo dikenal memiliki suara lantang dan gema yang bagus, sehingga kesohor ke berbagai daerah, bahkan di mancanegara. Banyak takmir masjid yang memintanya membuat bedug. Setelah sukses, H Chudori pun mewariskan kemampuannya kepada anak-anaknya.

Tokoh muslim ini menjadi maestro bedug kayu utuh dari Purworejo yang dikenal seantero negeri. Ditanya alasan leluhurnya membuat bedug kayu utuh, Fauzi menjelaskan jika ayahnya patut diduga terinspirasi dengan Bedug Pendowo, bedug terbesar sejagat raya milik di Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo. “Bedug Pendowo terbuat dari kayu jati gelondongan, ukurannya raksasa dengan diameter 194 cm dan 180 cm,” terang Fauzi.

Bedug Pendowo yang terbuat dari kayu jati utuh dengan ukuran raksasa itu tidak ada duanya di bumi. Dibuat sekitar tahun 1800-an oleh pemahat ulung dengan melubangi bagian tengah kayu dan menghaluskan sisi luarnya. 

Kisah bedug terbesar ini diduga menginspirasi H Chudori untuk meneruskan tradisi. “Sejak dulu ayah memang membuat dari bahan kayu utuh, atau kayu gelondongan yang dilubangi pada bagian tengahnya,” ungkapnya.

Fauzi dan adiknya, Taufik, pun diwarisi kemampuan membuat bedug dari kayu utuh. Usaha itu pun langgeng hingga sekarang, dan pasti sampai besok-besok juga.

Sebagai pewaris, tradisi menggunakan kayu utuh terus dipertahankan. Bahan kayu utuh, dinilai Fauzi, memberikan kualitas yang lebih baik. “Bunyi yang dihasilkan memiliki resonansi yang panjang, dengung dan gemanya lebih terasa, suaranya terasa lebih ngebas,” katanya.

Bedug kayu utuh dibuat dengan memotong kayu gelondongan pada ukuran tertentu, kemudian dipahat menjadi berbentuk tabung. Bagian dalam kayu dikeruk dan sisi luarnya diperhalus. Perajin membuat lubang kecil sebagai saluran sirkulasi udara.

Bahan bedug kayu yang mulai diolah. (Sarwo Sembada/Mojok.co)

Bedug menggunakan kulit sapi yang dipasang pada tubuh bedug menggunakan paku kayu. “Untuk bahan tubuh bedug sendiri kami biasanya pakai kayu trembesi atau disebut juga Pohon Munggur, juga bisa gunakan kayu albasia dan mahoni,” ujarnya.

Ratusan bedug dari kayu utuh sudah dibuat sejak era H Chudori masih sehat, hingga pewarisnya sekarang, Fauzi. Bedug-bedug itu mengisi serambi masjid di berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang ‘terbang’ mengisi masjid di Malaysia.

Kayu utuh dan upaya konservasi

Satu fakta yang disampaikan Fauzi bahwa pada saat ia masih belajar membuat bedug sekitar dekade 1990-an, atau ditarik lebih jauh lagi ketika H Chudori memiliki fisik prima dan sedang moncer-moncernya menjalankan usaha, bedug buatannya banyak yang berukuran besar. Diameter lebih dari satu meter.

Namun, memasuki era milenium ketiga, kondisi perlahan mulai berubah. Kayu berukuran raksasa dengan lilitan pangkal batang minimal tiga meter, semakin sulit didapat. Kayu berukuran super itu sudah banyak yang ditebang. Tapi, Fauzi membantah usaha yang menghabiskan kayu langka itu.

Usaha keluarganya tidak rakus kayu gelondongan. Fauzi mengaku tidak berani menyimpan stok kayu gelondongan dalam jumlah banyak dan tempo yang lama. Sebab, kayu berpotensi lapuk dan rusak. “Jadi saya baru cari kalau stok sudah habis, itu kadang butuh waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan, tergantung pesanan yang masuk,” tuturnya.

Apalagi, Fauzi juga tidak asal tebang pohon raksasa. Biasanya, pemilik pohon mau menjual dan meminta ditebang karena pohon tersebut dinilai mengganggu lingkungan. Bisa juga karena masyarakat ingin membangun kawasan di bawah pohon tersebut.

“Sebelum tebang, saya pastikan dulu pohonnya, keberadaannya, alasan mengapa ditebang. Jadi jangan sampai setelah pohon ditebang, justru kami yang kena masalah,” ujarnya.

Lantas adakah usaha perkayuan yang membutuhkan kayu gelondongan berukuran super? Jelas ada, yakni industri kriya dan mebeler. “Mereka butuh kayu besar misalnya untuk membuat meja dari papan kayu utuh. Putaran bisnis usaha ini memang besar dan nilainya menggiurkan, sehingga kebutuhan kayu pun banyak,” paparnya.

Perajin di Desa Kroyo Gebang Purworejo menghaluskan tubuh bedug kayu. (Sarwo Sambada/Mojok.co)

Kayu berukuran raksasa pun semakin langka. Mengapa? Sebab untuk menumbuhkan pohon hingga memiliki lingkar batang tiga meter, dibutuhkan waktu ratusan tahun. Apa Fauzi diam saja dengan fakta itu? Tentu saja tidak, ia turut melakukan upaya konservasi. Fauzi biasanya memberikan bibit tanaman kepada pemilik pohon yang ia beli dan tebang. Bibit yang diberikan bisa sejenis dengan pohon yang ditebang, bisa juga berbeda sesuai dengan permintaan pemilik.

Konon, keberadaan bedug di Indonesia tak lepas dari sosok Laksamana Cheng Ho yang datang ke Nusantara. Setibanya di pelabuhan, Cheng Ho yang jadi duta perdamaian mengatur pasukannya dengan membunyikan tambur. Saat akan kembali ke negerinya, Cheng Ho memenuhi permintaan raja di Semarang untuk membunyikan tambur di masjid. Tambur yang biasa digunakan saat perang itu lah yang kemudian diaplikasikan di masjid-masjid yang kemudian disebut bedug. 

Menanam pohon untuk anak cucu

“Duk…duk…duk…duk,” bedug Masjid Al Muttaqin masih saja bertalu ketika langkah kaki mulai menjauh dari kerumunan jemaah. Sambil menerawang dan berharap semoga senantiasa diberi kesarasan sehingga bisa bertemu lagi dengan Ramadan berikutnya.

“Saya berjalan semakin jauh dari masjid, menyeberang Jalan Katamso Purworejo, masuk ke dalam gang arah rumah, sudah lebih dari 100 meter, tapi suara itu terus terdengar. Semakin melirih, tapi tetap terdengar.

Suara semakin lirih, tak berarti bisnis bedug Fauzi semakin surut. Kesulitan mencari kayu berukuran besar tidak jadi kendala usaha. Ya, Fauzi memikirkan cara.

Ia sudah membayangkan jika suatu saat kelak, kayu raksasa akan hilang dari peredaran alias punah. Sebab pasti laju kebutuhan tidak sebanding dengan daya tumbuh pohon hingga memiliki ukuran besar di luar kebiasaan. “Paling yang akan kami terapkan kelak adalah membuat bedug dari papan kayu. Sekarang juga sudah ada yang produksi di Indonesia,” terangnya.

Strategi itu akan diterapkan sembari menunggu bibit yang ditanam, tumbuh menjadi pohon raksasa dengan lingkar batang lebih dari tiga meter. Siklus kehidupan pohon yang nyatanya memang butuh waktu ratusan tahun. Setidaknya 300 tahun lagi atau 109.500 hari setelah tanam (HST).

Apa Fauzi menyesal tidak bisa memanen bibit yang ia tanam? Tidak! “Kalau pohonnya kelak besar, biar anak cucu kita yang menikmatinya, bukan saya, ya tidak apa-apa. Paling penting sekarang kami berusaha sebisanya menjaga lingkungan tetap lestari,” tegasnya.

Jika suatu saat dalam waktu dekat pohon raksasa itu benar-benar langka, Fauzi sudah punya siasat. Ia akan tetap berjuang menjaga asa usaha bedug H Chudori tetap menyala. Sebab kayaknya tidak mungkin jika tubuh bedug diganti tabung plastik. Pasti suara yang terdengar tidak berwibawa seperti sekarang.

Apalagi kalau sampai bunyinya berubah menjadi “Tung…tung…tung…tung,” kan enggak lucu maseeh!

 

Reporter: Sarwa Sambada
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Yang Tidak Boleh Diungkap dari Makam Sunan Langgar dan liputan menarik lainnya di Susul.

Exit mobile version